365 Days With You

365 Days With You
Kejadian tak terlupakan


__ADS_3

Sosok wanita yang saat ini baru saja turun dari mobil begitu tiba di perusahaan, kini berjalan menuju ke arah lift khusus petinggi perusahaan dan langsung menuju ke ruangan kerja.


Ia saat ini menghubungi asisten pribadi suaminya agar segera datang ke ruangannya karena ingin membicarakan sesuatu hal mengenai kecelakaan tadi.


Wanita cantik tak lain adalah Anna Maria tersebut berdiri di dekat jendela kaca raksasa dan menatap ke arah lalu lalang kendaraan yang melintas dan jelas terlihat dari atas gedung perusahaan.


Ia mengingat mengenai kejadian kecelakaan yang membuatnya harus terlibat dengan korban yang entah meninggal atau masih hidup.


"Kasihan sekali jika sampai pria itu memiliki anak dan istri yang menunggu di rumah. Apalagi jika sampai terjadi sesuatu hal yang buruk pada pria itu, pasti akan membuat istrinya janda dan anaknya menjadi yatim."


Ana saat ini terdiam dan tengah memikirkan sesuatu yang akan dilakukannya hari ini sepulang dari kantor.


Hingga beberapa saat kemudian mendengar suara ketukan pintu dan terlihat pria dengan tubuh proporsional masuk ke dalam ruangan kerja dan menyapa dengan membungkuk hormat padanya.


"Apa ada yang Anda butuhkan, Nona Ana?" Seharusnya Vicky memanggil nyonya pada wanita yang ia ketahui jauh lebih tua darinya dan sudah menikah cukup lama.


Namun, ketika pertama kali bertemu dengan istri dari bosnya tersebut, tidak suka dipanggil nyonya dan akhirnya membuatnya terbiasa dengan sebutan nona setelah beberapa tahun bekerja di perusahaan pria yang telah menolongnya.


Hingga ia pun bekerja untuk wanita itu jika bosnya dalam perjalanan bisnis ke luar negeri karena memang sudah mengepakkan sayap di beberapa negara.


Ana saat ini menatap ke arah asisten pribadinya tersebut. "Aku tidak ingin kamu mengatakan pada suamiku jika hari ini mengalami kecelakaan. Pasti ia akan merasa sangat khawatir dan berpikir macam-macam padaku. Padahal aku sama sekali tidak apa-apa."


Ia memang mengetahui jika sang suami selalu saja berlebihan jika terjadi sesuatu padanya, meskipun itu hanyalah sebuah hal-hal kecil semata, tetapi selalu bereaksi yang terlalu.


"Aku dari semalam tidak menelponnya untuk bertanya keadaannya. Pasti ia sangat sibuk karena belum sempat mengirimkan pesan padaku seperti biasanya dan aku tidak ingin mengganggunya." Ana sebenarnya sangat merindukan sang suami yang sudah 4 hari pergi.


Namun, berusaha tidak berlebihan dan membuat sang suami fokus bekerja agar bisa segera kembali. Ia sebenarnya dari dulu tidak pernah suka suami melakukan perjalanan bisnis di luar negeri, tapi mengetahui bahwa itu merupakan sebuah kesuksesan besar, tidak ingin menghalangi puncak karir pria yang sangat dicintainya.


Bahkan ia merasa sangat beruntung dicintai teramat besar oleh sang suami karena sampai sekarang tidak mempermasalahkan ataupun marah padanya mengenai masalah keturunan.


Apalagi selalu bersabar dan berbicara untuk membesarkan hatinya agar terus berusaha dan berdoa tanpa kenal lelah. Bahkan sampai mengatakan jika mereka memang belum dipercayai oleh Tuhan untuk diberikan momongan.


"Saat suamiku berkonsentrasi dengan pekerjaan, aku tidak ingin membuatnya terganggu hanya dengan sebuah kecelakaan kecil. Jadi, jangan sampai ia tahu mengenai kecelakaan hari ini." Ana saat ini mengambil ponsel miliknya yang berada di atas meja dan langsung mentransfer sejumlah uang.


"Aku sudah mentransfer sejumlah uang untuk pria yang kecelakaan itu. Bisa digunakan untuk membayar biaya rumah sakit dan juga untuk keluarganya. Namun, kamu pastikan terlebih terlebih dahulu mengenai semua hal yang berhubungan dengan pria itu."

