365 Days With You

365 Days With You
Aku tidak akan pernah meninggalkanmu


__ADS_3

Sosok pria yang masih terbaring di atas ranjang, tak lain adalah Vicky Syailendra yang saat ini masih memegang ponsel yang baru saja mati setelah mendapatkan telpon dari bosnya.


Bahkan kedua matanya seolah masih melekat dan belum bisa terbuka sepenuhnya. Karena ia saat ini tengah meresapi perintah dari sang bos yang mengatakan akan menikahi siri wanita yang mengalami kecelakaan itu.


Refleks ia bangkit dari posisi yang dari tadi masih nyaman di balik selimut tebal dengan bertelanjang dada dan hanya memakai celana boxer hitam. Ia yang selalu nyaman tidur tanpa mengenakan baju maupun ****** *****, kini melirik mesin waktu yang ada di dinding sebelah kanan.


"Menikah siri? Astaga, Bos. Ini bahkan subuh aja belum, tapi sudah mengganggu waktu istirahatku hanya gara-gara ingin menikah? Bahkan aku semalam menyelesaikan proposal untuk project di New York sampai jam 2 malam."


Bahkan ia kini memijat pelipis karena merasa kepalanya benar-benar pusing saat tidur hanya dua jam saja.


"Aaarggh ... sial! Aku ingin tidur lagi! Tapi bisa-bisa aku dipecat nanti," seru Vicky yang saat ini dengan malas bangkit berdiri dari posisinya.


Tentu saja ia ingin mencuci muka terlebih dahulu agar matanya bisa terbuka sepenuhnya dan rasa kantuk menghilang dari dirinya. Hingga beberapa saat kemudian, terlihat pria yang masih bertelanjang dada itu keluar dari kamara mandi.


Kemudian memakai kaos casual miliknya dan langsung mengambil ponsel di atas ranjang untuk menghubungi seseorang, yaitu salah satu tetangga di tempat kos dulu ketika masih tinggal di perkampungan padat penduduk di salah satu sudut Jakarta.


Ia sebenarnya berasal dari Jawa dan merantau ke Jakarta untuk merubah nasib. Namun, sudah 5 tahun berada di Jakarta, uang yang dihasilkan hanya cukup untuk makan dan jarang bisa mengirimkan uang untuk orang tua di kampung.


Namun, setelah menjadi asisten pribadi Christian Raphael, hidupnya berubah 180 derajat. Ia yang biasa kekurangan uang di akhir bulan, kini tidak pernah lagi merasakan itu. Ia benar-benar sangat bersyukur bisa mengenal seorang pria hebat serta baik hati seperti itu.


Jadi, selalu cepat tanggap untuk melaksanakan perintah dari bosnya tersebut. Meskipun tengah malam atau pun pagi buta, tidak akan membuatnya malas untuk mengerjakan perintah bosnya.


Meskipun awalnya mengeluh, itu hanya sebuah ungkapan refleks yang manusiawi karena siapapun pasti akan kesal saat tiba-tiba dihubungi di pagi buta.


"Semoga Rudi bisa membantuku untuk datang ke rumah pak Erwin yang biasa menikahkan orang dan selalu menjadi salah satu andalan keluarga untuk menikah siri." Kemudian Langsung pencet tombol panggil pada kontak sahabatnya dan menunggu hingga panggilannya diangkat.


Ia bahkan harus menelpon sampai dua kali karena tidak langsung diangkat oleh sahabatnya dan menyadari itu karena saat ini masih jam istirahat.


"Pasti ia masih tidur pulas dan tidak peduli ada telepon atau memakai mode getar agar tidak mengganggu waktu istirahatnya. Jika Rudi tidak mengangkat panggilan dariku, aku terpaksa ke sana untuk untuk berbicara langsung pada pak Erwin."


Vicky saat ini masih terdiam sambil menunggu panggilan diangkat, tapi meskipun sudah tiga kali menghubungi, tetap tidak ada jawaban.


Akhirnya ia mengganti pakaiannya dengan yang lebih pantas karena ingin langsung ke rumah orang yang biasa menikahkan banyak pasangan. Ia pun mengambil kunci mobil udah langsung keluar dari apartemen.


