365 Days With You

365 Days With You
Ada sesuatu yang ingin dikatakan


__ADS_3

Beberapa saat lalu, Mario yang baru saja selesai mandi, mendengar suara bel pintu dan langsung melakukan dari layar yang ada di samping kiri. Begitu melihat sosok pria yang diketahuinya adalah asisten pribadi Christian, ia tahu apa yang diinginkan oleh pria itu.


"Sepertinya memang bekerja sama adalah jalan terbaik untuk Laura," ucap Mario yang akhirnya kini membuka pintu dan menatap ke arah sosok pria muda di hadapannya. "Apa yang kau inginkan?"


Ia sebenarnya sudah tahu apa yang diinginkan oleh pria itu, tapi berpura-pura bodoh karena ingin tahu cara apa yang digunakan oleh sang asisten pribadi tersebut.


Sementara itu, Vicky yang kini tidak ingin bertele-tele, langsung mengungkapkan apa yang ada di otaknya saat ini karena berpikir dikejar waktu.


"Lebih baik kita kesampingkan ego masing-masing biar sama-sama enak. Bukankah nona Laura ingin menghabiskan waktu bersama dengan putranya? Jadi, jika menginginkan itu, telpon nona Laura agar mengirimkan foto tuan Valerio pada tuan Christian sekarang!" Vicky yang baru saja menutup mulut, berharap pria di hadapannya tersebut lebih bijak dan tidak egois.


Di sisi lain, Mario yang saat ini masih bersikap sangat tenang, hanya tersenyum simpul kala mendapatkan sebuah perintah bernada ancaman. "Aku jadi penasaran dengan Christian membayarmu."

__ADS_1


"Bahkan kau mengurus semuanya, termasuk masalah pribadinya juga. Pria itu benar-benar sangat lemah dan tidak punya privasi di depanmu rupanya."


Hingga di saat bersamaan, ia mendengar suara dering ponsel miliknya yang berdering dan langsung menggeser tombol hijau ke atas karena kebetulan Laura yang menelpon. Ia pun juga ingin mengatakan semuanya demi kebaikan.


"Halo, Anastasya. Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Mario yang saat ini tidak mendengar suara apapun dari seberang telpon. Namun, beberapa saat kemudian, ia mendengar suara dari Laura.


"Mario, tidak ada masalah setelah aku menculik putraku, kan?" tanya Laura yang saat ini tengah berada di dapur untuk mengambil air minum. Namun, ia mengerutkan keningnya kala mendengar perintah dari Mario.


Bahkan ia bisa mendengar suara bariton dari seberang telpon karena sengaja di loudspeaker oleh sang asisten tersebut. Seolah sengaja ingin menunjukkan agar ia tahu pembicaraan mereka.


Hingga ia pun kini ikut membuka suara karena memang tidak ingin membuat Laura kecewa karena tidak bisa bersama Valerio lebih lama.

__ADS_1


"Aku sudah berbicara dengannya dan menunggu pesan darinya yang kusuruh untuk mengambil foto. Jadi, jangan terus-menerus mengganggu waktu istirahatku hanya demi menyelamatkanmu dari kemurkaan istrimu."


Mario yang baru saja mengibaskan tangannya agar Vicky pergi dari sana karena sudah menyelesaikan masalah, kini langsung mengirimkan foto yang baru saja masuk dari pesan Laura.


"Masalah selesai. Sekarang pergilah dan lapor pada bosmu." Mario yang kini berniat untuk menutup pintu apartemennya, tidak bisa melakukannya karena ditahan oleh kaki serta separuh badannya.


"Tunggu! Aku belum selesai," sarkas Vicky yang kini menatap tajam ke arah Mario.


Meskipun ia baru pertama kali bertemu, tapi bisa tahu jika nama pria yang membantu Laura itu adalah Mario. Namun, sebelumya tadi langsung meneruskan pesan berupa gambar Valerio tengah tertidur pulas itu pada bosnya.


"Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu. Jadi, jangan tutup pintunya." Vicky yang kini berhasil membuat Mario akhirnya membuka pintu, kini langsung masuk ke dalam tanpa menunggu disuruh.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2