__ADS_1


Ana kini mendaratkan tubuhnya di kursi kebesarannya untuk membuka dokumen yang sudah standby di sana untuk diperiksa dan ditandatangani.


Sementara itu di sisi lain, Vicky yang saat ini tengah berdiri tak jauh dari meja kerja wanita dengan paras cantik dan seksi tersebut, langsung membungkuk hormat.


"Siap, Nona. Saya akan mengurus semuanya. Oh iya, berarti Anda tidak jadi datang ke sana, kan?" tanya Vicky yang ingin memastikan sesuatu yang mengganjal dari tadi di pikirannya dan membuatnya khawatir dengan bos yang saat ini sibuk merawat istri kedua yang baru saja dinikahi.


'Bagaimana aku merahasiakan kecelakaan hari ini pada tuan Christian jika tiba-tiba mereka bertemu di rumah sakit. Yang ada, aku bisa langsung ke surga gara-gara dihabisi oleh tuan Christian.'


Apalagi ia tadi sudah langsung mengirimkan pesan pada atasannya untuk waspada agar tidak berkeliaran di sekitar area rumah sakit. Jika bosnya hanya berada di dalam ruangan, sudah dipastikan akan aman dan tidak akan bertemu dengan orang-orang yang mengenalnya.


Hingga ia merasa seperti seorang penjahat di depan wanita cantik yang terlihat sangat baik hati serta polos karena tidak tahu mengenai perihal sang suami yang sudah menikah lagi secara diam-diam.


'Aku saja yang mengetahui semua cerita dari mereka, sangat pusing. Apalagi tuan Christian yang menjalaninya. Masalah yang disembunyikan ini, lama-lama akan menjadi bola salju dan pastinya akan menyakiti mereka semua.' Vicky benar-benar malas memikirkan ending dari nasib bosnya, tapi tetap saja tidak bisa membuang dari pikirannya.


Ana yang saat ini menandatangani dokumen, mengangkat pandangan dan melihat asistennya. "Tentu saja aku akan ke rumah sakit untuk melihatnya secara langsung sebagai bentuk pertanggungjawaban dan atas dasar perikemanusiaan."


"Kenapa memangnya? Nanti tunggu aku karena akan membawa mobil ke bengkel, jadi nanti berangkat bersamamu dari sana. Aku akan pulang naik taksi dari rumah sakit." Ana tidak ingin mendengar kabar miring mengenai kedekatannya dengan Vicky.


Ia bahkan saat ini berpikir jika menyuruh Vicky mengantarnya pulang ke rumah, akan ada banyak tetangga kompleks perumahan mewah yang menjadi tempat tinggalnya dipenuhi dengan gosip ia berselingkuh.


Sementara itu, Vicky saat ini hanya menelan ludah dengan kasar karena jujur saja malah ia yang gugup jika sampai atasannya ketahuan berselingkuh.


Baiklah. Saya akan kembali ke ruangan kerja, Nona Ana." Kemudian melanjutkan umpatannya di dalam hati untuk menyadarkannya agar tidak berbuat mencurigakan di depan mata wanita itu.


'Jangan sampai kau membuat nona Ana merasa curiga. Bisa-bisa nanti diintrogasi lebih jauh,' gumam Vicky yang kini membungkuk hormat dan beranjak dari ruangan.


Ana yang masih melihat siluet belakang Vicky, kini kembali menatap ke arah dokumen yang ada di atas meja begitu pintu tertutup. Ia terdiam sejenak dan mengingat ada sesuatu yang terlupakan.


Refleks ia menepuk jidat dan mengumpat beberapa kali. "Kenapa aku melupakan sesuatu hal yang penting? Tadi aku memanggilnya ke sini untuk bertanya apakah suamiku menelponnya semalam?"


"Jika sempat menghubungi Vicky, mana mungkin tidak sempat menghubungiku? Atau ia sama sekali tidak dihubungi oleh suamiku yang sepertinya sangat sibuk hingga sampai jam segini belum menelpon untuk mengucapkan selamat pagi." Ana saat ini bangkit berdiri dari kursi karena berniat untuk pergi ke ruangan Vicky.


