365 Days With You

365 Days With You
Kecurigaan Laura


__ADS_3

Sosok wanita yang saat ini tengah berada di dalam kamar, terlihat berbaring di atas ranjang sambil mengusap beberapa kali ke arah bantal kecil yang dipeluknya.


Wanita yang tidak lain adalah Laura, saat ini sudah bersimbah air mata kala mengingat bayi yang dilahirkannya. Bahkan seolah sudah menjadi ritual sehari-hari semenjak sang suami yang bahkan masih sangat dicintai telah membawa pergi buah cinta mereka.


Satu bulan ini Laura selalu menangis tersedu-sedu setiap malam, meratapi nasibnya yang malang karena dikhianati oleh pria yang sangat dipercaya dan dicintai.


"Christian, tega sekali kau memanfaatkan aku hanya untuk melahirkan keturunan dan memberikannya pada istrimu. Aku tidak akan pernah memaafkanmu sampai kapan pun." Laura pun menjerit sepuasnya untuk meluapkan perasaan membuncah yang seperti meledak dalam dirinya.


Ia merasa selama ini hanya menjadi orang bodoh di mata pria yang paling dipercaya dan dicintai, tapi kini seolah sadar jika dirinya bukanlah seorang wanita lemah setelah mengingat tentang masa lalunya.


Refleks ia melempar bantal besar yang biasa dipakainya dengan Christian selama setahun belakangan ini. "Kau benar-benar berengsek, Christian. Aku tidak akan diam saja karena akan menghancurkanmu."

__ADS_1


Laura mengepalkan tangan kanan dengan raut wajah memerah saat ini. "Tidak sulit bagiku menemukanmu begitu aku kembali ke Jakarta. Aku akan mewarisi semua peninggalan orang tuaku dan menjadi pemimpin di perusahaan Prameswari."


Laura saat ini sudah memiliki rencana untuk ke depannya setelah merasa jika waktu satu bulan larut dalam kesedihan karena perbuatan dari Christian. Apalagi saat ini semua ingatannya telah kembali dan membuatnya ingin membalas dendam pada Christian.


Rasa cinta yang selama ini ada untuk pria itu telah berubah menjadi kebencian dan membuatnya berpikir harus menjadi seorang wanita kuat untuk melancarkan aksinya.


Laura kini mengambil ponsel miliknya di atas nakas karena ingin menghubungi seseorang yang tak lain adalah Mario Permana. "Sebenarnya apa alasan Mario melarangku untuk segera kembali ke keluarga pamanku?"


"Aku harus segera kembali ke Jakarta untuk membalas dendam pada Christian. Setelah aku menjadi pemimpin perusahaan Prameswari, akan kupastikan perusahaan Christian hancur. Bajingan itu dan juga istrinya akan menyembah kakiku untuk memohon agar aku tidak memaafkan mereka."


"Halo, Laura. Maaf karena terlambat mengangkat telpon. Aku baru dari kamar mandi." Mario yang saat ini baru mendaratkan tubuhnya di ranjang, kini membulatkan matanya begitu mendengar respon datar dari Laura.

__ADS_1


"Aku ingin kamu menjelaskan tentang hal yang kamu sembunyikan dariku mengenai keluarga pamanku. Apa alasanmu menahanku di sini dan tidak langsung menghubungi pamanku setelah ingatanku kembali!" tanya Laura yang masih merahasiakan rencananya untuk kembali ke Jakarta besok pagi.


'Kebetulan aku punya banyak uang dari pemberian si berengsek itu. Jadi, besok aku akan naik taksi ke Jakarta,' gumam Laura yang berencana untuk berkemas malam ini.


Ia ingin memberikan sebuah kejutan pada keluarga pamannya dengan kepulangannya yang mendadak. 'Apa paman selama ini mencariku karena aku menghilang? Ataukah tidak sama sekali? Ada banyak hal yang mengganggu pikiranku saat ini.'


"Laura, sebenarnya aku tidak berhak menjelaskan tentang semuanya padamu karena itu adalah tugas papaku. Ada sesuatu yang disembunyikan darimu karena memang masih mencari bukti-bukti agar apa yang diketahui papa bukan hanya omong kosong semata."


Mario akhirnya berniat untuk mengungkapkan semuanya karena mendengar suara Laura yang penuh kecurigaan. Meskipun awalnya ia masih menggunakan nama sang ayah untuk mengulur waktu.


"Katakan sekarang padaku! Tanpa bukti, aku akan mempertimbangkan apakah itu benar atau tidak." Laura kini makin merasa penasaran dan ingin tahu apa yang sebenarnya tengah disembunyikan oleh Mario.

__ADS_1


Apalagi ia tahu jika ayah Mario adalah mantan pengacara ayahnya, tapi memilih untuk mengundurkan diri setelah membacakan surat wasiat. Entah mengapa saat ini pikirannya kembali pada sesuatu kecurigaan dan khawatir jika hal yang terlintas di pikirannya benar.


To be continued...


__ADS_2