365 Days With You

365 Days With You
Setia pada satu wanita


__ADS_3

Saat melihat sang ibu yang menangisi kepergian Ana, membuktikan bahwa wanita yang sangat disayanginya tersebut sebenarnya juga menganggap istrinya sebagai putri sendiri. Namun, memang sikap sang ibu berubah setelah ia sudah lebih dari 10 tahun menikah, tapi tak kunjung memiliki keturunan.


Kekhawatiran tidak memiliki penerus keluarga Raphael, yang membuat ibunya akhirnya berubah sikap pada Ana. Sekarang semuanya baru terasa menyakitkan serta menyesakkan setelah Ana meninggalkan dunia ini.


"Benar apa kata orang kalau semuanya baru terasa jika sudah tiada. Aku tahu jika sebenarnya Mama sangat menyayangi Ana seperti putri kandung sendiri. Bahwa rasa sayang mama berubah karena kekhawatiran tidak memiliki penerus keluarga."


Christian pun terdiam ketika mengingat tentang perkataan sang ibu. Semua yang dikatakan oleh sang ibu benar, bahwa putranya tadi hanya menangis sebentar dan tidak seperti biasanya yang terus menerus menangis.


Saat ini ia masih ingat bagaimana sang istri merayu dan menasihati putranya saat itu. Benar-benar mencurahkan kasih sayang penuh layaknya ibu kandung dan membuatnya merasa jika Ana adalah ibu tiri bak malaikat yang ada di dunia ini.


Hingga ia pun kini bangkit dari posisi telentang menjadi duduk di hadapan sang ibu yang masih berurai air mata. Ia menghapus bulir air mata yang menghiasi pipi putih sang ibu.


"Mama tidak boleh lemah seperti ini. Biar aku saja karena semua orang butuh Mama yang terus mengurus semua di rumah ini sampai 7 hari meninggalnya Ana." Christian bahkan memeluk erat tubuh sang ibu untuk menyalurkan aura positif agar tidak terus-menerus bersedih dengan meninggalnya Ana.


Hingga ia mendengar suara dari sang ayah yang berdiri tak jauh dari hadapannya dan membuatnya sadar jika selama ini telah banyak berbuat dosa pada sang istri.


"Ana akan mendapatkan tempat yang layak di surga. Selama di dunia, kita tidak memperlakukannya dengan baik karena masalah keturunan. Jadi, sekarang yang bisa kita lakukan hanyalah mengirimkan doa dengan mengundang banyak orang agar bisa membantunya di atas sana." Laymar Raphael juga merasa bersalah karena selama ini dipenuhi oleh kekhawatiran tentang penerus keluarga.


Menyadari jika mereka bertiga sangat berdosa pada Ana Maria karena hanya memikirkan tentang keturunan, hingga bersikap egois. Bahkan tidak ada di dunia ini wanita yang ingin ditakdirkan menjadi mandul dan tidak bisa memberikan keturunan untuk keluarga.


Tak bisa terbayangkan bagaimana perasaan wanita yang sering mendapatkan hujatan karena tidak bisa hamil dan berakhir suami menikah lagi seperti yang dilakukan oleh putranya. Memang ujian dalam pernikahan itu bermacam-macam dan putranya menghadapi ujian seperti ini yang berakhir dengan meninggalnya wanita sebaik Ana yang selalu melayani suami dengan baik.


Bahkan meskipun setiap hari harus sibuk di kantor untuk mengurus perusahaan, tetap tidak meninggalkan kewajiban sebagai seorang istri yang melayani suami. Ia sangat tahu bagaimana cinta putranya pada Ana Maria, tapi karena ketakutan seperti yang dirasakannya, sehingga memilih untuk menikah lagi secara siri dengan Laura.


Sekarang terbukti jika putranya benar-benar mencintai Ana karena sangat terpukul dengan meninggalnya sang istri. "Papa akan mengundang banyak orang selama 7 hari untuk mendoakan Ana. Sekalian nanti kita membagikan bingkisan untuk para kaum duafa dan anak-anak yatim atas nama Ana, agar bisa mendapatkan doa dari mereka semua."


Christian yang bahkan tidak berpikir sampai sejauh itu karena lebih terpuruk dengan kehilangan Ana, sehingga hanya fokus pada kesedihannya semata. Sampai pada akhirnya ia menyadari jika terus menerus bersedih tidak akan membuat sang istri kembali hidup.


Ia melepaskan pelukan dari sang Ibu dan menanggapi perkataan dari sang ayah yang dianggap sangatlah luar biasa demi kebaikan sang istri yang sudah berada di alam lain.


