
Pria bernama Paul Aliando yang saat ini juga mengkhawatirkan keadaan wanita yang berada di kamar mandi karena berpikir jika mendobrak pintu dan mengenai tubuh wanita itu, berpikir jika malah akan terjadi sesuatu yang buruk.
"Nona, bagaimana jika pintu mengenai tubuh Nona dan saya menginjak tubuhnya karena terhempas ke dalam? Sepertinya tidak bisa dilakukan dengan cara kasar seperti itu. Biar saya memanggil cleaning service yang pastinya akan mempunyai alat untuk membongkar pintu ini."
Raysa yang tadinya berpikir jika pintu di hadapannya tersebut harus segera terbuka karena khawatir jika terjadi sesuatu hal yang buruk pada sahabatnya, tapi sekarang menyadari jika sopirnya tersebut benar.
"Kalau begitu, cepat kembali karena aku takut Ana telat mendapatkan pertolongan pertama."
"Baik, Nona." Kemudian ia langsung berjalan cepat menuju ke arah pintu keluar dan mencari cleaning service untuk meminta alat ataupun membantunya membuka pintu kamar mandi.
Sementara itu, Raisa masih terus mengetuk pintu dan berusaha untuk menyadarkan Ana yang mungkin saat ini masih pingsan.
"Ana, apa yang sebenarnya terjadi padamu? Seharusnya aku tadi mengantarmu ke dalam," lirih Raisa dipenuhi oleh rasa bersalah karena tadi tidak peka dengan keadaan sahabatnya yang mengeluh sakit pada perut.
Sementara itu, Miranti yang saat ini juga sangat khawatir pada keadaan majikannya, sama sekali tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini.
"Jika akan tahu seperti ini keadaannya, lebih baik tidak melepas selang dan nona terus memakainya sampai keluar dari rumah sakit." Ia tahu jika majikannya tersebut tidak suka merepotkannya karena harus mengganti Pampers setiap hari.
Jadi, saat keadaannya sudah dirasa baik dan bisa ke kamar mandi, sehingga meminta untuk dilepas. Hingga kejadian hari ini tidak pernah mereka pikirkan sama sekali.
Apalagi sudah tidak melihat wanita itu mengeluhkan sakit seperti dulu. Ia saat ini menatap ke arah teman dari majikannya tersebut. "Kenapa nona Ana tiba-tiba kembali pingsan seperti ini? Bahkan dokter tidak menjelaskan pada nona Ana maupun saya."
"Jadi, kami tidak tahu bagaimana perkembangan dari pengobatan ini," ucap Miranti masih merasa khawatir serta dipenuhi berbagai macam pikiran buruk pada majikannya tersebut.
Saat mengetahui kenapa pelayan tersebut terlihat dipenuhi oleh berbagai macam kekhawatiran, kini Raisa memegang pundak wanita itu.
"Itu karena pihak dari dokter tidak ingin jika pasien mengalami down setelah mengetahui penyakitnya yang belum bisa hilang sepenuhnya meskipun sudah dioperasi dan kemoterapi." Raisa dulu memang menyuruh sopirnya untuk mengisi pendaftaran jika ia adalah walinya.
Jadi, semua hal tentang kondisi temannya itu, ia yang mengetahui karena memang dokter sudah menghubunginya untuk membahas mengenai pengobatan yang dilakukan.
Ia bahkan sudah menyarankan untuk melakukan hal yang terbaik demi kesembuhan sahabatnya. Mengenai biaya pengobatan pun akan ia bantu sepenuhnya karena baginya, Ana sudah seperti saudara kandung sendiri.
Apalagi dulu ia bisa seperti ini juga berkat sahabatnya tersebut yang mencarikan pekerjaan dan membuatnya bisa hidup lebih baik seperti ini. Menganggap jika kebaikannya tidak akan pernah bisa membalas ketulusan seorang Ana Maria, sehingga selalu memberikan yang terbaik untuk sahabatnya tersebut.
Miranti saat ini membulatkan mata karena tidak pernah tahu dengan semua itu dan ketika pertama kali mendengarnya, merasa jika apa yang dikatakan wanita itu membuatnya sangat syok.
Ia bahkan saat ini sudah berurai air mata karena merasa iba pada nasib majikannya. "Bagaimana mungkin itu terjadi saat nona Ana sudah melakukan perintah dari dokter?"
"Apa tidak ada harapan untuk nona Ana sembuh meskipun sudah menjalani semua proses pengobatan?" Ia yang selama ini mengetahui perjuangan dari majikannya ketika dioperasi, kemoterapi dan menjalani pengobatan lainnya.
