365 Days With You

365 Days With You
Apa maumu?


__ADS_3

Christian yang saat ini merasa kecewa karena panggilan telpon tidak mendapatkan balasan, meskipun sudah melakukan beberapa kali. "Sepertinya Laura sangat sibuk dengan pernikahannya, sehingga tidak mengangkat telepon dariku."


Christian yang tadinya ingin fokus bekerja, pikirannya sudah melanglang buana pada mantan istri yang akan mengakhiri status janda. Hingga saat mengembuskan napas kasar karena terganggu dengan hal itu, mendengar suara notifikasi dan segera membukanya.


Ia kini membaca pesan dari sang ibu yang panjang lebar ditulis seperti tidak pantang menyerah untuk membuatnya menghentikan pernikahan Laura.


"Mama tahu jika kamu masih terpuruk setelah meninggalnya Ana karena dipenuhi oleh rasa bersalah, tapi itu adalah masa lalu dan kita hidup di masa yang sekarang. Tuhan tahu apa yang terbaik untuk umat-Nya. Jadi, sepertinya, meninggalnya Ana merupakan jalan untukmu rujuk dengan Laura. Jadi, hentikan pernikahan hari ini dengan mengatakan niat baikmu untuk kembali pada Laura."


Christian mengakhiri membaca pesan dari sang ibu dengan tersenyum miris. Entah mengapa begitu membaca pesan dari sang ibu, ia semakin sadar jika merupakan seorang pria berengsek yang terkesan hanya memanfaatkan Laura dari awal sampai akhir.

__ADS_1


Ia bahkan saat ini masih memegang ponsel di tangan dan melihat pesawat panjang lebar dari sang ibu. Hingga ia tertawa terbahak dan wajahnya berubah memerah karena dipenuhi oleh angkara murka.


Refleks ia melempar beda pipih di tangan hingga terlihat berhamburan. Bahkan ia saat ini bangkit berdiri dari kursi kerjanya yang sangat nyaman dan menjadi tempat paling favorit untuknya.


"Berengsek! Ya, aku memanglah pria berengsek tidak berguna dan sekarang kehilangan segalanya. Ana, Laura dan bahkan putraku sendiri—Valerio. Kenapa mama sama sekali tidak mengerti bagaimana perasaanku saat ini?" Christian benar-benar sangat kecewa karena memiliki seorang ibu yang tidak bisa memahaminya.


Bahkan sangat marah ketika sang ibu selalu membahas tentang pernikahan dan pernikahan karena mengetahui jika ia berniat untuk tidak menikah lagi. Rasa khawatir dari seorang ibu bisa dimakluminya, tapi ia sadar jika itu malah serasa mencekiknya setiap hari.


"Ya, kamu benar, Laura. Hatimu yang terluka karena perbuatanku, tidak akan pernah kembali seperti semula. Saat aku menyakitimu, pasti seperti ini." Menatap ke arah ponselnya yang tercerai berai.

__ADS_1


"Meskipun kuperbaiki, tidak akan bisa membuatnya kembali seperti semula." Christian kini kembali bangkit berdiri dan menaruh ponsel di atas meja. "Tapi rasanya sangat berat membuang ini. Padahal ini hanyalah ponsel semata."


Ia saat ini membuka laci dan melihat ponsel yang dulu digunakan ketika bersama dengan Laura. Ia bahkan dulu sengaja membeli ponsel baru agar tidak membuat Laura menemukan sesuatu yang berhubungan dengan Ana.


Apalagi tidak mungkin menghapus semua foto-foto dengan Ana, sehingga mempunyai dua ponsel yang akhirnya disimpan bercerai dengan Laura. Ia kini langsung mengaktifkan kembali ponsel yang sudah lama non aktif tersebut.


"Nasib baik aku mengisi daya beberapa minggu sekali, sehingga tidak rusak. Apakah Laura akan mengangkat teleponku saat menggunakan nomor ini?" Saat ia menunggu jawaban dari seberang telpon, beberapa saat kemudian menelan saliva dengan kasar ketika suara yang sangat dihafalnya kini terdengar.


"Apa maumu menghubungiku? Kenapa menelpon saat aku akan menikah? Atau kau ingin berbicara dengan Valerio?" tanya Laura yang berada di kamar bersama putranya saat baru saja selesai dirias.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2