365 Days With You

365 Days With You
Merasa penasaran


__ADS_3

Ana baru saja menyelesaikan memasak menu untuk sang suami dan mematikan kompor yang merebus daging bebek di panci presto. Kemudian membawa udang yang baru saja digoreng dan menghidangkan di depan sang suami.


Kemudian ia langsung mengambilkan nasi di atas piring dan memberikan pada sosok pria yang dari tadi terlihat sudah tidak sabar menikmati masakannya.


"Cobain masakanku, Sayang." Ana meletakkan piring berisi nasi di hadapan sang suami yang langsung bergerak mengambil sampel serta udang.


Ia yang saat ini berniat untuk mengamati sang suami ketika menikmati masakannya karena masih kenyang setelah makan bakso tadi.


Christian saat ini sudah memakai tangan kosong untuk menyuapkan satu suapan makanan ke dalam mulut. Ia bahkan kini asyik menikmati makanan yang sudah melumer di mulutnya.


Ia yang membandingkan sambal buatan Laura dan Ana. Sebuah hal yang seolah selalu menjadi perbandingannya setelah menikah dengan dua wanita tersebut. Ia ini mengarahkan dua ibu jari ke arah sang istri.


"Sambal buatanmu benar-benar sangat enak, Sayang." Tentu saja Christian memuji enak masakan sang istri untuk membuat wanita yang tengah tersenyum tersebut selalu bahagia.


Sebuah hal sepele yang selalu membuat para istri bahagia adalah saat masakan yang dibuat sepenuh hati dipuji oleh suami. Apalagi jika seorang suami menghabiskan makanan yang dimasak oleh istri. Pasti seorang istri akan merasa sangat senang dan selalu bersemangat untuk memasak setiap hari.


Christian sebenarnya merasa ada sesuatu yang kurang dari sambal buatan Ana, tapi ia tidak tahu apa. 'Ternyata sambal buatan Laura tidak terkalahkan dan jauh lebih enak dari buatan Ana,' gumam Christian saat ini menyadari ada sesuatu yang belum disajikan sebagai pelengkap.


"Sayang, apa di kulkas tidak ada sayuran untuk lalapan sambal ini?" tanya Christian yang rasa jika tidak ada lalapan ketika menikmati, rasanya ada yang kurang.


Ana yang bahkan tidak memikirkan hal itu karena melupakannya, kini menyadari bahwa apa yang dikatakan oleh sang suami benar dan langsung bangkit berdiri untuk memeriksa kulkas.

__ADS_1


"Sebentar, Sayang. Aku akan memeriksa terlebih dahulu." Ana yang saat ini memeriksa kulkas, mencari sayuran yang bisa digunakan untuk lalapan. Hingga ia menemukannya dan menunjukkan pada sang suami.


"Sayang, hanya ada kol putih, mau?" tanya Ana yang saat ini menunjukkan sayuran di tangannya.


"Iya, itu saja daripada tidak ada sama sekali." Sebenarnya Christian lebih suka kemangi sebagai lalapan karena sangat khas dimakan dengan sambal dan menambah kesan sedap dari rasa khas tanaman berwarna hijau tersebut.


'Aku ingin menyuruh pelayan untuk membelinya, tapi nanti malah Ana curiga kenapa aku tiba-tiba suka makan kemangi. Lebih baik makan apa yang ada di kulkas aja agar lebih aman,' gumam Christian yang saat ini menatap ke arah sang istri yang sudah membawa kol putih.


Ana yang baru saja mencuci sayuran untuk lalap tersebut, kini ditaruh di hadapan sang suami. "Ini, Sayang."


Christian saat ini langsung mengambil kol putihnya sudah di potong oleh sang istri dan menikmatinya dengan sambal ijo serta udang. Ia bahkan terlihat sangat lahap makan hingga melupakan bahwa wanita di hadapannya belum makan sama sekali.


