365 Days With You

365 Days With You
Hasil operasi


__ADS_3

Beberapa saat lalu, Christian yang baru saja kembali ke ruangan operasi, kini melihat asistennya yang masih duduk di kursi. Setelah berbicara dengan sang ibu di telepon mengenai Laura yang ternyata adalah putri dari pemilik Prameswari Grup, ia tadinya terdiam memikirkan nasib malang wanita yang telah dibuatnya kecewa dan sakit hati.


Ia benar-benar merasa sangat berdosa pada mantan istri sirinya tersebut karena semakin menambah luka mendalam. Padahal semenjak kecil selalu hidup menderita karena keserakahan dari pamannya sendiri.


Bahkan harus berkali-kali bergelut dengan maut dan malah ditambah luka batin mendalam ketika ia menjatuhkan talak di hari melahirkan serta membawa lari putranya tanpa meminta izin.


"Laura, ternyata begitu berat penderitaan yang kamu rasakan. Aku benar-benar sangat berdosa karena menjadi salah satu dari orang jahat itu karena melukai hatimu begitu dalam." Christian saat ini tengah memikirkan cara untuk menebus kesalahan yang dilakukan pada Laura.


Namun, menyadari jika saat ini hanyalah kebencian yang tersisa dari Laura. Bahkan juga harus memikirkan tentang Ana yang masih berada di ruangan operasi. Ia saat ini benar-benar merasa sangat pusing dan memijat pelipis.


Ketika sudah berada di depan ruangan operasi dan mendaratkan tubuhnya di sebelah asisten pribadinya tersebut, Christian mulai menjelaskan semua hal yang diketahuinya. Ia ingin mendapatkan saran dari Vicky mengenai apa yang harus dilakukannya saat ini pada Laura.


"Katakan padaku, apa pendapatmu setelah mendengar tentang kisah Laura? Bukankah aku tidak jauh bedanya dengan pamannya yang jahat itu karena menyakiti hatinya?"


"Bedanya, pamannya menyakiti fisik dan mentalnya serta menginginkan kematian, sedangkan aku meninggalkan luka di hatinya." Ia menatap ke arah sang asisten yang sama terkejut dengan dirinya tadi.


Vicky yang tadi memasang indra pendengaran lebar-lebar ketika mendengar semua asal usul mantan istri siri bosnya tersebut. Ia sama sekali tidak menyangka jika ternyata ada rahasia besar yang disembunyikan oleh wanita itu.


"Jadi, nona Laura bukanlah wanita sembarangan karena merupakan keturunan dari pemilik Prameswari Grup yang meninggal puluhan tahun lalu. Bahkan menjadi korban dari keserakahan paman sendiri sampai berkali-kali hampir kehilangan nyawa." Vicky saat ini benar-benar sangat terkejut atas rahasia besar yang baru saja didengar.


Bahkan semakin merasa iba pada nasib wanita itu yang dipikirnya hanyalah seorang wanita sederhana, tapi ternyata berasal dari keluarga konglomerat di Jakarta. Namun, harus rela hidup sendirian di luar negeri selama bertahun-tahun dan ketika berniat kembali malah nyawa hampir melayang.


"Malang sekali nasib nona Laura, Tuan. Jadi, nona Laura ingin membalas dendam pada pamannya dengan cara masuk ke perusahaan Prameswari. Bahkan pamannya yang jahat itu sama sekali tidak mengenalnya karena tidak menyadari jika keponakannya sudah menyusup di perusahaan yang didapatkan dengan cara licik."


Ia saat ini merasa bingung harus berkomentar apa ketika diminta saran. Itu karena berpikir jika luka hati serta fisik yang dirasakan Laura teramat besar dan pastinya sangat sulit untuk memaafkan orang-orang yang telah menyakiti.


"Maafkan saya, Tuan Christian karena belum bisa berpikir. Saya benar-benar merasa iba pada nasib nona Laura yang malang. Luka yang dialami terlalu berat dan dalam karena sudah semenjak kecil merasakannya dan Anda malah menambah dengan menghancurkan perasaannya." Sebenarnya ia bukan bermaksud menjatuhkan mental bosnya.


Namun, saat ini mengatakan hal yang terpikirkan. Ia bahkan sangat pusing memikirkan nasib bosnya tersebut yang sangat rumit.


Hingga ia pun tidak mungkin menasehati ataupun memberikan saran ketika tidak bisa berpikir jernih. Kini, ia bisa melihat raut wajah muram dari pria dengan rahang tegas tersebut.

__ADS_1


"Tuan Christian, lebih baik Anda fokus terlebih dahulu pada operasi nona Ana. Mengenai nona Laura, bisa dipikirkan nanti setelah nona Ana selesai menjalani pengobatan." Vicky bahkan saat ini menepuk lengan bosnya untuk memberikan sebuah semangat.


