
"Laura, seperti yang pernah dikatakan oleh Christian jika ia tidak ingin menikah lagi ataupun mencari rahim pengganti untuk menebarkan benihnya. Ia selama ini disiksa rasa bersalah padamu karena berbuat jahat saat kamu baru melahirkan dengan membawa Valerio." Renita Padmasari sebenarnya merasa serba salah berada diantara putra dan menantunya tersebut.
Namun, tetap saja harus membantu putranya sendiri yang tidak ingin lagi memiliki anak dari wanita lain. Ia berpikir mungkin putranya tidak akan bersemangat hidup tanpa adanya Valerio. "Jika kamu berhasil merebut Valerio, dia tidak akan punya siapa-siapa lagi."
Laura memang sering mendengar perkataan itu dari Christian saat dulu memberikan penjelasan padanya. Apalagi dengan sangat mudah berpikir bahwa ia akan bisa menikah dengan pria lain dan melahirkan anak lagi, sehingga hal itu membuatnya sangat marah.
Padahal baginya, tak segampang itu melakukan apa yang dikatakan oleh Christian karena sampai sekarang belum berniat untuk menikah lagi ataupun memiliki anak.
Ia hanya ingin Valerio yang sudah 9 bulan berada di dalam rahimnya dan melahirkan dengan taruhan nyawa kembali padanya. Jadi, berpikir bahwa wanita di hadapannya tersebut tetaplah mertuanya yang akan selalu mendukung putra sendiri daripada ia yang notabene hanyalah menantu yang sudah menjadi mantan.
"Mama pikir aku tidak akan pernah mengizinkan Christian untuk menemui putranya? Aku tidak sejahat itu, Ma karena meskipun nanti hak asuh jatuh ke tanganku, tetap tidak akan melarang Christian jika ingin menemui Valerio. Dia akan tetap menjadi ayah kandungnya dan bisa sewaktu-waktu mengajaknya pergi jalan-jalan." Berharap penjelasannya mampu membuat mertuanya mengerti.
Bahwa ia tidak akan pernah melarang ataupun memisahkan ayah dan anak seperti yang dilakukan Christian padanya. "Hal yang perlu digarisbawahi adalah aku bukanlah wanita jahat seperti putra Mama."
Bahkan Laura berbicara dengan nada penuh penekanan agar mertuanya tersebut mengerti apa yang akan dilakukannya sama sekali berbeda dengan perbuatan Christian padanya dulu.
Hingga ia ingin menyadarkan bahwa meskipun hak asuh nantinya jatuh ke tangannya dan putranya tinggal bersamanya, tidak akan pernah memisahkan ayah dan anak karena darah lebih kental daripada air.
"Bilang pada putra Mama itu apa yang kukatakan sekarang," ujar Laura yang merasa pembahasan tentang putranya tidak pernah ada habisnya karena keegoisan seorang mantan suami yang dianggap tidak punya hati itu.
Renita Padmasari saat ini merasa bingung harus berkomentar seperti apa karena menyadari bahwa antara putranya dan juga menantunya tersebut sama-sama egois dan tidak mau mengalah.
Bahwa keduanya tetap sama-sama ingin memperebutkan Valerio yang pastinya akan tertekan karena keegoisan para orang tua. Ia menghembuskan napas kasar saat ini karena tidak bisa berkata-kata. Berpikir akan percuma menanggapi prinsip seorang Laura yang menurutnya tidak salah.
Ia merasa jika Laura adalah wanita yang baik karena sama sekali tidak berniat untuk memisahkan ayah dan anak. Hanya saja, ia tahu bagaimana perasaan putranya jika berpisah dengan darah dagingnya.
"Sebenarnya aku mengerti apa yang kalian rasakan, tapi tetap saja yang akan hidup menderita adalah ayah yang sudah tidak satu rumah dengan putranya. Tidak bisa setiap hari melihat tumbuh kembang putranya." Ia sangat berhati-hati menyampaikan apa yang dirasakan oleh putranya.
"Sudah tidak ada lagi suara tangisan serta tawa dari putranya yang selama ini dilihat, tapi hanya terkadang bertemu. Mungkin semuanya tidak akan terasa menyesakkan seandainya dia mau menitipkan benih pada rahim wanita lain." Ia sempat bilang pada putranya tadi agar menyewa rahim seorang wanita.
"Namun, ia sama sekali tidak tertarik dengan itu, Laura. Mama tidak perlu menjelaskan alasannya karena kamu pasti sudah tahu. Bahwa putraku sampai sekarang masih sangat mencintaimu dan tidak menginginkan wanita lain untuk hamil benihnya."
Saat ia baru saja mengakhiri pembelaan pada putranya agar Laura mengerti, tapi usahanya sia-sia karena tetap saja tidak diperdulikan, sehingga memilih pasrah dan tidak lagi berniat untuk memaksa.
Laura tetap menggelengkan kepala karena sama sekali tidak tersentuh hatinya hanya dengan kalimat yang disampaikan oleh mertuanya tersebut. "Aku tidak akan berubah pikiran, Ma. Valerio tetap akan tinggal bersamaku setelah memenangkan hak asuh."
