
Suasana di rumah Christian saat ini masih dipenuhi dengan banyak orang yang datang pergi untuk melayat sebagai ucapan belasungkawa. Tentu saja dari tengah malam, pagi hari sampai sore masih ada orang yang datang.
Dari mulai sanak saudara, rekan bisnis, teman kuliah, staf perusahaan yang mendominasi orang-orang di rumah keluarga Christian. Bahkan Christian sama sekali tidak tidur dan menyapa orang-orang yang datang, serta mengucapkan terima kasih dan mohon maaf jika ada kesalahan dari sang istri agar dimaafkan.
Sebenarnya ia merasa sangat pusing karena efek tidak tidur sama sekali dan juga tidak selera makan. Tubuhnya saat ini serasa melayang dan kepala berkunang-kunang, tapi masih mencoba untuk tersenyum di hadapan para pelayat yang datang.
Saat beberapa rekan bisnis baru saja keluar dari rumah, Christian berniat untuk mengambil air minum di dapur karena tenggorokannya sangat kering. Ia bahkan sama sekali belum minum dari tadi, tapi ketika berniat untuk membuka mesin pendingin untuk mengambil air, tiba-tiba pandangannya kabur dan tubuhnya seketika terhuyung ke belakang dan terjatuh di lantai.
Christian yang kehilangan kesadaran, membuat salah satu pelayan yang melihat, seketika berteriak meminta tolong.
Kemudian beberapa pelayan pria langsung mengangkat tubuh majikannya tersebut menuju ke ruangan kamar.
Sementara itu, Renita Padmasari yang tadinya setengah berbicara dengan salah satu kerabat yang baru saja datang, seketika bangkit berdiri dari kursi dan memeriksa putranya. Ia memang tadi sudah menasihati putranya agar makan dan minum, tapi sangat susah dan meskipun dipaksa tetap tidak mau.
Hingga ia yang saat ini melihat putranya terbaring di atas ranjang, kini membuatnya merasa tidak tega dan berkaca-kaca. "Sayang, kamu harus kuat menghadapi ini semua."
Ia saat ini memeriksa kening putranya untuk memastikan apakah sedang demam. Begitu merasakan jika tubuh putranya sedikit menghangat, membuatnya memerintahkan pelayan untuk membawakan air yang digunakan mengompres.
"Jika kamu berubah selemah ini, siapa yang nantinya akan menjaga putramu? Bahkan saat ini Laura masih dirawat di rumah sakit dan tidak mungkin bisa merawatnya. Setelah ini, makan ada banyak perjuangan yang harus kamu lakukan, Putraku." Renita Padmasari saat ini berpikir jika putranya harus berubah kuat.
Meskipun pikiran dan fisik mungkin tidak mendukung karena benar-benar terguncang dengan kematian Ana Maria, tapi saat ini yang terpikirkan olehnya adalah putranya harus membantu Laura untuk menyingkirkan orang-orang jahat yang mengelilinginya.
__ADS_1
Baru kemudian memikirkan masa depan. Ia berharap putranya nanti akan bersatu kembali dengan Laura agar tidak memperebutkan hak asuh Valerio. Ia yang saat ini baru saja menerima air hangat dan kompres dari pelayan, segera menaruh di kening putranya.
Saat baru saja melakukannya, mendengar suara bariton dari pria yang baru saja masuk ke dalam menoleh ke arah sang suami.
"Christian pasti sangat terpukul dan merasa sangat bersalah pada Ana, sehingga terlihat sangat lemah seperti ini. Entah mengapa takdir mempermainkan mereka bertiga. Apalagi Laura sebelumnya juga berada di ruangan operasi sebelum Ana, tapi nasib mereka berdua berbeda."
Laymar Raphael saat ini masih tidak mengalihkan perhatiannya dari putranya yang memejamkan mata. Ia benar-benar tidak tega, tapi berpikir bahwa harus membuat putranya berubah lebih kuat jika nanti sadar, berniat untuk menasehatinya.
Saat ini, Renita Padmasari ingin mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya. "Bukannya Mama sama sekali tidak menghargai Ana sebagai istrinya yang baru saja meninggal, tapi saat ini memikirkan putra kita dan juga Valerio."
