365 Days With You

365 Days With You
Senyuman palsu


__ADS_3

"Aku akan berusaha menjadi suami yang baik untukmu dan menghapus kesalahanku karena kesalahan di masa lalu," seru Christian yang saat ini masih terus mengusap punggung dengan rambut tergerai di bawah bahu tersebut.


Ia bahkan mengingat dulu sering melakukan hal itu pada Laura yang suka menggerai rambutnya tanpa mengikat ketika bersamanya. 'Bagaimana aku bisa menjadi seorang suami yang baik bagi Ana jika selalu memikirkan Laura?'


Lagi-lagi ia kembali di siksa rasa bersalah karena di hatinya masih ada nama Laura yang belum bisa disingkirkan meskipun berusaha keras dan sudah satu tahun tidak bertemu.


'Laura, bagaimana kabarmu sekarang? Kenapa kamu menghilang bagai ditelan bumi?' gumamnya yang kini merasakan pergerakan Ana ketika melepaskan pelukan dan menarik diri serta menatapnya ketika berbicara.


"Maafkan aku karena selalu membuat posisimu sulit saat mempertahankan wanita tidak berguna sepertiku." Ana saat ini merasakan sentuhan lembut pada wajahnya ketika sang suami membersihkan bulir air mata di pipinya.


Christian seketika menggelengkan kepala dan merasa sangat iba saat melihat raut wajah sembab dari Ana. "Jangan bicara seperti itu, Sayang. Kamu adalah wanita yang sangat berharga dan selalu kucintai sampai kapanpun."


"Jadi, jangan selalu merendahkan diri seperti itu hanya gara-gara tidak bisa melahirkan keturunan." Kemudian mengecup lembut kening sang istri. "Aku hari ini ada meeting penting di perusahaan Prameswari Grup. Jadi, harus berangkat awal ke kantor untuk terlebih dahulu menyelesaikan pekerjaan."


Ana yang kini kini mengerti apa yang harus dilakukan, mengangukkan kepala dan mengajak sang suami untuk naik ke atas agar bersiap dan ia menyiapkan pakaian kerja seperti biasa.


"Kamu mandi saja dulu, aku akan menyiapkan semuanya. Biarkan mama memuaskan waktu bersama dengan cucunya karena aku tidak ingin mengganggu dan merubah mood-nya menjadi buruk." Ana sebenarnya tadi ingin sekali menghambur masuk dan menanggapi mertuanya dengan meledakkan amarah.


Namun, ia tidak ingin hubungan dengan sang suami berakhir buruk hanya gara-gara campur tangan dari mertuanya. Hal yang menjadi persoalan dari rumah tangga mayoritas orang adalah adanya campur tangan dari pihak orang tua.


Jadi, ia tidak ingin itu terjadi dan membuatnya memilih untuk terus mengalah dan memendam perasaan yang membuncah dan menyesakkan dada. Ia berpikir bahwa sang suami yang masih mempertahankannya sampai sekarang jauh lebih dari cukup daripada disukai oleh mertuanya.


Kini, ia melihat sang suami yang tersenyum dan kembali mencium keningnya serta mengucapkan terima kasih. 'Paling tidak, aku masih bisa mempertahankan rumah tanggaku karena suamiku memilihku daripada wanita bernama Laura itu.'


'Lalu, apa yang kucari lagi karena suamiku lebih memilih wanita tidak berguna sepertiku daripada wanita sempurna seperti Laura. Harusnya aku sadar jika memiliki sebuah kelebihan yang tidak dimiliki oleh Laura yang diceraikan setelah melahirkan Valerio.'


Ana yang saat ini sudah berdiri di hadapan lemari kaca raksasa sambil menatap ke arah pakaian kerja yang digantung rapi sambil melamun. Hingga ia menyadari tugasnya sebagai seorang istri untuk menyiapkan pakaian kerja terbaik ketika nanti pergi ke perusahaan lain untuk meeting.


"Suamiku harus terlihat paling berwibawa dan rapi di antara yang lain," ujar Ana yang saat ini memilih setelan kemeja serta jas berwarna navy dan membuka laci berisi aneka jenis dasi dan memilih yang cocok.


Kemudian menaruhnya di atas ranjang agar sang suami bisa langsung memakainya setelah keluar dari kamar mandi. Ia pun juga memilih jam tangan mewah rolex berwarna silver yang merupakan hadiah darinya dulu ketika ulang tahun pernikahan ke-10 sebelum terjadi perselingkuhan.


