
Beberapa saat yang lalu, Christian yang menelpon asisten pribadinya dengan perasaan berkecamuk, mendengar suara dari seberang telpon dan ia memasang indra pendengaran lebar-lebar.
"Saya tidak tahu apa yang sedang dilakukan nona Ana di ruangan Anda, Presdir. Tadi hanya menyapa sebentar dan kembali bekerja. Katanya, nona Ana ingin bersantai di ruangan Anda sambil memeriksa pekerjaan di laptop." Vicky yang saat ini merasa sangat heran pada bosnya yang terdengar aneh, tetap menjawab sesuai dengan apa yang diketahuinya.
'Sebenarnya apa yang terjadi pada tuan Christian? Kenapa mencurigakan sekali dan terdengar gusar?' gumam Vicky yang kini makin bingung kala mendapatkan sebuah perintah dari bosnya.
Christian yang makin membulatkan kedua mata kala ia berpikir jika Ana akan mengetahui rahasianya dan pasti mendapatkan sebuah kemurkaan, seketika berbicara dengan suara tegas ketika memberikan titahnya.
"Cepat ajak istriku keluar dari ruanganku! Tunjukkan apa kek untuk membuatnya tidak melanjutkan menyentuh laptopku!" sahut Christian dengan makin menambah kecepatan agar ia bisa segera tiba di perusahaan.
Sementara itu, Vicky yang saat ini tidak mau bertanya banyak, akhirnya menanyakan alasan apa yang akan digunakan untuk membuat wanita secerdas dan selalu penuh kecurigaan seperti Aja keluar dari ruangan.
"Anda tahu sendiri jika nona Ana tidak mungkin mau keluar tanpa keinginannya sendiri. Lalu, bagaimana saya membawanya keluar?" Ia yang baru saja menutup mulut, kini mulai mengerti begitu suara teriakan penuh amarah menusuk indra pendengarannya. Bahkan ia sampai menjauhkan dari telinganya.
"Dasar bodoh! Lakukan apapun sesukamu. Jika kau berhasil melakukannya, aku akan memberikan bonus bulan ini! Kau tahu, di laptop itu ada foto-foto kebersamaanku dengan Laura!" umpat Christian yang kini makin merasa seperti pepatah 'Telur di ujung tanduk'.
Vicky yang kini membulatkan mata karena selama ini berpikir jika bosnya sudah menghapus semua kenangan dengan Laura karena memilih kembali pada sang istri, seketika menepuk jidat.
Refleks ia langsung bangkit berdiri dari posisinya dan menyahut, "Kalau begitu, saya tutup teleponnya dulu, Tuan Christian. Saya tiba-tiba mendapat sebuah ide untuk membuat nona Ana tidak melanjutkan memeriksa laptop Anda. Semoga belum terlambat!"
Christian yang saat ini merasa sangat lega karena sang asisten selalu bisa diandalkan, seketika mematikan sambungan telpon setelah sebelumnya menanggapi.
__ADS_1
"Kuserahkan hidupku padamu!" Christian yang kini sudah kembali fokus mengemudi, menginjak pedal gas agar bisa segera tiba di kantor.
Ia yang baru saja melirik sekilas pada spion, memicingkan mata begitu melihat mobil berwarna hitam ada di belakangnya. Meskipun tidak terlalu dekat, ia merasa curiga jika mobilnya tengah diikuti.
"Siapa pengemudi mobil itu? Apa dia adalah orang-orang suruhan si berengsek Andika Syaputra?" seru Christian yang kini tidak mau ambil pusing karena berpikir jika ada yang jauh lebih penting dari memikirkan penguntit tersebut.
"Ana, semoga dia tidak mengetahui jika aku masih menyimpan foto kenangan bersama Laura. Ada banyak sekali momen-momen di antara kami yang tidak pernah bisa kulupakan dan kubuang begitu saja. Aku ingin menjaga perasaan Ana dan jangan sampai usahaku sia-sia."
Christian yang masih memikirkan tentang ulahnya ketahuan atau tidak, berbeda dengan suasana di sebuah ruangan yang tak lain menjadi tempat bekerja sang asisten.