Tanpa memperdulikan suasana di luar yang pastinya masih gelap dan ia pun melangkahkan kaki panjangnya menyusuri lorong apartemen yang masih sangat sunyi.

__ADS_1


Seolah menunjukkan bahwa masih banyak orang yang larut dalam malam mimpi dan belum terlihat sama sekali aktivitas dari para penghuni apartemen itu.


Saat ia masuk ke dalam lift, mendengar suara dering ponsel miliknya dan tidak membuang waktu langsung mengangkat begitu mengetahui jika yang menelpon adalah sahabatnya.


Dengan menggeser tombol hijau ke atas, ini sudah mendengar suara bariton dari seberang telepon.


"Halo, Vicky. Tumben kamu hubungi di jam segini? Sepertinya padahal penting yang ingin kau sampaikan padaku. Apa yang kamu inginkan? Hingga membangunkanku di pagi buta," sahut Rudi yang baru saja mengucap matanya setelah beberapa kali indera pendengarannya merasa terganggu saat ada telepon masuk.


Awalnya ia tidak membiarkan dan tidak ingin mengangkat, tapi karena tiga kali berdering dan berpikir jika itu penting, membuatnya langsung membuka mata dan memeriksa siapa yang menghubungi.


Begitu mengetahui bahwa sahabatnya yang menelpon, merasa ada sesuatu yang sangat penting, sehingga menelpon balik karena merasa sangat penasaran apa yang diinginkan oleh Vicky yang sekarang telah sukses karena bekerja di salah satu perusahaan besar di Jakarta.


"Maafkan aku karena mengganggu waktu istirahatmu, Bro. Tapi ini benar-benar mendesak dan sangat penting. Aku butuh bantuanmu dan akan membayar mahal untuk pekerjaan ini."


Kemudian ia mengatakan perintahnya dan menyuruh sahabatnya untuk menutup mulut mengenai rahasia besar yang tidak boleh diketahui oleh orang lain.


Ia mengancam sahabatnya itu agar tidak membuka rahasia mengenai bosnya yang menikah siri dengan wanita lain.


"Jadi, tidak ada yang boleh tahu mengenai bosku menikahi wanita lain karena ini adalah sebuah rahasia yang harus dijaga. Nanti setelah semuanya beres, aku akan langsung mentransfer uangnya dan berikan pada pak Erwin, serta untukmu."


Ia bahkan berpikir untuk membawa cincin saat menuju ke rumah sakit. Apalagi ia harus datang tepat waktu ke kantor karena jika terlambat, akan mendapatkan kemurkaan dari istri bosnya.


Jadi, semua harus diselesaikan sebelum jam kantor dimulai, sehingga membuatnya harus cepat tanggap dan bisa melaksanakan dua pekerjaan sekaligus di pagi hari ini.


"Baiklah. Aku nanti akan pergi ke tempat pak Erwin. Memangnya ingin melaksanakan pernikahan jam berapa?" tanya Rudi yang saat ini bisa melihat waktu pada ponselnya dan mengetahui bahwa masih terlalu awal ia pergi bertamu ke rumah orang.


Ia berencana ke sana setelah orang-orang turun dari masjid setelah melaksanakan ibadah. Jadi, ingin memastikan semuanya sebelum melakukan perintah dari sahabatnya yang sekarang banyak uang dan ia pun akan mendapatkan komisi besar dari pekerjaan mudah itu.


"Kalau bisa, secepatnya. Mungkin jam 6 pagi pak Erwin harus sudah datang ke rumah sakit karena ini benar-benar urgent. Bagaimana jika pihak wanita meninggal sebelum dinikahkan? Pasti bosku akan sangat terpukul karena tidak bisa memenuhi keinginan terakhir dari kekasihnya yang ingin dinikahi."


Vicky seketika memukul mulutnya sendiri karena berbicara seperti itu seolah ia mendoakan kekasih bosnya meninggal sebelum menikah.


'Jika bos tahu aku berbicara seperti ini, pasti langsung menggorok leherku hingga putus,' gumam Vicky yang saat ini ingin memfilter ucapannya agar tidak membuat sahabatnya tersebut berbicara seperti itu di depan bosnya nanti.