"Menurutmu bagaimana? Mengenai niat Laura yang ingin merebut hak asuh Valerio? Bukankah lebih baik jika mereka kembali bersama demi Valerio? Lagipula Ana sudah tidak ada di dunia ini dan tidak mungkin putra kita akan menjadi duda selamanya."
Namun, begitu Ana Maria tiada, hal yang paling ia pikirkan adalah tentang nasib cucunya yang pasti tidak akan hidup bahagia jika orang tua kandung hidup terpisah.
"Apa kamu mengerti apa yang aku maksudkan?" tanya Renita Padmasari saat menatap ke arah sang suami yang sudah lebih dari 30 tahun menemaninya dalam suka dan duka.
Ia dulunya berpikir jika putranya akan meneruskan jejak mereka, tapi ternyata semua tidaklah semulus itu karena kehidupan yang terlihat sempurna dari rumah tangga putranya, tidak membuat mereka memiliki keturunan dan berakhir diam-diam menikah dengan wanita lain.
Saat Laymar berniat untuk menanggapi perkataan dari sang istri yang sangat dipahami olehnya, ia melihat pergerakan dari sosok putranya yang ada di atas ranjang. "Putramu sudah bangun. Lebih baik kita bicarakan masalah itu nanti."
Refleks Renita Padmasari seketika menoleh ke arah putranya yang kini terlihat membuka mata sambil memijat kepala. "Syukurlah kamu sudah sadar, Sayang. Mama bener-bener sangat mengkhawatirkanmu."
__ADS_1
Saat ini, Christian yang tadi mendengar suara samar-samar dari sang ibu dan akhirnya membuka kedua mata untuk memastikannya. "Apa yang terjadi padaku, Ma? Aku tadi ...."
Ia tidak melanjutkan perkataannya karena tengah mengingat-ingat apa yang terjadi dan mendengar suara dari sang ibu yang menjelaskan sebelum ia mengetahuinya.
"Kamu pingsan tadi ketika hendak mengambil air minum di dapur. Kenapa tidak meminta pelayan untuk mengambilkannya? Bukankah udah Mama bilang kamu harus makan dan minum agar tidak lemas." Ia berusaha untuk menyadarkan putranya agar berubah dan tidak terlihat lemah.
"Apalagi dari semalam kamu belum tidur. Jaga kesehatanmu karena jika sakit, siapa yang memperdulikan putramu? Atau kamu ingin segera menyerahkannya pada Laura?" Ia benar-benar sangat kesal karena putranya sangat susah untuk dinasehati.
Seolah tidak punya semangat hidup begitu Ana Maria telah meninggal. Padahal masih ada Valerio yang membutuhkan kasih sayang dan perhatian. Tadi ia menyuruh para pelayan menjaga Valerio.
Nasib baik semenjak cucunya pulang dari rumah sakit, sudah tidak pernah rewel lagi. Ia berpikir bahwa itu semua karena Ana. Saat mengajak Valerio bertemu dengan Ana untuk terakhir kalinya, nyuruh untuk menasehati agar cucunya tersebut patuh dan tidak rewel.
Ia saat ini seketika berkaca-kaca dan saat menahan bulir air mata agar tidak jatuh membasahi pipinya, gagal melakukannya karena saat ini sudah membanjiri wajahnya.
Selama ini ia selalu bersikap buruk pada menantunya tersebut dan saat ini benar-benar merasa bersalah. Apalagi yang terjadi adalah cucunya benar-benar mematuhi perintah dari Ana Maria agar tidak rewel ketika tidak ada dirinya.
Ia saat ini sudah menangis tersedu-sedu karena mengingat kesalahannya pada Ana dan juga merasa terharu karena cucunya benar-benar patuh pada perintah terakhir dari sang ibu sambung.
"Ana bahkan meninggalkan hal baik untuk putramu, sehingga tidak rewel lagi seperti biasanya. Valerio benar-benar patuh dan tidak lagi menangis," ucapnya dengan suara serak dan tubuh bergetar.
To be continued...
__ADS_1