Vicky yang baru saja keluar dari ruangan kerja, buru-buru berjalan menuju ke ruangan Ana. Ia bahkan tadi langsung membawa dokumen yang tadi belum selesai diperiksanya dan mengetuk pintu ruangan CEO.
Saat terdengar suara wanita dari dalam, ia buru-buru membuka pintu dan seperti yang sudah diperkirakan, jika istri dari bosnya kini tengah duduk di kursi kebesaran pemimpin perusahaan dan membuatnya berpikir jika sesuatu hal buruk benar-benar akan terjadi kala wanita itu melihat sesuatu yang disembunyikan sang suami.
Vicky yang baru saja menutup mulut, bisa melihat seriusnya wanita di balik layar laptop itu. 'Apa yang sedang dilihat nona Ana sekarang? Bahkan ia terlihat sangat serius menatap laptop tuan Christian. Aku jadi ikut khawatir ini jika sampai rahasia tuan Christian terbongkar.'
Vicky saat ini masih berdiri di depan meja Ana dan menunggu wanita yang baru saja membuka suara dan berbicara singkat itu. Bahkan degup jantungnya berdetak makin kencang saat apa yang ditakutkan terjadi.
"Sebentar, aku tengah melihat sesuatu yang menarik di laptop suamiku." Ana yang baru saja membuka laptop suami karena tadi begitu tiba di ruangan yang sudah lama ditinggalkan, sibuk keluar masuk toilet karena sakit perut.
Ia tidak tahu apa yang terjadi pada perutnya dan berpikir salah makan, sehingga seperti dikuras habis dan membuatnya berpikir jika ada sesuatu yang membahayakan dikonsumsi.
__ADS_1
Nanti saat pulang hendak bertanya pada pelayan dan setelah merasa keadaannya jauh lebih baik, ia yang bosan diam di ruangan kerja itu, langsung membuka laptop sang suami.
Namun, baru beberapa menit berlalu, sudah diganggu oleh Vicky yang tumben meminta bantuan karena biasanya selama ini selalu beres memeriksa sendiri, baru diserahkan padanya.
Kini, ia masih menatap layar laptop dan kemudian beralih pada sang asisten yang masih dengan sabar menunggunya. "Tunjukkan padaku!"
Vicky langsung bergerak maju dan memberikan dokumen di tangannya pada sosok wanita yang duduk di kursi tersebut. "Saya merasa perusahaan akan makin mengalami kerugian begitu melihat laporan dari pihak akuntan, Nona Ana. Apakah Anda juga sependapat dengan saya?"
Vicky saat ini terpaksa menyelamatkan bosnya dengan menunjukkan kekurangan pria itu yang sebenarnya memakai uang perusahaan untuk membeli saham 5 persen dari Perusahaan Prameswari Grup.
Hanya itulah satu-satunya cara yang akan menarik wanita di hadapannya agar tidak kembali fokus pada laptop yang menyimpan sebuah rahasia besar dan ia merasa sangat lega kala Ana kini sudah fokus pada dokumen di atas meja yang baru saja ditunjukkan.
"Ini?" Ana tidak melanjutkan perkataannya karena sudah tahu masalah besar yang dialami perusahaan.
Apalagi mengetahui jika semalam pria itu menjawab pertanyaan darinya, meskipun setelahnya bertengkar dengan sang suami. "Jadi, suamiku benar-benar membahayakan perusahaan hanya demi ambisinya untuk merambah bisnis properti?"
"Ia bahkan tidak mengizinkanku membantu, tapi membuat perusahaan kita menuju kebangkrutan jika ini dibiarkan. Uang perusahaan tidak boleh digunakan untuk kepentingan pribadi!" Ana yang saat ini merasa jika sesuatu yang terjadi di perusahaan adalah sebuah hal urgent dan harus segera diselesaikan.
Apalagi saat ini keuntungan dari perusahaan makin menurun karena makin banyak saingan yang memperkenalkan produk dengan harga dibawah rata-rata.
Saat ia baru saja menutup mulut, mendengar pintu yang tiba-tiba terbuka dan suara bariton dari sosok pria yang baru masuk dengan wajah memerah dan deru napas memburu seperti orang yang baru saja berlarian.
__ADS_1
"Sayang!"
To be continued...