Ia bahkan dulu sampai memesan dari luar negeri karena menganggap jika anniversary yang ke-10 merupakan sebuah momen di mana pernikahannya tidak akan pernah tergoyahkan.


Selama ini berpikir bahwa rumah tangga yang rawan goyah antara 1 sampai 5 tahun. Namun, saat merasa percaya diri karena sudah berhasil melewati banyak ujian selama 10 tahun pernikahan, sang suami menikah lagi tanpa sepengetahuannya mendekati anniversary ke-11.


Jadi, pertama kali tidak merayakan itu karena tepat ketika ia mengetahui semuanya dan merasa hambar penikahannya semenjak saat itu.


Ia saat ini masih memegang jam tangan mahal itu di tangan. 'Ternyata memiliki anak yang dilahirkan oleh wanita lain yang pernah dicintai oleh suamiku tidak membuatku bahagia sepenuhnya, tapi aku tidak ingin kehilangan semua ini dan hanya akan semakin terpuruk jika meninggalkan suami.'


Saat Ana sibuk dengan pemikirannya, mendengar suara sang suami yang memanggilnya dan membuatnya langsung berjalan keluar untuk melihat apa yang diinginkan.


"Sayang, ambilkan setelan kerja berwarna hitam," ucap Christian yang baru saja selesai mandi dan memeriksa ponsel yang ada di atas nakas dan membaca pesan dari grup Perusahaan Prameswari.


Ia sebenarnya merasa kesal dengan apa yang baru saja dibacanya menurutnya sangat konyol. Hingga ia menoleh ke arah sang istri yang baru saja berjalan mendekat dan terlihat sangat kecewa.

__ADS_1


"Apa kamu tidak suka dengan pakaian yang kupilihkan?" Ana benar-benar sangat kecewa karena sudah berusaha untuk mengambil pakaian terbaik malah ditolak oleh sang suami.


"Astaga, Sayang! Bukan seperti itu." Karena tidak ingin ada kesalahpahaman dari sang istri, ia langsung memberikan ponsel agar wanita yang terlihat masam tersebut segera membaca pesan dari grup perusahaan.


"Lebih baik kamu baca sendiri agar mengerti bahwa itu bukan kemauanku." Christian memilih berjalan meninggalkan sang istri menuju ke arah ruangan ganti karena ingin memilih sendiri pakaian ketika suasana hati Ana tidak baik gara-gara aturan di perusahaan Prameswari.


"Memangnya mau menghadiri acara pemakaman, apa! Sampai ada aturan untuk memakai pakaian serba hitam di acara meeting hari ini," keluh Christian yang saat ini sudah berdiri di hadapan setelan jas yang tergantung rapi di hadapannya.


Sementara itu, Ana yang baru saja membaca peraturan di grup, memicingkan mata karena merasa sangat aneh. "Hanya akan meeting saja diharuskan memakai pakaian serba hitam? Memangnya siapa yang membuat aturan ini? Apakah CEO bodoh yang dikatakan oleh suamiku?"


Karena merasa sangat penasaran dengan peraturan yang membuatnya harus kembali memasukkan setelan jas yang tadi dipilihkan, Ana berjalan masuk ke ruangan ganti sambil membawa pakaian untuk suaminya yang tidak jadi dikenakan.


Kini, ia melihat sang suami sudah melepaskan kimono handuk dan memakai kemeja berwarna putih dengan setelan jas serta celana hitam.


"Memangnya siapa yang memberikan pengumuman untuk mengenakan pakaian serba hitam itu? Apakah CEO tidak berguna itu?"


Ana kini sudah mengembalikan setelan navy ke tempat asalnya sambil menunggu tanggapan dari sang suami. Hingga ia makin merasa aneh begitu mengetahui pemikirannya salah.


"Bukan, Sayang karena informasi itu berasal dari pemegang saham tertinggi di perusahaan. Menurut kabarnya, dia adalah keturunan asing dan tinggal di luar negeri serta tidak pernah menampakkan batang hidungnya, tapi sekarang akan datang ke perusahaan untuk pertama kali." Hanya itulah yang tadi dibaca di grup karena ia merupakan salah satu pemegang saham.