Karena berharap jika Rudi akan menjemput dan mengantar pria yang akan menikahkan itu ke rumah sakit karena ia tidak punya waktu untuk datang menjemput.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan mengatakan bahwa ini adalah sebuah hal mendesak dan memiliki bayaran lebih. Aku sangat yakin jika pak Erwin akan langsung mengiyakan serta datang ke rumah sakit sebelum jam 6. Jadi, kamu tenang saja dan siapkan semuanya."


Rudi saat ini seolah mengejar waktu dan tidak lagi menunggu untuk pergi ke rumah tetangganya yang berjarak 5 rumah dari tempat tinggalnya.


Bahkan ia hanya mencuci muka asal wajahnya di kamar mandi, sambil masih membawa ponsel untuk mendengar jawaban dari sahabatnya di seberang telpon.


"Terima kasih. Aku akan langsung menunggumu di rumah sakit. Aku juga harus menyiapkan mahar serta cincin untuk bosku dan calon istrinya. Oke, bye!"


Vicky kemudian langsung mematikan sambungan telpon dan beralih menghubungi bosnya untuk menanyakan mahar apa yang sekiranya akan diberikan untuk Laura.


Ia tidak perlu menunggu waktu lama karena satu kali tersambung sudah langsung mendapatkan jawaban dari pria di balik telepon.


"Bagaimana?" tanya Christian yang saat ini masih duduk di sebelah Laura dan tidak lagi berniat tidur setelah memiliki niat penuh keyakinan untuk menikahi wanita yang masih betah memejamkan mata tersebut.


"Sebelum pukul 6 pagi, akan datang orang yang akan menikahkan Bos. Oh iya, saya ingin menanyakan perihal penting. Kira-kira Anda ingin memberikan mahar apa?" tanya Vicky yang saat ini sudah kembali ke apartemen.


Ia berniat langsung mandi dan bersiap untuk mengambil cincin dari toko langganan keluarga bosnya yang bisa dihubungi sewaktu-waktu jika dibutuhkan mendadak.


"Aku masih menyimpan uang Dollar dan berencana memakainya untuk mahar. Kamu bawakan saja cincin kawin untuk Laura. Mungkin hanya itu saja," ucap Christian dari seberang telpon tanpa mengalihkan pandangan dari wanita dengan wajah pucat di atas ranjang perawatan tersebut.


Ia berniat untuk memberikan mahar uang Dollar sebagai kenangan bahwa ia bertemu Laura di New York. Ia berharap jika itu akan selalu mengingatkan Laura padanya.


"Oke, Bos. Kalau begitu, saya akan menyiapkan semuanya dan datang sebelum pria yang akan menikahkan Anda."


Kemudian di seberang telpon, Christian langsung mematikan sambungan telepon setelah mengiyakan perkataan dari asisten pribadinya yang membuatnya merasa sangat lega karena semuanya berjalan dengan lancar.


"Kamu bisa melihat keseriusanku padamu, bukan? Aku yakin bahwa kamu tahu jika pria yang membuatmu jatuh cinta untuk pertama kalinya, adalah orang paling tepat dan pantas kamu banggakan serta cintai." Christian saat ini bangkit dari kursi dan mencium kening Laura.


"Aku akan selalu menjagamu, Lauraku," lirih Christian dengan mata yang berkaca-kaca karena ia benar-benar tidak menyangka akan bisa menikahi sosok wanita yang ia pikir tidak mungkin ia miliki karena terhalang perasaannya pada Ana.


Namun, seiring berjalannya waktu dan kemalangan yang terjadi pada Laura, sehingga membuatnya merasa yakin pada keputusannya untuk memutuskan menikahi wanita malang yang tidak diketahui asal usul keluarganya tersebut.


"Laura, aku tidak akan pernah meninggalkanmu," ucap Christian yang saat ini masih tidak berkedip menatap intens wanita dengan perban di kepala dan beberapa alat-alat yang menopang hidupnya dengan suara yang membuat bulu kuduk merinding.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2