Jadi, saat ini benar-benar sangat hancur mendengar kenyataan itu. Melihat rambut majikannya yang juga sudah habis karena efek kemoterapi, hal itu pun membuatnya tidak tega.
Bahkan ia sampai dilarang membawa cermin karena majikannya tidak ingin menatap pantulan diri sendiri. "Apa yang harus kita lakukan untuk nona Ana agar bisa sembuh?"
Saat ini, Raisa tidak bisa menjawab pertanyaan pelayan karena jujur saja ia pun juga merasa bingung. Ia masih menunggu keputusan dari tim dokter yang tengah menangani sahabatnya.
Bahkan di dokter di rumah sakit itu pun berkonsultasi dengan para dokter yang berada di luar negeri. Hal itu dilakukan karena memang tidak menyerah untuk bisa menyembuhkan pasien yang mempunyai semangat hidup besar.
"Aku masih menunggu informasi dari dokter yang dulu mengatakan ingin mencari pasien dengan kondisi yang sama, apakah ada kasus serupa. Jika ada dan sembuh, itu akan menjadi acuan yang bisa menyembuhkan Ana."
Raisa saat ini tidak bisa lagi berpikir jernih karena masih dipenuhi oleh kekhawatiran pada sosok wanita di dalam ruangan kamar mandi.
"Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan berdoa Bik. Mengenai hasilnya, kita serahkan semuanya pada Sang pencipta alam semesta." Saat baru saja menutup mulut untuk mengungkapkan apa yang dirasakannya, melihat pintu terbuka.
__ADS_1
Refleks Raisa seketika berjalan masuk dan membantu Ana yang baru saja membuka pintu dengan posisi terduduk di lantai.
"Ana?" teriak Raisa yang saat ini melihat jika sahabatnya sangat pucat.
Ia saat ini berjongkok dengan menyamakan posisinya agar bisa membantu sahabatnya untuk kembali ke atas ranjang. "Apa yang saat ini kamu rasakan?"
"Aku tadi tiba-tiba tidak bisa berdiri karena rasanya tubuhku seperti kehilangan tenaga." Ana saat ini baru saja menatap ke arah sahabatnya. "Sekarang aku tahu semuanya karena sudah menduga jika kamulah yang menjadi waliku dan bertanggung jawab atas semuanya."
Rasa lega yang tadinya dirasakan oleh Raisa, seketika berganti dengan sebuah rasa bersalah karena pembicaraannya ternyata didengar oleh sahabatnya tersebut secara langsung.
"Ana? Jadi, kamu tadi tidak pingsan di dalam kamar mandi?" Ia bahkan saat ini menatap wajah pucat itu dengan penuh rasa bersalah karena tidak bisa menyembunyikan dari wanita yang harusnya tidak mengetahui kondisinya secara langsung.
Bahkan Miranti seketika juga merasa bersalah dan membekap mulutnya karena merasa bingung harus berkomentar apa ketika sang majikan sama terkejutnya seperti dirinya. Pastinya akan semakin down dan tidak punya semangat hidup.
Ana tadinya berniat untuk menormalkan dirinya terlebih dahulu tanpa menanggapi suara teriakan dari luar. Ia benar-benar sangat syok ketika tiba-tiba merasa lemas dan tidak punya daya sama sekali.
Hingga ia yang sibuk ingin bangkit berdiri dari posisinya, malah terjatuh dan akhirnya hanya bisa terduduk di lantai sambil berusaha membuka pintu.
Namun, ia terdiam ketika mendengar suara Raisa yang menjelaskan pada pelayannya. Akhirnya ia hanya diam di dalam sambil mendengarkan dan membiarkan dianggap pingsan tanpa mengetahui pembicaraan mereka.
"Mungkin karena ini kamu tadi membawa banyak makanan agar aku mencobanya. Mungkin berpikir bahwa sebelum aku mati, sudah mencoba beragam makanan enak yang kamu bawa." Ana seketika merasakan tubuhnya sedikit terhuyung ke belakang ketika sahabatnya menghambur memeluknya dan menangis tersedu-sedu.
Ia bahkan saat ini mengusap lembut punggung belakang sahabatnya agar tidak bersedih. Seolah ingin menghibur agar Raisa tidak merasa bersalah karena membuatnya mengetahui tentang kondisinya yang sebenarnya.
