
Laura kini menatap kepergian mertuanya yang lama-kelamaan menghilang di balik gelapnya malam. dengan perasaan berkecamuk. Suasana malam yang dingin dan ada beberapa orang berlalu lalang di sekitar area IGD, membiarkan Laura larut dalam pemikirannya sendiri.
'Mama memang berbicara seperti itu padaku, tapi aku yakin jika di dalam hatinya kesal serta marah padaku karena sama sekali tidak memperdulikan harapannya agar kembali dengan putranya yang kini sudah berstatus sebagai duda.'
Laura yang masih larut dalam alam pikiran, kini tersadar dan berjenggit begitu tangan Mario mendarat di pundaknya. Hingga ia menyembunyikan perasaan bersalah dengan cara tersenyum simpul pada Mario.
"Syukurlah hubungan kita berjalan lancar tanpa ada penolakan dari mantan mertuamu itu, Sayang. Jadi, mulai sekarang, tidak perlu menyenangkan perasaan orang lain. Ayo, kita ke dalam!" Bahkan ia sedikit membungkuk begitu menggendong tubuh Laura agar tidak memforsir tenaga untuk berjalan.
Tidak hanya itu saja, mereka langsung melihat perawat yang bersiap untuk mendorong brankar bocah laki-laki berusia satu tahun yang tengah tertidur karena efek obat.
"Kebetulan tadi saya ingin memanggil karena pasien sudah bisa dipindahkan. Apalagi ruangan telah siap dan IGD penuh hari ini," ucap perawat yang memakai seragam biru tersebut.
__ADS_1
"Maaf karena terlalu lama di luar." Laura sama sekali tidak bisa menanggapi begitu melihat perawat sudah bergerak cepat untuk memindahkan putranya.
Ia kini membiarkan Mario menurunkannya di kursi roda dan mendorong mengikuti dua perawat yang dengan lincah keluar dari IGD.
Hingga beberapa menit kemudian, Valerio sudah dipindahkan ke dalam ruangan VVIP. Sementara Laura berbicara dengan perawat mengenai putranya.
Di sisi yang berbeda, Mario kini duduk di kursi yang disediakan di sebelah ranjang. Sampai pada akhirnya ia kesal pada Laura karena berpikir terlalu jauh bertanya.
"Sayang, Valerio sudah baik-baik saja. Jadi, jangan membuat perawat bingung dengan pertanyaanmu. Selama Valerio tidur nyenyak dan sudah tidak rewel seperti saat tiba tadi, itu berarti obat sudah bekerja dan pasti sebentar lagi Valerio sembuh dan bisa diajak pulang ke rumah." Mario ingin Laura yang keras hati menuruti perintahnya.
Apalagi setelah menjadi kekasih Laura, ia ingin mempunyai seorang pendamping hidup yang bisa diajak sharing dalam hal apapun dan tidak mengandalkan ego masing-masing untuk berebut benang dan akhirnya malah berakhir kehancuran.
__ADS_1
Sebagai seorang wanita yang kini telah berstatus ibu, ia ingin memberikan yang terbaik untuk putranya agar tidak mengalami hal-hal buruk setelah tinggal bersamanya.
Jadi, menyadari jika sekarang terlalu berlebihan dalam hal apapun yang berhubungan dengan putranya. Hingga ia langsung mengungkapkan keinginan pada mertuanya untuk menjaga putranya.
"Semoga saja. Putraku akan sembuh dan tidak mengalami hal-hal buruk, kan?" Laura yang saat ini sekilas menatap ke arah putranya, benar-benar tidak tega.
"Pasien saat ini sudah turun demamnya, Nyonya. Anda bisa mengecek sendiri jika pasien saat ini tengah tertidur karena efek obat dan tidak rewel lagi. Itu menandakan jika tubuhnya sudah lebih baik dari sebelumnya."
Perawat yang tadinya berniat untuk keluar dari ruangan, akhirnya jadi tertunda dan kini tersenyum simpul untuk menyembunyikan kekesalan agar tidak mengumpat ibu dari pasien.
To be continued...
__ADS_1