
Christian tadi keluar dari ruangan perawatan begitu sang istri tertidur karena efek obat. Setelah tadi merasa lega karena Vicky telah berhasil melaksanakan tugas yang diberikan, yaitu dengan mengirimkan foto putranya, membuatnya kembali memberikan sebuah tugas.
Tentu saja untuk mencari tahu tentang tempat tinggal Laura karena ia ingin berbicara secara langsung, bukan melalui telpon dan ada Mario. Begitu mendapat pesan dari Vicky jika sudah berhasil mencari tahu apartemen Laura, refleks langsung menelpon.
Karena Vicky mengatakan jika saat ini tengah berhadapan dengan Laura di apartemen bersama dengan Mario dan juga satu pria lain yang diketahui adalah bodyguard Rendi Syaputra.
Begitu sambungan telpon tersambung dan mendengar suara bariton sang asisten yang berbicara pada Laura, kini ia langsung mengungkapkan hal yang ingin disampaikan.
"Halo, Laura. Aku ingin berbicara denganmu, jadi jangan tutup telponnya seperti yang sudah-sudah. Kamu boleh diam saja dan cukup dengarkan aku. Ini adalah hal penting yang harus kamu ketahui tentang penyebab aku dulu menjatuhkan talak padamu saat baru saja melahirkan."
Christian saat ini terdiam sejenak untuk menjeda ucapannya dan menunggu respon dari Laura. Namun, ia sama sekali tidak menyangka jika apa yang diucapkannya barusan sama sekali tidak diperdulikan dan membuatnya frustasi.
"Halo ... Laura?" seru Christian yang kini melihat benda pipih di tangannya dan menunjukkan jika sambungan telpon telah diputuskan secara sepihak.
__ADS_1
"Astaga, malah dimatikan sebelum aku mengatakan hal paling penting," ujar Christian yang saat ini kembali memencet tombol panggil pada panggilan telpon.
Namun, ia kembali merasa sangat kecewa kala nomor yang dituju sudah tidak aktif. "Pasti Laura yang melakukannya karena tidak mungkin Vicky yang melakukannya.
"Sebenarnya aku ingin langsung datang ke tempat Laura, tapi tidak mungkin melakukannya karena saat ini kondisi Ana yang drop dan butuh perhatian ekstra." Christian yang sudah mengetahui alamat apartemen Laura, kini hanya menatapnya tanpa bisa berbuat apa-apa.
Ia kini mendaratkan tubuhnya di kursi yang ada di sebelah kanan ruangan perawatan. "Aku sangat ingin mengetahui alamat tempat tinggal Laura, tapi setelah mendapatkannya malah tidak bisa berbuat apa-apa." Christian yang baru saja menutup mulut, kini mendengar suara dering ponsel miliknya.
Tanpa membuang waktu, ia pun langsung menggeser tombol hijau ke atas dan mendengar beragam pertanyaan dari sang ibu.
"Halo, Christian. Cepat jelaskan semuanya pada Mama. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa maksudmu Ana mengira Valerio bersamaku? Lalu, di mana cucuku berada sebenarnya?" tanya Renita Padmasari yang sudah tidak sabar ingin mengetahuinya.
Akhirnya Christian mulai menceritakan semuanya tanpa terkecuali. Apalagi ia tahu jika sang ibu sangat menyukai Laura. Dengan harapan besar jika sang ibu bisa membantunya untuk menjelaskan pada Laura agar tidak sepenuhnya membencinya.
__ADS_1
"Apa kamu bilang? Menantuku telah kembali ke Jakarta? Kirimkan alamatnya sekarang karena Mama ingin menemuinya," sahut Renita Padmasari yang merasa sangat bersemangat untuk menemui mantan menantunya.
"Laura bukan lagi menantu Mama. Jadi, jangan sebut dia menantu jika bertemu nanti karena pasti akan merasa terluka mengingat luka lama yang kuberikan." Christian berbicara sambil mengirimkan alamat apartemen Laura yang tadi diketahui dari Vicky.
Hingga ia menjauhkan ponsel begitu mendengar suara teriakan sang ibu yang marah-marah padanya.
"Itu salahmu, Christian! Seharusnya kau tidak menceraikan Laura yang telah memberimu keturunan daripada terus bertahan dengan Ana yang tidak memberikan apa-apa untukmu. Kau bertahan dengannya hanya karena kasihan dan tidak tega, kan? Aah ... sudahlah! Semuanya sudah terjadi dan percuma Mama marah sampai mulut berbusa."
Karena kesal sekaligus kecewa pada putranya, langsung menutup telpon. Bahkan ia sudah tidak sabar untuk bisa menemui menantu kesayangannya yang malang karena dibuang oleh putranya.
"Aku harus menceritakan semuanya pada Laura agar tidak sepenuhnya menyalahkan putraku. Biar dia tahu yang patut disalahkan adalah Ana," ucap Renita Padmasari yang kini bersiap untuk pergi ke alamat apartemen Laura.
To be continued...
__ADS_1