"Terima kasih, Pa karena berpikir kebaikan untuk istriku yang pasti sekarang sangat membutuhkan doa dari banyak orang. Aku berjanji akan melakukan semua yang terbaik untuknya seperti apa kata Papa."


Saat baru saja menyelesaikan apa yang dipikirkan, Christian merasakan usapan lembut dari sang ibu yang penuh dengan kasih sayang.

__ADS_1


"Kamu juga harus kuat dan terus seperti ini karena putramu membutuhkanmu. Jika kamu terus-menerus terpuruk seperti ini karena menangisi keadaan Ana yang sudah meninggal, yang ada hidupmu hanya akan berakhir dengan kehancuran, Sayang."


"Benar apa yang dikatakan oleh papamu. Kita seperti doa dan amal ibadah atas namanya." Renita Padmasari bahkan saat ini berpikir jika ia juga akan memberikan semua yang terbaik untuk Ana.


Ia berencana untuk selalu melakukan doa setiap acara pada hari hari yang diperingati. Sekarang ia akan fokus pada acara 1 sampai 7 hari meninggalnya sang menantu yang tersakiti karena tidak bisa hamil.


"Akan ada banyak tamu yang datang untuk melayat, jadi kita tidak boleh terus berada di sini," ucap Laymar yang sengaja tadi datang untuk mengecek keadaan putranya dan menasehati agar tidak lemah serta terpuruk karena tidak akan mengubah segalanya.


Meskipun ia mengetahui jika semua kepedihan hari ini benar-benar sangat menguras air mata dan juga rasa berdosa atas perbuatan di masa lalu pada Ana.


"Ayo, kita keluar sekarang," ucap sosok wanita yang kini sudah membersihkan bulir air mata di wajahnya dengan tisu.


Ia beralih menatap ke arah putranya yang masih duduk di atas ranjang. "Kamu beristirahat saja karena dari semalam belum tidur. Biar kami yang menemui beberapa tamu yang melayat."


Christian hanya mengangguk lemah karena jujur saja tidak mudah baginya untuk langsung tegap dan tegar seperti yang dikatakan oleh sang ayah agar tidak berlarut-larut dalam kesedihan ketika menghadapi kenyataan bahwa sang istri sudah meninggal.


"Aku hanya akan memejamkan mata sebentar agar tidak terasa pedih seperti sekarang, Ma. Mana mungkin aku bisa tidur nyenyak saat pikiranku benar-benar kacau balau seperti ini. Jika nanti ada tamu penting atau beberapa sanak saudara yang datang, panggil saja aku dengan menyuruh pelayan." Christian masih merasa pusing seolah tubuhnya benar-benar melayang saat ini.


Ia yang kurang tidur dan juga terkuras pikirannya, kini berusaha untuk beristirahat sejenak agar tidak drop kondisinya. Apalagi nanti malam akan ada acara lantunan doa untuk istrinya.


Ia bisa melihat bayangan anak yang dulu sering tersenyum padanya karena merasa bahagia bisa menjadi istrinya. "Ana, apa kamu sekarang bahagia berada di atas sana karena tidak merasakan sakit serta kekecewaan yang selalu kuberikan padamu karena menyakiti hatimu?"


"Ana, maafkan aku karena membuatmu berakhir seperti ini." Christian yang mengingat kejadian saat Ana membahas tentang kematian dan sama sekali tidak diperdulikan karena malah memikirkan Laura yang baru saja dioperasi, kini mengangkat tangannya untuk memukul kepalanya sampai beberapa kali.


Ia seolah ingin menghukum diri sendiri atas perbuatannya pada sang istri. "Aku adalah pria yang sangat jahat! Aku tidak pantas dimaafkan! Aku benar-benar tidak punya hati!"


Beberapa kali Christian memukul kepalanya karena saat ini yang ada di pikirannya hanyalah ingin menebus segala kesalahan yang dilakukan pada sang istri. Hingga ia yang masih terus memukuli kepalanya, ketika berhenti karena melihat putranya yang berjalan dengan dibantu oleh pelayan.


"Tuan Christian, dicari tuan Valerio karena dari tadi memanggil-manggil papa." Kepala pelayan yang saat ini memegangi tangan mungil balita berusia 1 tahun lebih tersebut, tadinya berniat untuk menggendong, tapi Valerio sama sekali tidak mau karena memilih untuk berjalan.


Apalagi bocah laki-laki tersebut memang baru saja berjalan dan sangat bersemangat serta tidak mau berhenti melangkahkan kakinya dengan menapakkan kaki-kaki mungil itu menghiasi lantai berkilat di rumah keluarga tersebut.


