365 Days With You

365 Days With You
Beruntung


__ADS_3

Setelah mencari tempat yang sekiranya aman, kini Christian menatap ke arah sang ayah yang berdiri di dekat asisten pribadinya


"Jadi, Papa tidak boleh menceritakan pada mama. Karena aku tidak mau Ana terluka jika sampai tahu dari mama." Christian kini tidak perduli tanggapan buruk dari sang ayah karena ia hafal dengan pria baruh baya tersebut.


"Sekarang katakan pada Papa, apa maksudmu melakukan semua ini? Tadi Vicky sudah menjelaskan garis besarnya, tapi tetap saja ingin memastikan sendiri saat melihat mengambil keputusan besar seperti ini."


"Seharusnya kamu tidak membuat hidupmu rumit, Christian. Bukankah kamu bisa saja menceraikan Ana jika ingin menikah lagi?" tanya Laymar yang kini berada di salah satu ruang istirahat."


"Aku sangat mencintai Ana dan kupastikan tidak akan pernah membuangnya karena tidak kunjung hamil. Aku harap Papa bisa mengerti keputusanku."


Kemudian Cristian menjelaskan semua hal yang berhubungan dengan pekerjaan karena akan meminta bantuan dari sang ayah. Ia mengatakan akan terus berusaha agar tidak sampai ketahuan oleh sang istri sah.

__ADS_1


"Jadi, seperti itu ceritanya, Pa. Apa Papa mau membantuku untuk mengurus usahaku yang baru dirintis di New York? Bukan untuk acara-acara sok-sokan, tapi ini adalah kesempatan untuk kedua kalinya untukku dan itu sangat berat, Pa."


Christian akan langsung membawa Laura hari ini setelah sang ayah menyetujui idenya. Bahkan berpikir ingin tinggal di kota Bandung yang akan mengukir cintanya bersama dengan Laura.


"Bagaimana, Pa?" tanya Christian sekali lagi dengan perasaan berkecamuk karena khawatir jika sang ayah marah dan sesuka hati dengan keputusannya.


Bahkan ia melirik ke arah asisten pribadinya sambil memberikan kode melalui sebuah kerlingan mata. Hingga jawaban sang asisten malah membuatnya kesal karena hanya mengendikkan bahu.


Seolah tidak ingin menambah rasa kesal, kini Vicky menyatukan telapak tangan sebagai permohonan maaf meskipun sama sekali tidak takut, tapi tidak berani karena ragu bercerita.


Christian sama sekali tidak memperdulikan apapun karena ia mulai ragu. "Awas saja jika sampai ini tercium awak berita, lebih baik jangan membuatnya merasa tidak berguna sampai akhir?"

__ADS_1


Hingga saat ia baru saja menutup mulut, kini tidak kuasa pergi karena ada banyak hal yang dilakukan oleh ayahnya.


Setelah mempertimbangkan matang-matang, kini pria paruh tersebut geleng-geleng kepala melihat sosok pria yang ada di hadapannya.


"Demi garis keturunan keluarga kita, Papa akan melakukan apapun untukmu, Christian. Apa Papa bisa menemui wanita bernama Laura itu?" Kemudian ia berniat untuk pergi sekarang, tapi yang terjadi malah mendapatkan sebuah gelengan kepala yang berarti sebuah penolakan.


"Tidak, Pa karena aku tidak ingin Laura terpancing dengan godaan pria lain yang tampan. Istriku butuh waktu untuk memulihkan kesehatannya, Pa. Aku harap Papa bersabar. Aku pun tengah bingung dan tidak akan bisa menjawab pertanyaan macam-macam dari Laura karena tidak bisa berbohong."


Kemudian ia langsung memeluk sang ayah yang diharapkan selalu mengerti dan bersikap bijak selamanya. "Terima kasih, Pa. Aku tidak tahu harus berbuat apa jika tanpa Papa."


Kemudian ia melepaskan pelukan dan membuatnya berpamitan pergi. "Aku harus pergi, Pa. Bukankah Papa harus berangkat bekerja?"

__ADS_1


Pria paruh baya tersebut kini mengangguk perlahan dan mengajak Vicky meninggalkan putranya. Meskipun sebenarnya ia ingin tahu seperti apa sosok wanita yang dinikahi putranya, tapi memilih untuk bersabar.


To be continued...


__ADS_2