
Christian terdiam begitu Laura tertidur dan ia merasa bahwa saat ini hatinya tidak bisa dikendalikan. Ia merasa bahwa saat ini ingin memiliki Laura dan tidak membiarkan pria lain memiliki wanita muda, polos dan cantik itu.
Namun, menyadari bahwa keserakahannya akan membuat sang istri tersakiti. Christian saat ini beberapa kali mengepalkan tangan untuk mencoba menyadarkan diri bahwa apa yang dipikirkan saat ini salah.
'Sadarlah, Christian! Kamu tidak boleh menyakiti hati wanita yang sangat kamu cintai. Bukankah kalian sudah berjanji akan selamanya bersama sampai ajal menjemput? Ingatlah saat ketika kamu mengejar Ana dan memperjuangkan cintamu.'
Christian saat ini mencoba untuk mengendalikan hati agar tidak sepenuhnya tertuju pada wanita yang tertidur di pundaknya tersebut. Bahwa ada sang istri yang sangat membutuhkannya.
Apalagi selama ini mendapatkan banyak hujatan dari sanak saudara serta orang tuanya karena tidak kunjung hamil setelah 10 tahun pernikahan. Ia ingin sekali menyalahkan takdir, kenapa istri tidak kunjung hamil juga.
Padahal ia dan Ana sudah berusaha, tapi sampai sekarang tidak membuahkan hasil. Jika ia merasa sangat frustasi dan berpikir bahwa sang istri jauh lebih putus asa karena sudah melakukan segala cara untuk bisa hamil.
Mulai dari program kehamilan dengan dokter terbaik, mengkonsumsi makanan dan minuman yang memicu kehamilan serta pergi ke tukang pijat yang bisa membuat hamil.
'Apa yang harus kulakukan agar semua orang tidak terluka hanya gara-gara kami belum mempunyai keturunan?' Christian saat ini berusaha untuk berpikir jernih agar tidak masuk ke jalan yang salah, seperti berselingkuh dengan wanita lain hanya demi mendapatkan seorang anak.
Hingga ia berpikir sesuatu hal yang pernah dikatakan oleh Ana mengenai ide untuk menyewa rahim seorang wanita agar bersedia mengandung benihnya.
'Apa ide Ana masih berlaku? Jika masih, aku hanya ingin Laura yang hamil benihku. Bukan wanita lain, tapi Laura masih sangat muda dan ia tidak ingin punya anak. Apalagi ia mengatakan mempunyai harapan dan impian yang harus diraih begitu kembali ke Jakarta.'
__ADS_1
Christian benar-benar merasa sangat bersalah pada Laura jika sampai berniat untuk meminta hamil benihnya. Ia saat ini benar-benar merasa pusing dan frustasi karena bingung harus melakukan apa.
Antara keinginan orang tuanya yang ingin segera menimang cucu serta menjaga perasaan sang istri yang sangat dicintai, hingga perasaannya yang jujur saja juga ingin segera memiliki seorang anak.
Hingga ia memejamkan mata untuk menenangkan pikiran dan berharap bisa tidur nyenyak seperti Laura. Namun, meskipun sudah beberapa menit berlalu, tetap saja ia tidak bisa melakukannya.
Akhirnya ia memilih untuk menatap wajah damai sosok wanita yang tidur di pundaknya dan membuat sudut bibirnya melengkung ke atas. Ia bahkan merapikan anak rambut yang menutupi wajah cantik itu.
"Kamu pasti sangat lelah, Laura. Hingga tertidur pulas seperti ini. Padahal tadi kamu melarangku agar tidak tidur dan kita berbicara sepuasnya untuk lebih mengenal satu sama lain, tapi ternyata kamulah yang mengingkarinya dan membiarkanku sendiri."
Sebenarnya Christian ingin sekali mengambil gambar Laura sebagai kenang-kenangan jika nanti tidak bisa bertemu lagi, tapi sadar bahwa itu tidak bisa dilakukannya karena sang istri selalu mengecek ponselnya setiap kali santai di rumah.
Itu karena sang istri selalu takut ia berselingkuh hanya demi mendapatkan keturunan. Jadi, Ana selalu curiga padanya dan tidak pernah melewatkan untuk mengecek ponselnya. Apalagi setelah ia pulang dari perjalanan bisnis di luar negeri.
Hal pertama yang dilakukan Ana bukanlah meminta oleh-oleh dengan membuka koper yang dibawa, tapi langsung meminta ponselnya untuk mengecek apakah ada nomor orang baru yang tidak diketahuinya.
Jadi, meskipun besar keinginannya untuk bisa memiliki foto Laura yang cantik saat berada di pundaknya ketika tertidur, tidak mungkin melakukannya karena saat ini hal yang dipikirkan adalah menjaga perasaan sang istri.
Embusan napas kasar dari Christian yang seolah mewakili perasaannya yang kalang kabut hanya setelah bertemu dengan Laura. Ia saat ini mengedarkan pandangan ke sekeliling dan melihat Laura yang sudah tertidur pulas, sedangkan ia masih tidak bisa melakukannya.
__ADS_1
Akhirnya Christian memilih untuk menggenggam erat telapak tangan Laura agar menyatu dan menikmati kebersamaan yang tidak mungkin terulang di antara mereka.
'Berikan jalan yang terbaik untuk kami, Ya Allah. Aku tidak ingin menyakiti Ana yang sangat membutuhkan perhatianku. Namun, aku juga tidak rela Laura dimiliki oleh pria lain. Apa yang harus kulakukan?'
Christian sadar bahwa permohonannya sangat konyol. Ia tahu tidak mungkin ia bisa menjaga dua hati di saat bersamaan karena pasti salah satunya akan terluka. Ia tahu bahwa saat ini harus memilih salah satu hati yang dipatahkan, tapi tidak ingin keduanya merasakannya.
'Biarkan waktu yang menjawab semuanya, Christian karena hanya Tuhan yang berkuasa untuk membolak-balikkan hati manusia, termasuk dirimu.'
Beberapa kali ia mengusap lembut punggung tangan dengan jemari lentik itu dengan tujuan untuk mencoba menenangkan hatinya yang gundah gulana.
Ia menyadari bahwa selama ini tidak pernah tertarik pada wanita manapun meskipun sangat cantik dan seksi.
Apalagi selalu dikelilingi oleh para wanita hebat saat dalam perjalanan bisnis.
Namun, tidak ada satupun yang menggoyahkan hatinya untuk berpaling dari Ana. Namun, ia tidak menyangka dengan mudahnya Laura menggoyahkan hatinya hingga seperti ini.
'Ana, aku akan selalu mencintaimu. Laura, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada kita dan jika sampai melihatmu bersama dengan pria lain, apakah bisa merelakannya?' gumam Christian yang saat ini berpikir bahwa ia harus merelakan Laura setelah turun dari pesawat.
'Aku akan berusaha melupakanmu, Laura. Itu demi kebaikan kita bersama. Maafkan aku harus mematahkan hatimu.'
__ADS_1
To be continued...