
Laura yang tadinya berniat untuk turun dari gendongan Mario karena merasa malu pada mertuanya, diam dan tidak menyalahkan ataupun mengiyakan perkataan wanita paruh baya tersebut ketika sangat mendukung lamaran pria yang baru beberapa hari menjadi kekasih.
Ia bahkan saat ini menatap ke arah Mario dan memberikan kode agar menurunkannya karena ingin berbicara dengan mertuanya. Hingga ia merasa sangat lega begitu keinginannya dipenuhi.
"Kamu masuk dulu ke dalam untuk menemani putraku. Aku ingin berbicara empat mata dengan mama." Saat Laura tadinya berpikir jika Mario akan seperti biasanya setuju, kini mengerutkan kening melihat gelengan kepala.
"Aku perlu mendengarnya dan tidak ingin ada rahasia apapun di antara kita. Lagipula kamu belum menjawab apakah setuju menikah denganku?" Mario sebenarnya selama ini dipenuhi oleh rasa tidak percaya diri di hadapan Laura yang diyakininya masih memiliki perasaan pada mantan suami yang menyakiti dan menghancurkan hati.
Namun, ia tetap ingin mencoba dan menunjukkan betapa tulusnya cinta yang dimiliki. Pantang menyerah menjadi prinsipnya semenjak dulu dan diterapkan sampai saat ini. Jadi, meskipun Laura belum mempunyai perasaan padanya, tetap saja ingin menjadi pelabuhan terakhir.
"Kita sekarang merupakan sepasang kekasih dan bukan lagi sebagai bos serta bawahan. Jadi, apakah aku berhak untuk mengetahui apa yang kamu bicarakan dengan nyonya Renita Padmasari?" Ia sebenarnya berdebar-debar ketika melihat raut wajah datar Laura yang tidak langsung menjawab.
__ADS_1
Namun, kekhawatirannya seketika sirna dan berubah menjadi seruan lega karena saat ini berpikir jika Laura benar-benar serius ingin membuka hati dan memberikan kesempatan untuknya tinggal di hati wanita yang baru saja tersenyum serta menganggukkan kepala tanda setuju.
"Baiklah. Aku sama sekali tidak keberatan kamu mendengarkan." Laura tahu jika Mario tengah menunjukkan sikap overprotektif dan membuatnya sadar bahwa cinta Mario begitu besar padanya.
Ia membesarkan hatinya dan berpikir bahwa dicintai lebih baik daripada mencintai. Kemudian beralih menatap ke arah sosok wanita paruh baya yang terdengar seperti ingin membuatnya sadar jika ia bukanlah satu-satunya wanita di dunia yang hidup dengan Christian.
"Mama benar. Aku juga sangat mendukung jika Christian menikah lagi dan memiliki keturunan dari istrinya kelak. Kita akhiri semua perdebatan mengenai Valerio."
Laura merasa sangat yakin jika perasaan wanita paruh baya di hadapannya tersebut sangat tidak baik melihat kemesraan yang ditunjukkan Mario padanya dan juga mengenai pernikahan.
Jadi, memilih untuk bertanya, agar tidak terjadi kesalahpahaman karena dipikir mengusir seorang nenek yang ingin bersama dengan cucu satu-satunya sangatlah kejam. Hingga ia merasa sangat lega begitu melihat mertuanya tanpa pikir panjang langsung menganggukkan kepala, tanda setuju.
__ADS_1
"Kamu benar, Laura. Kita mengharapkan yang terbaik untuk semuanya. Mama yakin jika kamu bisa menjadi seorang ibu yang baik, sehingga kini dengan mudah menjaga Valerio, meskipun keadaanmu belum pulih." Mama akan pulang karena berpikir jika Christian membutuhkanku saat ini.
"Nanti, kabari kami tentang kondisi kesehatan Valerio," ucap Renita Padmasari yang saat ini memeluk erat tubuh Laura sebelum pergi.
"Iya, Ma. Aku pasti akan memberitahu. Sekali lagi, terima kasih karena sudah menjadi seorang ibu untuk anak yatim piatu sepertiku. Apalagi Mama tidak pernah marah meskipun aku melakukan kesalahan. Aku tidak akan bisa membalas semua kebaikan Mama padaku," ucapnya dengan membalas pelukan.
Laura bahkan saat ini sudah berkaca-kaca bola matanya begitu mendengar suara serak dari mertuanya yang tengah mengusap punggungnya.
"Mama ingin menebus kesalahan pada Ana dengan bersikap baik padamu," lirih Renita Padmasari yang saat ini sudah berurai air mata memikirkan dosa-dosanya di masa lalu pada menantunya yang telah meninggal.
To be continued...
__ADS_1