Memang selama ini ia bergerak di bidang kosmetik, tapi berusaha untuk mengepakkan sayap di bisnis properti dengan membeli saham di perusahaan besar yang dulunya diketahui memiliki keuntungan yang fantastis.


Namun, ia tidak pernah menyangka jika perusahaan itu malah makin menurun omset keuntungan dan membuatnya tidak mendapatkan keuntungan sesuai dengan yang ditargetkan selama ini.


Jadi, saat meeting nanti akan berbicara mengenai hal untuk menarik saham yang ada di perusahaan itu dengan menjualnya dan pindah ke perusahaan lain yang lebih bisa menghasilkan banyak keuntungan untuknya.


Ana saat ini memicingkan mata begitu mendengar kalimat terakhir dari sang suami yang membuatnya tidak suka. "Penasaran? Tumben kamu penasaran dengan seorang wanita. Awas saja jika sampai berani melirik wanita itu yang pastinya cantik karena merupakan warga negara asing."


Bahkan Ana langsung mengarahkan kepalan tangannya pada sang suami untuk mengancam karena khawatir jika pria di hadapannya tersebut kembali tergoda dengan wanita lain.


Christian yang saat ini menoleh ke belakang, bisa melihat raut wajah masam dari sang istri dan membuatnya malah tertawa terbahak-bahak. "Astaga, Sayang. Kekhawatiranmu itu terlalu berlebihan karena aku tidak suka bule dengan kulit pucat."


"Oh ya, ada temanku yang pernah bilang jika bule itu rasanya tidak enak. Lebih enak wanita timur katanya karena lebih menggigit dan selalu wangi." Christian memang tidak berbicara omong kosong karena dulu pernah ada salah satu temannya yang memiliki kekasih wanita bule dan tanpa merasa malu membahas


hal intim mereka.


Tentu saja para pria selalu membandingkan jika memiliki kekasih lebih dari satu yang pernah dicoba. Hingga berbicara dan pembahasan itu mengalir begitu saja.


"Dasar para pria mesum! Setelah merasakan tubuh wanita, lalu membandingkan dan menjadikan topik saat berkumpul. Apa kau juga melakukannya padaku saat berkumpul bersama dengan teman-temanmu?" Ana seketika merasa ilfil ketika membayangkan jika sang suami membahas tentang kegiatan intim mereka dengan membandingkannya.


Apalagi sang suami juga memiliki wanita lain, jadi berpikir tidak ada bedanya dengan pria yang membahas tentang warga negara asing itu.


Merasa pepatah senjata makan tuan kini berbalik menyerangnya, Christian mengembuskan napas kasar karena menyadari kebodohan yang keceplosan menceritakan hal itu saat ingin melindungi diri agar tidak dituduh menyukai wanita berkebangsaan asing.


"Aku bukanlah pria yang suka mengumbar mengenai masalah intim dengan pasangan, Sayang. Lagipula selama ini suamimu jarang berkumpul dengan teman-temannya, kan?"

__ADS_1


"Jadi, jangan berpikiran negatif padaku. Ayo, kita turun ke bawah untuk sarapan." Kemudian memeluk erat pinggang sang istri agar tidak lagi membahas mengenai hal yang dianggap tidak penting.


Ana sebenarnya masih meragukan apa yang dikatakan oleh sang suami, karena tidak ingin membuat hubungan di antara mereka memanas hanya gara-gara masalah sepele, akhirnya membiarkan semua yang dilakukan pria yang sudah mengajaknya berjalan keluar dari ruangan kamar.


Ia kini menuruni anak tangga dan menatap ke arah sang suami. "Nanti kamu foto bule itu karena aku ingin tahu seperti apa wanita yang membuat suamiku penasaran."


Christian yang awalnya berpikir jika pembahasan itu sudah berakhir, hanya diam saja karena khawatir akan kembali membuat mereka bertengkar. 'Wanita memang tidak pernah salah dan tidak akan pernah mengalah.'


Melihat sang suami yang hanya diam saja, Ana seketika mengarahkan cubitan pada pinggang kokoh pria yang membuatnya kesal. "Kok diem, sih! Bikin kesel saja!"


Meskipun cubitan dari sang istri tidak meninggalkan rasa sakit, tetap saja ia mau tidak mau harus menjawab. "Iya, Sayang, tapi jangan marah jika bule itu nanti jauh lebih cantik darimu dan melampiaskan amarah padaku."