"Terima kasih karena sudah menjadi teman terbaikku. Maafkan aku karena selama ini selalu merepotkanmu. Tuhan yang akan membalas semua kebaikanmu padaku, Raisa." Saat ia mengungkapkan perasaannya pada sahabatnya tersebut, mendengar suara pintu yang dibuka dari luar dan 4 orang masuk ke dalam.
Mulai dari sang sopir, cleaning service, dokter dan perawat sudah berada tepat di hadapannya dan menatap interaksinya dengan temannya yang saat ini menangis tersedu-sedu di pelukannya dan membuat mereka semua terdiam bingung.
"Nona?" Paul saat ini berjalan semakin mendekat dan merasa lega karena wanita yang dikhawatirkan baik-baik saja. "Apa yang terjadi, Nona?"
Raisa seketika melepaskan pelukan dan membuatnya langsung menatap ke arah Paul agar segera menuruti perintah dokter. "Tolong angkat tubuh Ana karena dia saat ini tidak bisa berjalan."
Ia yang tadi pertama kali melihat sahabatnya hanya bisa bergerak dengan posisi terduduk, benar-benar membuatnya tidak tega. Apalagi setelah mengetahui jika wanita yang sangat ia sayangi seperti saudara sendiri itu sudah mengetahui kondisi sebenarnya.
"Baik, Nona." Paul saat ini seketika berjongkok untuk menggendong tubuh wanita itu dan mulai berjalan menuju ke arah panjang perawatan.
Bahkan dengan sangat berhati-hati menurunkan tubuh seringan bulu tersebut karena memang terlihat sangat kurus. Ia khawatir jika mengalami rasa sakit ketika tidak berhati-hati menurunkan di atas ranjang.
"Terima kasih, Paul," sahut Ana yang saat ini tersenyum pada pria yang menurutnya selalu membantunya dalam hal apapun tanpa mengeluh.
Ia jadi mengingat sang suami yang diketahuinya selama ini selalu menyibukkan diri dengan bekerja di kantor dari pagi hingga malam. Apalagi sekarang Christian tinggal sendiri tanpa putranya karena dibawa oleh Laura.
Pertama kali mengetahui hal itu, ia benar-benar merasa sangat tidak tega. Apalagi mengetahui jika Christian tidak pernah menjenguk putranya dengan alasan sibuk. Padahal ia tahu jika itu adalah cara Christian menyembuhkan luka di hati ketika dikuasai oleh perasaan bersalah padanya.
Sampai pada saat ini seperti mempunyai keinginan untuk bisa melihat Christian, tapi ditahan sekuat tenaga karena terpikir jika ia akan mati juga dan nanti malah akan menambah luka pria itu untuk kedua kalinya.
'Christian, ternyata aku salah menilaimu. Kamu benar-benar tulus padaku dan tidak kembali pada Laura dengan membiarkannya hidup bahagia bersama dengan pria pilihannya. Kamu bukannya pria yang egois, Christian.'
'Kamu hanya ingin merasakan seperti pria normal yang mempunyai keturunan dan tidak ingin menceraikanku karena itu akan menyakitiku,' gumam Ana yang saat ini diperiksa oleh dokter.
Semua orang yang saat ini menatap ke arah pergerakan dari sang dokter ketika memeriksa, suasana keheningan tercipta di ruangan perawatan tersebut.
Bahkan sangat jelas terlihat jika semua orang sibuk dengan pemikirannya masing-masing. Apalagi semua sudah mengetahui tentang semua hal yang terjadi.
__ADS_1
Saat ini, sang dokter yang baru saja memeriksa, terdiam sambil menatap ke arah wajah wanita yang sudah semakin pucat tersebut. "Anda harus puasa hari ini karena akan dilakukan operasi. Kami sudah membahas tentang penyakit Anda dengan beberapa tim dokter yang pernah menangani kasus serupa."
"Jadi, Anda harus yakin jika operasi kali ini akan berjalan dengan lancar dan berhasil membunuh sel kanker, agar tidak lagi tumbuh dan berkembang," ucap sang dokter yang kini melihat tensi darah pasien.
"Jaga pikiran Anda, Nona. Biar operasi tidak ditunda karena tensi darah yang tinggi." Sang dokter saat ini seperti melihat seorang wanita yang kehilangan aura kehidupan dan juga semangat hidup.
Ia sudah membaca jika wanita itu mengetahui kondisi yang sebenarnya dirahasiakan dan melihat sekilas ke arah wanita yang menjadi wali.
