365 Days With You

365 Days With You
Tidak berhak cemburu


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian...


Christian yang saat ini masih berada di dalam mobil yang melaju menuju ke perusahaan, mengembuskan napas berat kala mengingat tentang masa lalunya bersama Laura dan Ana.


Sampai ia mengambil keputusan berat setelah mempertimbangkan berulang kali. 'Laura, maafkan aku karena harus mengorbankanmu demi kebahagiaan Ana. Kamu masih muda, cantik dan pastinya akan bisa hamil lagi setelah menikah dengan pria yang mencintaimu dengan tulus.'


'Ketulusanku sama sekali tidak berarti setelah melihat ini,' gumam Christian yang kini melihat ke arah ponsel miliknya menunjukkan tentang hasil laporan intensif dari Ana yang memiliki penyakit susah disembuhkan.


'Aku tidak mungkin hidup berbahagia bersama Laura saat Ana berjuang dengan penyakitnya. Bahkan dua belum mengetahui ada penyakit di dalam tubuhnya. Aku tidak tega mengatakan ini padanya.' Christian saat ini masih memiliki banyak pertimbangan untuk memberitahu Ana.


Setelah membawa bayi yang dilahirkan Laura dan meninggalkan wanita yang pernah berharga di hatinya, ia tidak pernah bisa tidur nyenyak. Setiap malam saat Ana tidur di sebelahnya, selalu saja mengingat tentang Laura.

__ADS_1


'Aku sama sekali tidak menyangka jika kebersamaan kita hanya sampai 365 hari, Laura. Aku menghitungnya dari pertama kali kita bertemu di Club malam yang ada di New York sampai aku menjatuhkan talak padamu setelah kamu melahirkan.'


Apalagi ia sampai sekarang masih menyuruh orang untuk mencari tahu apa saja yang dilakukan oleh Laura setelah pergi meninggalkan istri sirinya tersebut.


Kini, Christian yang masih memegang ponsel miliknya, melihat ada pesan masuk dari detektif yang disewa untuk membuntuti Laura yang diketahuinya masih tinggal di rumah yang sudah ia atas namakan wanita itu.


Saat ini, ia melihat beberapa foto-foto Laura dengan seorang pria dan membaca data diri dari orang itu.


Tanpa membuang waktu, Christian menggeser tombol hijau ke atas dan mendengar suara tangisan dari putranya dan Ana.


"Halo, Sayang. Hari ini putra kita menangis terus dan aku tidak bisa mendiamkannya. Saat aku memeriksa keningnya, ternyata demam. Aku sekarang dalam perjalanan menuju ke Rumah Sakit untuk memeriksakan putra kita. Aku cuma ingin memberitahu itu. Kamu bekerja saja karena aku bisa mengatasinya."

__ADS_1


Suara Ana yang terdengar sangat gelisah, tentu saja bisa dirasakan oleh Christian dan kali ini ia langsung menyuruh supir untuk putar balik. Padahal sudah berada di dekat area perusahaan, tapi tidak membuatnya ingin bekerja ketika putranya demam.


"Kamu tunggu di sana, Sayang. Aku akan segera tiba di Rumah Sakit. Mana mungkin aku lebih mementingkan pekerjaan daripada putra sendiri. Bahkan aku sudah lama menunggu kehadirannya," ucap Christian yang kini langsung mematikan sambungan telpon.


Saat ini, ia mengingat putranya yang dilahirkan oleh Laura. "Putraku, apa kamu sakit karena merindukan ibu kandungmu, Sayang? Maafkan papa karena berbuat sekejam ini dengan memisahkan kalian. Semoga kelak kamu mengerti apa yang dirasakan papamu."


Saat ini Christian memikirkan beberapa hal buruk karena efek demam tinggi dan ia tidak ingin putranya sampai mengalami hal itu. "Laura, dosaku teramat besar padamu. Meskipun aku sudah meminta maaf beribu kali, kamu pasti tidak akan pernah memaafkanku."


Sebenarnya saat tadi menatap foto-foto dari detektif, ia merasa cemburu kala melihat Laura dengan pria lain. Namun, sadar bahwa sekarang bukanlah siapa-siapa bagi mantan istrinya tersebut dan hanya bisa mengembuskan napas berat kala memikirkan semua itu.


'Aku bahkan tidak berhak lagi memikirkannya. Apalagi harus cemburu,' gumam Christian yang saat ini tengah menatap ke arah kanan dan melihat kendaraan melintas memenuhi jalan raya.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2