Christian yang saat ini kembali bangkit duduk untuk membuka kedua tangannya agar putranya mau menghambur ke arahnya. "Kemarilah, Putraku."

__ADS_1


Bocah laki-laki yang saat ini tersenyum ke arah sang ayah, langsung berjalan mendekat dan menghambur memeluk. "Pa ... Pa ... Ma ...Mama."


Sebenarnya Christian saat ini merasa sesat ketika mendengar putranya yang bahkan berbicara belum jelas tersebut sudah tidak bisa melihat lagi sang ibu yang selama ini membesarkan dengan penuh cinta kasih layaknya putra kandung sendiri.


Namun, ia berusaha untuk menahan matanya yang berkaca-kaca agar tidak jatuh membasahi wajahnya dan dilihat oleh putranya. Ia segera menggendong putranya agar berada diperlukannya. Kemudian ia memeluk erat serta mencium kening serta pucuk kepala putranya.


"Sayang, Jagoan Papa yang sangat pintar, Mama sekarang ada di surga. Kita sekarang mendoakan Mama agar baik di sana. Kita nanti akan bertemu dengan Mama suatu saat nanti." Suara Christian yang saat ini mewakili perasaannya yang bergejolak hebat.


Bahkan luka tak berdarah dirasakan saat ini ketika menasehati putranya agar tidak terus merindukan sang ibu yang baru saja pergi jauh meninggalkannya.


Bahkan meskipun sudah mengatakan itu, putranya tetap memanggil sang ibu. Hanya saja tidak menangis tersedu-sedu seperti beberapa saat yang lalu dan membuatnya sekarang merasa sangat berhutang budi sekaligus berterima kasih pada Ana.


'Ana, apa yang kamu lakukan pada putra kita? Sekarang putra kita benar-benar menjadi seorang anak yang penurut dan tidak rewel lagi hingga menyusahkan semua orang. Terima kasih, Sayang karena meninggalkan cinta kasih yang luar biasa untuk kami semua,' lirih Christian yang saat ini memeluk erat putranya.


Ia bahkan berpikir seandainya bisa memutar waktu seperti yang ada di cerita fantasi, hal yang paling ingin dilakukan adalah menukar posisinya dengan Ana.


'Seandainya waktu bisa diputar kembali atau ada kehidupan yang lain, Aku ingin menjadi balikan dari apa yang kamu rasakan. Aku akan menjadi pria yang tidak bisa punya keturunan dan kamu memiliki segalanya.'


Meskipun mengetahui bahwa itu semua hanyalah sebuah fantasi semata dan tidak akan pernah terjadi, Christian masih tetap berharap bisa merasakan penderitaan seperti Ana. Sementara Ana merasakan kebahagiaan karena menjadi seorang wanita normal.


"Ana, tenanglah di surga sana, Sayang. Aku dan putra kita akan selalu mendoakanmu." Christian saat ini mengusap lembut rambut hitam berkilat putranya dan memikirkan tentang nasib dari anak laki-laki yang berada dalam pelukannya.


"Sayang, kamu masih terlalu kecil untuk tidak mendapatkan kasih sayang seorang ibumu, yaitu Ana Maria. Meskipun ibu kandungmu adalah Laura, tapi papa berharap, Kamu tidak akan pernah melupakan wanita yang merawatmu semenjak bayi dengan penuh kasih sayang."


Christian berencana untuk selalu mengingatkan putranya agar tidak pernah melupakan Ana Maria sebagai ibunya yang pernah sangat menyayangi seperti putra kandung sendiri.


Hingga ia pun berpikir jika meskipun nanti Laura merebut putranya setelah memenangkan hak asuh di pengadilan, tetap ingin mengingatkan agar tidak melupakan Ana Maria yang pernah membesarkan dengan penuh cinta kasih dan sangat tulus.


Ia yang saat ini masih menatap ke arah putranya, memikirkan sesuatu hal yang mengganggu pikirannya. "Mamamu pasti sangat berat ketika membesarkanmu karena setiap memandang wajahmu, selalu mengingatkannya pada ibu kandungmu."


Saat berpikir bahwa apa yang dirasakan oleh Ana sangat berat, tapi ia tidak pernah memikirkan hal itu karena keegoisannya tidak bisa melupakan perasaan pada Laura.


"Semoga kamu nanti tidak seperti papamu yang berengsek ini, Sayang. Meskipun ada pepatah yang mengatakan 'buah jatuh tidak jauh dari pohonnya', tapi papa benar-benar berdoa agar kamu kelak menjadi seorang pria yang sangat hebat dan setia pada satu wanita."

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2