365 Days With You

365 Days With You
Suara teriakan kesakitan


__ADS_3

"Katakan atau nasihati Valerio agar tidak selalu tantrum saat ingin melihatmu. Apalagi kamu harus dirawat di sini demi kesembuhan. Jadi, biar Valerio tidak terus menerus bergantung hanya padamu. Biarkan cucuku bergantung pada orang lain agar tidak menyusahkan kami semua." Renita


Renita Padmasari yang dari tadi melihat interaksi dari menantu dan cucunya tersebut, mengingat tentang Laura yang mungkin masih berbicara dengan Christian untuk menyelesaikan masalah diantara mereka, akhirnya mengungkapkan semua yang mengganjal di pikirannya.


Selain itu ia pun juga kasihan pada Laura karena tidak merawat putra kandung sendiri saat mendapatkan kekejaman dari Christian.


Ana yang dari tadi sibuk mengusap lembut punggung dan rambut hitam berkilat putranya yang memeluknya, kini mengalihkan perhatian pada sang mertuanya.


"Iya, Ma. Aku akan menasihati putraku agar tidak seperti itu. Semoga dengan perlahan menyampaikannya, bisa berubah dan lebih mengerti tentang cara mengekspresikan diri saat marah, kesal dan kecewa." Ana kini beralih kembali pada putranya dan beberapa kali mengajak bicara dengan lembut dan penuh kasih sayang.


Bahkan tetap mengusap lembut rambut putranya sambil sesekali mencium keningnya. Namun, beberapa menit kemudian, rasa sakit yang tadi dirasakan kembali menyerang perutnya. Awalnya ia berpikir menahannya sekuat tenaga dan berharap akan menghilang setelah beberapa saat.


Faktanya, sudah beberapa menit berlalu, tetap tersiksa dengan rasa sakit dan membuatnya tidak bisa melanjutkan berbicara pada putranya. Ia ingin menjerit kesakitan, tapi tidak mungkin melakukan itu di depan putranya yang berbaring memeluknya.

__ADS_1


Jadi, ia berbicara pada mertuanya. "Ma, tolong aku! Rasanya aku sudah tidak kuat lagi."


Renita Padmasari yang saat ini langsung bangkit berdiri dari sofa, berjalan cepat mendekati menantunya yang berkeringat dan suaranya sangat serak serta terdengar seperti orang gemetar.


"Apa yang terjadi, Ana? Apa kamu ingin aku memanggil perawat?" Kemudian langsung memencet tombol pada atas ranjang perawatan tersebut.


Sementara itu, Ana yang tidak ingin menjelaskan, kini hanya menoleh ke arah putranya. "Tolong bawa putraku keluar, Ma. Sekarang!"


Tidak bisa menolak perintah Ana, kini Renita Padmasari berusaha untuk menggendong cucunya. Meski ia tahu ada yang tidak beres, tetapi tidak bisa bertanya saat harus segera melaksanakan perintah.


Saat ia berjalan keluar setelah bilang pada Ana, kini ia mendengar suara teriakan kesakitan begitu menutup pintu. Tentu saja ia tahu jika Ana langsung berteriak saat merasakan kesakitan luar biasa dan benar-benar terdengar sangat jelas di telinganya.


Di saat bersamaan, melihat dua perawat datang dan langsung masuk ke dalam untuk memeriksa keadaan Ana. Jadi, ia langsung menghubungi nomor Laura karena nomor putranya malah tidak aktif.

__ADS_1


Hingga beberapa saat kemudian, ia melihat Christian dan Laura berlarian menuju ke arahnya.


"Apa yang terjadi, Ma?" seru Christian yang tadi langsung berlari keluar dari kantin begitu diberitahu oleh Laura.


Ia berpikir jika saat ini kondisi Ana semakin memburuk karena melihat wajah semakin pucat, jelas sekali jika sang istri benar-benar merasakan kesakitan luar biasa, tapi ditahan dan tidak ingin ditunjukkan padanya maupun orang lain.


Renita Padmasari kini menjelaskan semuanya agar putranya paham dan menyuruh untuk masuk ke dalam memastikan.


Laura yang merasa lega karena putranya baik-baik saja, kini membuka tangan untuk membuatnya pindah ke gendongannya. 'Jadi, wanita itu semakin memburuk? Apa Rumah Sakit ini tidak ada alat yang bagus untuk menyembuhkan penyakitnya?'


Saat ia sibuk dengan sistem di Rumah Sakit, melihat Christian yang berlari masuk ke dalam ruangan setelah sang ibu bercerita dan membuatnya kembali merasa gagal menjadi wanita yang dicintai begitu besar oleh seorang pria.


'Apa aku berdosa jika berharap wanita itu meninggalkan dunia ini agar aku tidak mempunyai saingan berat untuk merawat putraku?' gumam Laura yang saat ini menatap ke arah mertuanya.

__ADS_1


"Mama lihat itu? Cinta Christian teramat besar pada Ana dan sama sekali tidak ada tandingannya. Putra Mama hanya menganggap aku hanyalah mesin pencetak keturunan karena tidak bisa mendapatkan dari istrinya," sarkas Laura yang seketika menoleh ke arah pintu begitu mendengar suara teriakan dari dalam ruangan tersebut.


To be continued...


__ADS_2