Seolah mengerti dengan kode dari matanya, ia saat ini melihat penyesalan dari raut wajah wanita itu. "Saya harus bicara dengan Anda, Nona Raisa."
Kemudian berjalan keluar karena tidak mungkin membicarakan masalah pasien di depannya secara langsung karena itu hanya akan membuat down.
Raisa seketika menganggukkan kepala karena ia mengerti apa yang akan dibahas oleh sang dokter. Kini, ia menoleh ke arah sahabatnya dan mengusap lembut punggung tangan itu.
"Aku hanya sebentar. Kamu tidak boleh berpikir macam-macam agar nanti operasi bisa dilakukan sesuai dengan jadwal." Kemudian berlalu pergi sambil melewati pelayan yang juga merasa khawatir tentang keadaan majikannya.
'Semua akan baik-baik saja,' gumamnya sambil berjalan keluar menemui dokter.
Sementara itu, sosok pria yang saat ini tengah berdiri tak jauh dari pelayan, sebenarnya merasa aneh dengan suasana mencekam di antara mereka. Sangat jauh berbeda dengan beberapa saat lalu ketika pagi hari tidak ada masalah.
Namun, sekarang seperti berada di pemakaman karena tidak ada pembicaraan sama sekali seperti biasa yang selalu hangat dan penuh candaan.
'Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa semuanya jadi terasa aneh seperti ini?' gumam Paul yang saat ini memilih berjalan keluar karena berniat untuk menunggu sang majikan akan mau menjelaskan padanya.
"Lebih baik Anda istirahat, Nona Ana. Semoga operasinya berjalan lancar." Ia sebenarnya tidak menyangka jika akan ada operasi lagi.
Apalagi sudah berapa hari ini tidak melihat ada yang aneh dan merawat agar wanita itu terlihat sudah tidak pucat lagi.
'Apa yang terjadi di sini sebenarnya? Kenapa aku merasa ada sesuatu yang kurang di antara mereka? Bahkan saat ini nona Ana mengunci rapat bibirnya seperti tidak mau berbicara lagi."
"Apa hanya aku saja tidak tahu apa yang terjadi di ruangan ini tadi?' gumamnya yang saat tengah membuka pintu keluar.
Ia benar-benar merasa sangat penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya dan berharap bisa berbicara dengan sang majikan yang selesai setelah menemui dokter.
Kemudian mendasarkan tubuhnya di kursi tunggu sambil menatap lorong kosong yang sama sekali tidak ada orang berlalu lalang seperti di lantai bawah.
Berbeda dengan yang saat ini dirasakan oleh Ana ketika masih berbaring di atas ranjang. "Tolong bantu aku untuk berganti pakaian, Bik. Bagian belakang tubuhku basah karena tadi jatuh di lantai."
Sang pelayan yang saat ini hanya menganggukkan kepala sambil mengambil pakaian ganti. Ia benar-benar tidak tega melihat majikannya tersebut yang entah bisa sembuh atau tidak setelah banyak perjuangan.
'Nona Ana seperti dipatahkan oleh ekspektasi. Dia pasti saat ini benar-benar hancur dan bersedih. Apa yang harus kulakukan untuk membuatnya tidak terpuruk seperti ini?'
'Apa beritahu tuan Christian saja agar menemaninya berada di sini?' gumamnya yang saat ini masih memikirkan keputusan apa yang akan diambil.
Ia bahkan merasa bingung harus bagaimana lagi menghibur seorang majikan yang tengah hancur sehancur-hancurnya.
'Apakah jika ada tuan Christian yang merawat nona, mungkin bisa kembali memiliki semangat hidup karena ada pria yang dicintainya dan juga mencintainya karena sampai sekarang tidak kembali pada wanita itu,' gumamnya di dalam hati sambil membantu majikan mengganti pakaiannya yang basah.
Ia berpikir untuk meminta saran pada sahabat dari majikannya apakah pemikirannya itu benar atau tidak. Berharap wanita itu menyetujui idenya untuk memberitahu sang suami bahwa sang istri sampai sekarang masih hidup.
Saat sibuk dengan pemikirannya, Ana saat ini merasa khawatir pada pelayannya tersebut. "Jika nanti aku sudah pergi, Bibik bisa ikut Raisa dan layani dia dengan baik karena merupakan seorang wanita yang sangat penyayang."
"Nona, tolong jangan berbicara seperti itu jika masih ingin melihat saya," ucap Miranti yang saat ini tidak memperdulikan apapun jika dianggap berani pada majikan.
__ADS_1
To be continued...