Meskipun yang ditanyakannya adalah sebuah hal kecil, tapi menurutnya sangat berarti karena merasa khawatir jika sang suami mulai berubah sikap padanya.


Apalagi cobaan pernikahan yang mereka hadapi bukanlah mudah. Ia bahkan mengingat kejadian kemarin saat ibu mertuanya datang ke kantor dan berbicara empat mata dengannya.

__ADS_1


Bahkan kata-kata dari mertuanya sampai saat ini seolah terngiang-ngiang di telinga dan mungkin sampai mati pun tidak akan pernah ia lupakan.


Ana, ceraikan Christian! Ia tidak akan pernah mau menikah lagi dengan wanita lain karena berpikir akan menyakitimu. Mama ingin segera menimang cucu di sisa usia yang mungkin sudah tidak lama lagi. Christian adalah anak tunggal dan harus meneruskan garis keturunan di keluarga Raphael.


Saat Ana mendengar perkataan itu dari mertuanya, ia benar-benar merasa dunianya hancur seketika karena tidak akan pernah bisa hidup tanpa Christian jika bercerai karena sangat mencintai suaminya.


Apalagi hubungan mereka bukanlah hitungan satu atau dua tahun, tapi lebih dari 10 tahun dan pastinya meninggalkan jejak mendalam di hati. Apalagi sudah mencari hubungan semenjak awal kuliah dan berjanji untuk saling setia.


"Tega-teganya mama berbicara seperti itu padaku tanpa memikirkan bagaimana perasaanku jika sampai berpisah dengan suami yang kucintai." Ana saat ini mengembuskan napas kasar ketika hendak keluar dari ruangan kerja.


Ia sebenarnya lebih tertekan karena dari dulu berjuang untuk bisa memberikan keturunan pada sang suami. Bahkan sudah berusaha untuk ikut program hamil berkali-kali, tapi tetap saja hasilnya nihil.


Hingga menyuruh sang suami untuk mengadopsi anak dari panti asuhan agar bisa memancing ia hamil seperti yang dikatakan oleh beberapa orang yang sempat melakukannya.


Namun, sang suami sama sekali tidak tertarik untuk memenuhi keinginannya. Hingga ia membicarakan mengenai menyewa rahim wanita agar Christian bisa mendapatkan keturunan tanpa menceraikannya, tapi sang suami juga tidak bersedia dan berpikir jika itu melakukan dosa.


Apalagi terkesan memanfaatkan seorang wanita untuk hamil benih suaminya dan sang suami belum menyetujui idenya.


"Sampai kapan pun aku tidak akan pernah bercerai dengan Christian karena sangat mencintainya. Aku akan melakukan apapun agar keturunan keluarga Raphael tetap berjalan meskipun bukan berasal dari rahimku."


"Aku sendiri yang akan mencari wanita untuk hamil benih suamiku. Karena harus berhati-hati saat ada banyak wanita yang mengincar suamiku." Ana saat ini mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.


"Tidak ada wanita yang bisa menolak pria yang memiliki segalanya?" Ana berpikir harus tetap waspada meskipun ia sendiri yang akan mencari sosok wanita untuk hamil benih sang suami karena tidak ingin rumah tangga yang sudah dibina lama hancur.


Hal yang diinginkan hanyalah mendapatkan rahim untuk menitipkan benih suami agar meneruskan garis keturunan tanpa ia harus bercerai seperti permintaan dari mertuanya.


Bahkan setelah mengatakan itu, ibu mertuanya melarangnya untuk mengatakan pada Christian dengan alasan jika sang suami pasti akan terpuruk dan bersedih karena sang ibu memberikan sebuah ancaman padanya.


Ana mengembuskan napas kasar dan memilih untuk melupakan kejadian kemarin dan kini berjalan menuju ke arah ruangan asisten pribadi suaminya yang ada di sebelah kiri.


Saat ia hendak mengetuk pintu, mendengar suara Vicky dari dalam yang seperti tengah berbicara di telpon. "Ia sedang berbicara dengan siapa?"


Ana berniat untuk mendengarkan di depan pintu, tapi berpikir jika itu merupakan sebuah hal yang sangat konyol, sehingga langsung masuk tanpa mengetuk pintu.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2