"Katakan itu pada Christian karena jika benar ia mencintaiku, tidak akan pernah berbuat kejam di hari aku melahirkan dengan membawa kabur Valerio. Bahkan pada malam itu aku hampir saja kehilangan nyawa karena mengalami kecelakaan, tapi sepertinya Tuhan tidak menerima kematianku dan tetap hidup sampai sekarang."
__ADS_1
Ketika berpikir bahwa hidupnya selalu menderita selama ini, yang saat ini menjadi harapannya hanyalah bisa membesarkan putranya dan hidup dengan bahagia. Hanya itu yang diinginkannya sekarang, hal lain sama sekali tidak diperdulikan.
Termasuk menjaga perasaan Christian maupun wanita bernama Ana. "Bukan tugasku menjaga perasaan putra Mama dan juga Ana karena selama ini tidak ada yang mau menjaga perasaanku."
Renita Padmasari merasa tertampar dengan perkataan dari Laura dan harapannya untuk membuat menantunya tersebut mengerti dengan posisi Christian. Memang ia merasa iba pada nasib gadis malang itu yang selalu hidup menderita setelah mengetahui semua hal tentangnya.
Ia kini mengusap lembut punggung tangan dengan jemari lentik menantunya. "Maafkan Mama dan Christian. Memang kata maaf tidak akan pernah cukup untuk menebus semua penderitaan yang kamu rasakan."
"Namun, Mama berharap kamu akan hidup berbahagia tanpa dendam karena itu hanya akan membuat tidak tenang meskipun memiliki segalanya. Memang butuh waktu untuk bisa memaafkan kesalahan besar Christian, tapi mama berharap suatu saat nanti kamu bisa benar-benar ikhlas akan penderitaan yang dulu diberikannya."
Kemudian ia bangkit berdiri dari kursi dan sekilas menatap Laura sebelum berpamitan. "Mama akan selalu mendoakanmu agar setelah ini selesai, kamu akan hidup bahagia selamanya karena hukum tabur tuai berlaku di dunia ini."
"Sekarang putraku menuai apa yang ditanam dan harus menerima konsekuensi jika hak asuh jatuh ke tanganmu. Sekarang Mama akan menemuinya untuk menyampaikan keputusanmu dan juga ingin menunggu proses operasi Ana." Mengusap pipi putih wanita dengan wajah pucat tersebut.
Laura saat ini mencium tangan wanita paruh baya yang dianggap sangat bijak karena tidak membela dengan berat sebelah dan mengerti posisinya. Kini, ia merasa sangat lega setelah mertuanya tersebut tidak memaksanya untuk mundur dari rencananya.
"Terima kasih, Ma karena mau mengerti bagaimana posisiku. Semoga proses operasi berjalan lancar," ucapnya sambil tersenyum simpul dan merasa tenang melihat wajah keibuan wanita yang selalu bisa menghangatkan perasaannya yang selalu kesepian karena tidak memiliki ibu lagi.
Renita Padmasari kini mengaminkan doa tulus dari Laura dan menganggukkan kepala. Kemudian melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke arah pintu keluar.
Begitu melihat pria yang sudah selesai makan di luar, ia menghampiri dan membuka suara. "Aku udah selesai berbicara dengan Laura. Masuklah dan temani Laura agar tidak kesepian sendirian di dalam.
"Baik, Nyonya. Saya pasti akan menemani Laura karena dia tidak punya siapa-siapa lagi saat semua orang mengkhianatinya." Meskipun tidak berniat untuk menyindir putra wanita itu, Mario hanya mengungkapkan sebuah fakta yang memang dialami oleh Laura.
"Ya, kau benar. Laura yang malang karena harus hidup menderita semenjak beliau akibat keserakahan orang-orang jahat dan juga pengkhianatan putraku yang lebih memilih istrinya." Kemudian menepuk pundak kokoh pria di hadapannya.
"Aku tahu jika kau adalah seorang pria yang baik. Saat nanti Laura membuka hatinya padamu, bahagiakan dia dan jangan sakiti perasaannya lagi. Laura berhak bahagia bersama pria yang sangat mencintainya dan aku bisa melihatnya darimu." Kemudian selalu pergi tanpa menunggu tanggapan dari pria itu.
Mario mengerjapkan mata karena merasa sangat heran dengan wanita yang sudah berjalan semakin menjauh darinya. "Apa wanita itu salah makan? Tapi aku melihat ketulusannya saat mengatakan itu padaku."
"Apa telingaku tidak salah dengar saat mendengar ketulusannya yang mendukungku daripada putranya?" ucap Mario yang saat ini masih melihat siluet belakang wanita paruh baya yang lama-kelamaan menghilang di balik koridor rumah sakit.
'Aku pikir dia akan terus mendukung putranya agar bisa kembali dengan Laura karena sepertinya sangat menyukainya daripada Ana Maria. Tapi sepertinya pikiranku salah karena dia malah mendoakan aku bersatu dengan Laura,' gumam Mario yang saat ini melihat 2 bodyguard di hadapannya.
