365 Days With You

365 Days With You
Di mana putraku?


__ADS_3

Saat ini, Vicky yang baru saja berbicara dengan bosnya, memasukkan ponsel pada saku jas dan kembali ke ruangan perawatan terbaik di perusahaan karena Ana Maria baru saja dipindahkan setelah ia mengurus semuanya.


Ia melangkah menyusuri lorong rumah sakit sambil memikirkan apa yang baru saja dibicarakan dengan bosnya beberapa saat lalu. "Kenapa masalahnya semakin rumit seperti ini? Aku pikir hidup tuan Christian dan nona Ana akan bahagia setelah nona Laura pergi."


"Tapi ternyata semua tidak seindah ekspektasi begitu nona Laura ke Bali sebagai pemegang saham tertinggi di perusahaan yang menjadi incaran Tuan Christian. Sekarang malah tuan valerio bersama dengan nona Laura. Rasanya, semua kebetulan ini tidak masuk akal dan pastinya sudah direncanakan oleh nona Laura." Ia saat ini sudah berdiri di depan ruangan istri dari bosnya tersebut.


Kemudian mengambil napas teratur dan menghilangkan kegelisahannya karena jujur saja ia khawatir jika ditanya oleh Ana Maria jika nanti tersadar. "Semoga nona Ana belum sadar sampai tuan Christian kembali. Biar suaminya yang menjelaskan karena aku benar-benar serba salah saat ini."


Setelah dirasa perasaannya sudah jauh lebih baik, kini ia membuka pintu dan masih melihat sosok wanita yang tadi disuruh untuk menemani Ana saat mengurus semuanya.


Ia bahkan bernapas lega karena saat ini pasien yang berada di atas ranjang perawatan tersebut belum sadar. "Sekarang Anda boleh pulang, Nyonya. Biar saya yang menunggu istri bos saya."


Wanita yang saat ini langsung bangkit berdiri dari kursi, seketika menganggukkan kepala. "Iya, Tuan. Kalau begitu, saya pulang dulu. Semoga nona ini segera sadar dan sembuh."

__ADS_1


Vicky yang seketika mengaminkan doa dari wanita baik itu, kini mengantarkan sampai ke depan dan kembali mengucapkan terima kasih sekali lagi serta membungkuk hormat sebagai salam perpisahan.


Begitu melihat siluet wanita yang berusia lebih tua darinya tersebut sudah semakin menjauh, ia kini kembali masuk ke dalam ruangan dan berniat untuk duduk di kursi yang tadi ditempati.


Ia yang baru saja mendaratkan tubuhnya di kursi sebelah kiri ranjang perawatan, kini menatap intens wanita dengan wajah pucat itu. 'Kasihan sekali nona Ana. Saat ia sakit, putra yang selama ini dirawat dan di anggap seperti anak kandung sendiri malah Tengah bersama dengan ibu kandungnya.'


'Ia pasti akan sangat terluka jika mengetahui hal itu. Cepatlah sembuh nona Ana,' gumam Vicky yang merasa sangat iba pada istri dari bosnya.


Apalagi ia sudah mengetahui apa yang menimpa wanita itu karena bosnya menceritakan semua hal padanya dan menganggap seperti saudara sendiri, sehingga sama sekali tidak ada rahasia diantara mereka.


"Kenapa takdir mempermainkan hidup kalian? Aku jadi tidak berani menikah melihat rumah tangga kalian yang sangat rumit," ucap Vicky yang saat ini berpikir bahwa menikah hanyalah membuat pusing dan berpikir bahwa hidup sendiri jauh lebih baik daripada harus dipusingkan dengan banyak hal mengenai hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan berumah tangga.


Saat berniat untuk memeriksa ponsel, apakah ada pesan dari bosnya atau tidak, ia mengurungkan niat begitu melihat pergerakan dari telapak tangan dengan jemari lentik itu.

__ADS_1


Ia mengerjapkan mata sekaligus merasa gugup karena yakin jika Ana Maria kini sadar. Refleks ia beralih menatap ke arah wajah wanita yang perlahan membuka kelopak mata.


"Nona Ana? Anda sudah sadar?" tanya Vicky yang seketika bangkit berdiri dari kursi untuk memastikan agar wanita itu bisa melihatnya.


Sementara itu, Ana yang saat ini baru saja membuka mata dan menormalkan cahaya yang masuk sampai ke iris matanya, kini mengerjap beberapa kali dan menatap ke arah sekeliling serta beralih pada sosok pria yang berdiri menjulang di hadapannya.


Saat hendak membuka suara, Ana merasa tenggorokannya sangat kering dan kesusahan untuk berbicara. Namun, berusaha untuk membuka suara, meski hanya satu kalimat saja.


"Air."


Refleks Vicky bergerak mengambil air mineral yang tadi sudah dibelinya dan membantu Ana minum dengan sedotan agar lebih mudah hanya dengan posisi berbaring. Ia tidak mungkin membantu duduk karena akan menyentuh wanita itu.


Khawatir akan menimbulkan kesalahpahaman jika menyentuh seorang wanita yang merupakan istri dari bosnya. Hingga begitu Ana minum, langsung mendapatkan pertanyaan yang dari tadi dikhawatirkan olehnya.

__ADS_1


"Valerio? Di mana putraku? Aku tadi pergi bersamanya untuk berbelanja dan tiba-tiba aku merasa sakit perut yang sangat luar biasa sekaligus sakit kepala. Jika aku pingsan, lalu di mana putraku sekarang?" tanya Ana yang saat ini langsung mengingat kejadian di supermarket ketika kehilangan kesadaran gara-gara sakit perut yang luar biasa menghantamnya sampai tidak kuat bertahan.


To be continued...


__ADS_2