"Sayang, kenapa kamu malah asyik menatapku dan tidak makan? Atau kamu ingin aku suapi?" tanya Christian yang mengingat Laura pada kalimat terakhir karena selalu menyuapi istri sirinya tersebut selama satu bulan belakangan ini.


"Jadi, aku tidak berselera menikmati sambal. Aku bukan anak kecil yang suka disuapi, Sayang. Nanti aku akan memesan Coto Makassar saja Kak makan malam. Kamu makan bebek goreng buatanku tadi." Ana benar-benar sangat senang melihat sang suami yang lahap menikmati masakannya.


Sebuah pemandangan yang jarang dilihatnya karena memang ia hanya memasak pada hari Minggu saja. Apalagi jika sangat lelah dengan pekerjaan di kantor, memilih untuk mengajak sang suami makan di luar.


"Baiklah, kalau begitu. Padahal aku ingin menyuapimu secara langsung saat makan sambal ijo ini. Ternyata kamu sudah kenyang dan tidak ingin mencobanya. Padahal ini sangat enak, Sayang." Christian mengambil udang goreng dan langsung menggigit serta mengunyahnya.


Sampai ia melihat senyuman Ana yang terlihat bahagia ketika melihatnya makan. "Aku benar-benar seperti tidak makan selama satu minggu saja, kan?"

__ADS_1


Ana hanya tertawa mendengar perkataan sang suami yang terlihat sangat menggemaskan. "Mungkin bukan satu minggu, lebih dari itu karena tidak menikmati masakanku setiap hari Minggu. Jadi, karena sudah lama tidak menikmati masakanku, membuatmu seperti ini."


Saat Ana baru saja menutup mulut, melihat pelayan yang datang.


"Tuan, Nyonya, ada tuan Vicky di depan. Katanya ingin menyampaikan sebuah berita yang penting." Sang pelayan sebenarnya tidak enak mengganggu ritual makan dari majikannya, cara mendapatkan pesan ada kabar penting yang ingin disampaikan sang asisten pribadi, sehingga membuatnya meningkat untuk memberitahu.


Ana yang berasal benar-benar ada hal penting, kini menganggukkan kepala dan menatap ke arah sang suami. "Hal penting apa yang akan disampaikan oleh Vicky? Selesaikan dulu makanmu, Sayang. Biar aku yang menemui Vicky terlebih dahulu."


Saat Ana bangkit berdiri dari kursi dan berniat untuk berjalan meninggalkan ruang, tidak bisa melakukannya ketika tangannya ditahan oleh sang suami yang menatapnya tajam.


"Tunggu! Aku sebentar lagi selesai. Kita temui Vicky bersama. Semenjak kamu mengatakan hal tadi mobil tadi, benar-benar membuatku tidak nyaman ketika melihatmu bersama dengan Vicky hanya berdua saja."


"Padahal pada kenyataannya, satu minggu lagi aku harus kembali ke New York dan meninggalkanmu bersama dengan Vicky. Sangat konyol jika dipikirkan, tapi saat aku ada di sini, tidak ingin melihatmu hanya berduaan dengan Vicky." Christian yang baru saja mengungkapkan sesuatu di pikirannya, kembali menyuapkan sisa makanan ke dalam mulutnya.


Hanya tersisa dua suapan dan kemudian ia bangkit berdiri dari kursi. "Aku cuci tangan dulu."


Ana saat ini bisa memaklumi pemikiran dari sang suami dan membuatnya menunggu pria dengan bau lebar tersebut mencuci tangan di wastafel.


'Ini semua adalah salahku karena tadi berbicara konyol padanya. Jadi, harus bisa menerima kesalahan yang kau lakukan,' gumam Ana asisten pribadinya.


Christian yang saat ini baru saja selesai mencuci tangan, berbalik badan dan langsung merangkul pinggang sang istri. "Ayo, kita temui Vicky. Apa yang sebenarnya ingin dikatakannya? Aku benar-benar penasaran kenapa ia tidak menelpon untuk menyampaikannya pada kita."

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2