"Wah ... luar biasa!" Ana seketika tertawa miris ketika mendengar yang baru saja diungkapkan sang suami membuatnya semakin bertambah kesal. "Padahal dulu kamu mengatakan bahwa aku adalah wanita tercantik di matamu. Berarti sekarang wanita lain jauh lebih cantik dariku?"


Dengan kembali memijat pelipis karena merasa pusing menghadapi tingkah sang istri yang dianggap seperti wanita mengalami PMS karena sedikit-sedikit marah dan kesal, Christian memilih untuk diam karena khawatir takut salah jika kembali membuka suara.


"Sudahlah, Sayang. Aku tidak punya tenaga untuk berdebat denganmu karena sangat lapar." Kemudian melepaskan pelukan dari pinggang ramping Ana dan berjalan ke arah meja makan untuk memeriksa menu sarapan hari ini.


Sementara itu, Ana yang merasa kesal melihat siluet sang suami saat menjauh darinya, kini memilih untuk bertanya pada pelayan yang baru saja selesai menghidangkan sarapan pagi ini.


"Hari ini aku bangun kesiangan dan tidak sempat membuatkan sarapan untuk putraku. Apa Bibik membuatkannya?" Meskipun tadi mengetahui bahwa mertuanya sudah memberikan sarapan untuk putranya, Ana ingin tahu apa menu untuk Valerio siang nanti.


"Sudah, Nyonya. Masih ada ikan salmon dan wortel serta jamur. Jadi, Tadi saya sudah membuatkan nasi tim untuk tuan Valerio." Pelayan yang terbiasa melihat saat majikan membuatkan menu sarapan untuk putranya, sehingga tidak sulit untuk membantu jika sewaktu-waktu dibutuhkan mendadak.


Ana kini tersenyum simpul dan mengucapkan terima kasih. "Bibik memang selalu bisa diandalkan. Oh ya, coba lihat apakah mama sudah selesai menyuapi Valerio? Jika sudah, tolong bilang ditunggu sarapan bersama putranya di sini. Jadi, sekalian nanti jaga putraku dulu saat kami sarapan."


"Baik, Nyonya." Pelayan paruh baya tersebut langsung berjalan menuju ke halaman depan untuk melaksanakan perintah dari majikan.


Kemudian Ana kini mendaratkan tubuhnya di sebelah sang suami karena tidak ingin berjauhan ketika berada di hadapan mertuanya yang dianggap seperti seorang ibu tiri yang kejam.


Ia melihat jika sang suami sudah mengambil sarapan, yaitu menu nasi goreng spesial dengan banyak toping lengkap. "Sarapan yang banyak agar bisa memiliki tenaga untuk berdebat denganku lagi."


Mendapatkan sindiran dari sang istri, kini Christian hanya geleng-geleng kepala. "Sudah, Sayang. Sudahi berdebatnya. Iya, iya, nanti aku akan mengambil gambar bule itu dan menunjukkan padamu bahwa dia kalah jauh cantik dari istriku."


Ana hanya tersenyum sinis pada sang suami yang mencoba untuk merayu agar tidak marah lagi. Hingga ia seketika menoleh ke arah sumber suara dari sang mertua yang baru saja datang dan membuatnya menelan saliva dengan kasar.


"Hari ini aku ingin mengajak cucuku ke rumah. Nanti sore aku akan mengantarnya pulang." Reynita yang belum puas bermain dengan cucunya, mendapatkan ide begitu pelayan menyuruh untuk sarapan dan langsung mengungkapkan pada anak serta menantunya.


Christian yang baru saja menelan makanan di mulut, merasa jika masalah tidak berhenti di sekelilingnya karena tidak mungkin menolak keinginan dari orang tua yang ingin bersama dengan cucunya untuk pertama kali.


Akhirnya ia menoleh ke arah sang istri agar wanita itu yang memberikan jawaban. "Bagaimana, Sayang?"


Ana sebenarnya ingin sekali menolak dan meminta mertuanya agar seharian berada di rumah dan tidak membawa Valerio pergi. Ia akan merasa kesepian jika berada di rumah sendirian tanpa melakukan kegiatan bersama dengan putranya.


Namun, menyadari jika melakukan hal itu, akan mendapatkan kemurkaan dari mertuanya, sehingga kini terpaksa menyetujui dengan menyunggingkan senyuman palsu. "Tentu saja tidak masalah jika Mama ingin bersama dengan cucunya."

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2