"Kalian tidak boleh lengah berjaga di sini. Jika mengantuk, bisa bergantian berjaga." Kemudian ia melangkah masuk setelah mengetuk pintu.
"Siap, Bos," sahut dua pria dengan pakaian serba hitam dan badan tinggi besar itu.
__ADS_1
Saat Mario baru saja melangkah mendekati Laura, ia memicingkan mata begitu melihat gerakan cepat wanita itu yang menghapus bulir air mata di wajah.
"Kamu menangis? Ada apa? Apa yang membuatmu menangis?" Mario saat ini merasa sangat khawatir melihat bola mata Laura berkaca-kaca meskipun sudah menghapus kasar agar ia tidak melihat.
Awalnya Laura merasa terharu dengan kebaikan mertuanya dan tidak bisa menahan air mata begitu wanita paruh baya tersebut menghilang di balik pintu. Hingga ia lupa jika Mario bisa saja masuk sewaktu-waktu dan benar saja sekarang melihatnya menangis.
Tidak ingin membuat pria itu khawatir padanya, ia menceritakan pembicaraannya dengan mertuanya tersebut agar Mario tidak salah paham.
"Mertuaku itu bahkan lebih menyayangiku daripada Ana dan itu bagaikan kekuatan untukku agar tidak terjatuh ke dasar jurang karena perbuatan putranya." Laura saat ini sudah tidak sabar ingin keluar dari rumah sakit dan memenangkan hak asuh di pengadilan.
Mario kini mengerti jika Laura merasa terharu dengan kebaikan wanita yang tadi dengan tulus mendoakannya. Kemudian ia pun menceritakan tentang perkataan wanita itu sebelum pergi.
"Aku pun sudah mendapatkan restu dari mantan mertuamu itu. Sekarang tinggal menunggu kamu mengatakan iya saja," sahut Mario yang saat ini berharap Laura mau membuka hati padanya.
"Aku berjanji akan menjadi suami yang baik untukmu dan juga ayah untuk Valerio. Aku tidak akan pernah menyakitimu karena selama ini sangat mencintaimu, Laura. Kamu berhak hidup bahagia dan jangan menutup hatimu hanya karena tersakiti oleh satu pria." Mario sama sekali tidak berencana untuk kembali menyatakan perasaan.
Namun, setelah mendapatkan doa dari mantan mertua Laura, seolah rasa percaya diri menyeruak di dalam hatinya dan langsung mengungkapkan apa yang dirasakan.
Laura yang sama sekali tidak menyangka jika Mario kembali mengungkapkan cintanya yang selalu membuatnya kebingungan untuk menjawab. Apalagi saat ini posisinya pun baru saja selamat dari maut, jadi belum bisa berbicara banyak karena sudah terkuras saat tadi dengan mertuanya.
"Aku belum bisa berpikir sekarang, Mario. Aku ingin menyelesaikan semua masalah dulu. Mungkin setelah itu baru memikirkan masalah itu. Jadi, aku harap kamu mengerti. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari, bukan? Mungkin saja nanti aku akan kesepian dan membuka hati padamu."
Laura saat ini tidak ingin menyakiti perasaan pria sebaik Mario karena selalu ada untuknya, jadi tidak menolak mentah-mentah. Ia benar-benar butuh waktu karena saat ini belum bisa berpikir untuk mencari pasangan ketika masalahnya saja terlalu banyak.
Apalagi ia berpikir akan keluar masuk pengadilan dan disibukan dengan persidangan yang nantinya menjerat sang paman. Hingga ia pun kini melihat ekspresi wajah Mario yang sama sekali tidak merasa tersinggung ketika ditolak.
"Aamiin. Semoga Tuhan akan membukakan perasaanmu dan mau menerimaku sebagai pendamping hidupmu setelah semua masalahmu selesai dan hak asuh Valerio jatuh ke tanganmu." Mario saat ini merasa sedikit memiliki harapan dan akan terus berjuang untuk mengambil hatinya.
Berharap dengan melihat ketulusannya, suatu saat nanti akan bersatu dan menjadi keluarga bahagia seperti doa dari wanita paruh baya yang tadi berbicara padanya.
"Terima kasih karena selalu mau mengerti aku, Mario. Aku tahu jika kamu adalah seorang pria yang baik dan yakin jika wanita akan bahagia memiliki suami sepertimu." Laura yang baru saja menutup mulut, kini mendengar suara dering ponsel miliknya dan saat ia melihat kontak mertuanya, mengerutkan kening.
"Apa ada masalah? Kenapa Mama menelpon saat tadi bilang akan menunggu operasi wanita itu? Atau ini tentang Christian lagi?" Tidak ingin penasaran, kini ia langsung menggeser tombol hijau ke atas dan mendengar suara serak dari seberang seperti menangis.
"Halo, Ma. Ada apa?"
"Laura, ada kabar buruk." Renita Padmasari yang saat ini berbicara sambil menangis, tidak kuasa melanjutkan perkataannya.
__ADS_1
Sementara itu, Laura merasa sangat khawatir dan kembali membuka suara untuk bertanya. "Kabar buruk apa, Ma? Apa yang terjadi? Katakan padaku?"
To be continued...