365 Days With You

365 Days With You
Berakting


__ADS_3

"Syukurlah demam putra kita sudah turun, Sayang." Christian yang kini memeluk erat tubuh Ana saat duduk di sebelah ranjang perawatan putranya yang masih tertidur lelap setelah diberikan obat melalui infus.


Ana yang kini melingkarkan tangannya pada pinggang kokoh sang suami, merasa sangat lega setelah dari tadi diuji dengan perasaan berkecamuk karena dipenuhi oleh kekhawatiran saat bayi yang dianggap sebagai putranya sendiri tersebut demam tinggi.


"Iya, Sayang. Aku benar-benar sangat khawatir tadi. Apalagi aku tahu bahaya demam tinggi pada bayi bisa menyerang syaraf." Ana kini menyentuh tangan mungil malaikat kecil yang tertidur pulas itu.


Tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah bayi berusia 3 bulan itu, Ana mengungkapkan kekhawatirannya. "Sayang, aku takut tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk Valerio. Saat besar nanti, dia tidak membenciku karena memisahkannya dari ibu kandungnya, kan?"


Ana tahu jika ia adalah seorang wanita egois karena tidak ingin kehilangan Christian dan serakah ingin menjadi ibu dari Valerio begitu sang suami menjelaskan semuanya.


Rasa benci dan luka di hatinya seketika hilang kala mendengar pengakuan sang suami dan membuatnya makin mencintai sosok pria yang sudah hampir 11 tahun hidup bersamanya mengarungi bahtera rumah tangga.


Bahkan banyak ujian yang datang tidak membuat biduk rumah tangga mereka karam meskipun ia tidak bisa memberikan keturunan.


Christian yang bisa mengerti bagaimana perasaan Ana karena ia tahu jika sang istri adalah seorang wanita baik. Jika bukan karena idenya, mana mungkin Ana merebut Valerio yang merupakan buah cintanya dengan Laura.

__ADS_1


Ia kini mengusap lembut punggung belakang Ana agar tidak selalu menyalahkan diri. Tidak perlu berpikir hal yang hanya membuatmu tidak tenang, Sayang. Fokus saja pada putra kita. Suatu saat ia akan mengerti dan tidak akan pernah menyalahkanmu."


Saat Christian baru saja menutup mulut, ia melihat Ana mendongak menatapnya dan membuatnya menelan saliva dengan kasar.


"Apa kamu mencintai wanita bernama Laura itu? Aku tahu jika sampai sekarang kamu menyuruh detektif untuk membuntuti wanita itu. Karena aku pun melakukan hal yang sama dan detektif melapor padaku." Sebagai seorang wanita yang menjadi istri dari pria di sampingnya tersebut, ia tahu bagaimana perubahan dari sang suami.


Hanya saja, ia tidak mungkin marah atau pun menyalahkan sang suami yang berpaling pada wanita lain gara-gara kekurangannya.


"Sayang, apa masih kurang bukti untuk meyakinkanmu? Aku bahkan sudah meninggalkannya dan merebut Valerio darinya di hari ia meninggalkan. Apa kamu masih meragukan perasaanku padamu?" Christian tidak bisa menjawab Ana dengan jujur karena itu akan menyakiti perasaan sang istri.


Jadi, memilih untuk bertele-tele dengan berbicara dengan berputar-putar tanpa mengiyakan tuduhan yang memang benar adanya tersebut.


'Apa Laura suatu saat akan menikah dengan pria yang berprofesi sebagai pengacara itu? Apa aku bisa menerima kenyataan itu jika benar-benar terjadi? Ya Allah, berat sekali rasanya. Padahal aku sudah dengan kejam menceraikan Laura saat ia melahirkan dulu.'


Sementara itu, Ana yang sudah bisa mengerti bagaimana perasaan sang suami yang tidak menjawab pertanyaannya, kini masih menatap intens wajah dengan rahang tegas itu.

__ADS_1


"Maafkan aku, Sayang. Aku meragukanmu saat kamu sudah meninggalkan wanita itu dan menyerahkan anak ini untuk kurawat. Pasti kamu melakukannya untuk berjaga-jaga jika dia menuntut kita, bukan?" tanya Ana yang kini bisa melihat sang suami melamun dan ia pun langsung menepuk pundak kokoh itu.


"Sayang ...."


"Aaah ... maaf, Sayang. Aku sedang banyak pikiran karena mengkhawatirkan keadaan putra kita. Hidup kita sudah bahagia, jadi jangan membahas tentang hal seperti itu lagi, oke. Sekarang kita fokus menatap masa depan dengan membesarkan Valerio dengan baik," ujar Christian yang kini menatap ke arah putranya.


Sementara itu, Ana kini tersenyum simpul dan berpikir jika apa yang dikatakan oleh sang suami benar adanya. "Iya, Sayang. Aku akan mencurahkan kasih sayangku pada putra kita. Inilah yang dari dulu aku harapkan."


"Bisa menjadi seorang ibu dan membesarkan anak kita dengan baik. Terima kasih karena telah membuatku menjadi wanita sempurna." Ana kini menghadap ke arah sang suami dan melingkarkan kedua tangan pada pinggang kokoh itu.


Sementara Christian seketika membalas pelukan Ana dan mengusap punggung belakangnya. "Jangan berterima kasih karena aku sama sekali tidak membutuhkannya."


"Cukup hidup berbahagia seperti dulu, itu saja yang kuinginkan, Sayang. Aku tahu itu tidak mudah bagimu, tapi aku harap kita bisa kembali seperti dulu lagi." Christian kini merasakan pergerakan Ana yang melepaskan pelukan dan menatapnya.


Ana tahu jika sebenarnya permohonan Christian sangat sepele, tapi hatinya sudah terlanjur terluka karena dikhianati oleh sang suami. Ia hanya bisa berakting bahagia dan berusaha dengan baik agar kembali seperti dulu lagi.

__ADS_1


"Iya, Sayang. Aku akan melakukan itu karena ingin rumah tangga kita bahagia selamanya dengan anak kita yang kelak dibanggakan oleh banyak orang." Ana kini mengulas senyuman manis dan berharap bisa menyembunyikan perasaan sebenarnya.


To be continued...


__ADS_2