365 Days With You

365 Days With You
Ide cemerlang


__ADS_3

Ana berjalan menuju ke parkiran bersama dengan Vicky setelah beberapa saat lalu mertuanya berpamitan. Bahkan wajahnya sangat muram karena selalu mendapatkan sikap buruk dari mertuanya, khususnya ibu mertua.


Ia tadinya sibuk memikirkan sikap mertuanya, tapi mendengar suara bariton dari pria yang berjalan bersisihan dengannya.


"Seharusnya Anda tidak perlu ikut berjalan ke parkiran, Nona Ana. Harusnya Anda menunggu di sana saja agar saya yang mengambil mobil." Christian sebenarnya dari tadi tidak ingin bersuara dan membiarkan bosnya tersebut dengan pikirannya.


Namun, lama-kelamaan ia tidak tega dan membuatnya merasa sangat iba pada wanita yang diam seribu bahasa tersebut. Apalagi ia melihat sendiri bagaimana sikap mertua wanita itu seperti tidak lagi menganggap sebagai menantu kesayangan.


"Tidak! Ini jauh lebih baik daripada aku hanya diam menunggumu sendirian. Aku pasti akan sibuk menyalahkan diri sendiri karena menjadi seorang istri sekaligus menantu tidak berguna." Ana bahkan berbicara tanpa menatap ke arah Vicky.


Ia masih terus memikirkan bagaimana caranya sikap mertua kembali seperti dulu. Selalu menyayanginya seperti putri kandung sendiri. Namun, semuanya berubah total begitu ia tidak kunjung hamil setelah menikah.


"Anda sudah sering melewati hal seperti ini, Nona. Jadi, sepertinya tidak perlu mengambil hati atas sikap yang sudah sering ditunjukkan oleh mertua Anda." Menatap ke arah sosok wanita yang berjalan di sebelah kirinya.

__ADS_1


Antara iba dan tidak tega seolah perpaduan sangat lengkap dan bisa mewakili perasaan dari sosok wanita hebat sekelas Ana Maria.


"Meskipun saya tahu jika itu tidaklah mudah, tapi lebih baik fokus pada keluarga kecil Anda karena tuan Christian tetap bersikap layaknya seorang suami baik hati," ujar Vicky yang berusaha untuk memberikan sebuah penghiburan.


Hingga ia pun langsung memencet remote dan membuka pintu untuk bosnya yang seolah sama sekali tidak ingin membuka suara.


"Silakan, Nona Ana."


Apalagi selalu berangkat dan pulang bersama membuat hubungannya semakin romantis meskipun sudah lama menikah. Ia kini sudah duduk di dalam mobil dan melihat sosok pria yang baru saja masuk.


"Maafkan saya, Nona Ana. Saya tidak akan lagi mengulanginya." Niat baik tidak selalu membuat orang berpikir atau menanggapi serupa dan kini dirasakan oleh Vicky.


Namun, ia sama sekali tidak kesal karena tahu bagaimana perasaan Ana yang mendapat sikap sinis dari mertuanya.

__ADS_1


"Apa Anda sangat menyayangi mereka layaknya orang tua kandung sendiri? Jadi, tidak pernah marah atas sikap mertua?" tanya Vicky yang kini menyalakan mesin mobil dan mengemudikannya keluar dari area bandara.


Ana hanya diam karena jujur saja ia sangat marah kala mendapatkan sikap dingin dari mertuanya. Namun, ia sadar dan bisa memposisikan diri. Kini, ia melihat sosok pria di balik kemudi tersebut.


"Mungkin aku akan bersikap seperti mama jika menjadi seorang ibu yang memiliki anak tunggal. Orang tua mana yang mau putra satu-satunya tidak kunjung memiliki keturunan?" Ingin melihat reaksi dari Vicky yang iba padanya.


"Aku memang sakit hati karena bukan malaikat, tapi masih bisa berpikir secara rasional. Apalagi suamiku adalah satu-satunya putra kebanggaan orang tua." Pasrah mungkin akan menjadi pilihannya jika suatu saat nanti ia tidak kunjung hamil.


'*Mungkin aku akan menyewa rahim seorang wanita yang bisa memberikan keturunan untuk suamiku. Hanya sampai melahirkan dan suamiku bisa mendapatkan keturunan saja.'


'Setelah melahirkan, aku yang akan merawatnya bersama suami*,' gumam Ana yang kini sudah merancang sebuah ide cemerlang di otaknya dan berencana untuk mengatakan pada sang suami nanti saat pulang.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2