Ini adalah pertama kali ia berani melakukan itu karena tidak tega ketika melihat ekspresi penuh rasa bersalah yang menganggap seperti pria paling jahat di dunia begitu mengetahui banyaknya luka yang dihadapi Laura.


Christian masih terdiam dan tidak bisa berkomentar apapun karena jujur saja saat ini berpikir bahwa yang dikatakan oleh asistennya tersebut ada benarnya. Ia saat ini menoleh ke arah pria yang sudah dianggap sebagai saudara sendiri tersebut.


"Ya, kau benar. Bahkan saat ini kita berada di depan ruangan operasi Ana, tapi malah membicarakan tentang Laura. Rasa berdosaku semakin bertambah pada dua wanita tidak bersalah itu. Seandainya aku dulu tidak serakah ingin memiliki Laura dan juga menghamilinya untuk memiliki keturunan, pasti semua ini tidak akan terjadi."


Christian yang saat ini baru saja menutup mulut, mendengar suara sang ibu dan melihat wanita paruh baya tersebut datang menghampiri. Ia awalnya berpikir bahwa sang ibu akan menemani Laura dan tidak datang untuk menunggu operasi Ana.


Jadi, mengerutkan kening karena melihat sang ibu duduk di sebelahnya. "Mama kenapa datang ke sini dan tidak menemani Laura?"


"Tidak Karena Mama selalu merasa bersalah dan berdosa melihatnya. Dia saat ini sudah ditemani oleh Mario dan dijaga ketat bodyguard di depan pintu. Jadi, tidak perlu mengkhawatirkan keadaan Laura yang saat ini sudah lebih baik," ucap Renita Padmasari yang beralih menatap ke arah ruangan operasi.


"Sepertinya operasinya masih lama," ucapnya sambil tidak mengalihkan perhatian dari ruangan operasi.


Christian sebenarnya ingin mengungkapkan ada protes karena sang ibu malah membiarkan Laura berduaan dengan Mario. Namun, ia yang merasa bersalah sekaligus berpikir tidak berhak melarang Laura dekat dengan pria lain karena ia bukan siapa-siapa, kini hanya terdiam.


Jadi, memilih untuk diam dan fokus menunggu proses operasi yang dilakukan oleh Ana. Hingga ia mendengar sang ibu menceritakan tentang hak asuh yang tadi dibahas dan sama sekali tidak membuat Laura mengurungkan niat.


"Lebih baik kalian bertemu di pengadilan dan bersaing secara sehat. Mama berdoa yang terbaik untuk kalian. Laura masih bersikap baik padamu jika sampai nanti memenangkan hak asuh putranya." Renita Padmasari berusaha menghibur putranya agar tidak semakin menerima keputusan Laura.


"Jadi, kamu tidak perlu khawatir karena tetap bisa bertemu dengan Valerio meskipun kalah di pengadilan." Ia bisa melihat raut wajah muram dari putranya yang menghadapi banyak masalah beberapa hari terakhir ini.


Namun, menyadari jika ia tidak bisa menghentikan keinginan Laura yang terluka karena kehilangan putranya, jadi hanya bisa sedikit menghibur.


Hingga hanya keheningan yang saat ini mewakili perasaan tiga orang yang duduk di depan ruangan operasi tersebut karena sibuk dengan pemikiran sendiri-sendiri.


Christian bahkan saat ini sudah pasrah dan tidak akan lagi mempermasalahkan hak asuh karena Laura memang berhak melakukannya.


"Ya, Ma. Aku tidak akan lagi menyuruh Laura untuk mencoba mengerti posisiku. Bahkan selama ini lukanya jauh lebih berat dari apapun dan aku sangat berdosa karena semakin menambah besar di hatinya. Aku adalah orang yang sangat jahat karena telah membuatnya hidup menderita selama 1 tahun ini." Christian mengembuskan napas kasar ketika mengingat semua hal buruk yang dilakukannya di masa lalu.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, ia melihat pintu ruangan operasi terbuka dan pria yang merupakan dokter ahli bedah keluar menghampiri.


Refleks Christian, sang ibu dan Vicky bangkit berdiri dan menghampiri untuk bertanya. Mereka tidak sabar ingin mengetahui bagaimana hasil operasi Ana yang berjalan cukup lama tadi.


"Dokter, bagaimana keadaan istri saya? Istri saya baik-baik saja, kan?" tanya Christian yang saat ini merasa sangat khawatir begitu melihat raut wajah sang dokter yang serius.


"Iya, bagaimana keadaan menantu saya? Semuanya berjalan lancar dan tidak ada masalah, kan Dokter?" Renita Padmasari menyahut karena saat ini merasa sangat penasaran sekaligus khawatir jika sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


Sementara itu, Vicky memilih hanya diam untuk mendengarkan penjelasan sang dokter yang terlihat seperti serius dan misterius karena tidak bisa dibaca apa yang saat ini ada di pikirannya.


'Kenapa aku memiliki firasat yang buruk begitu melihat wajah dokter ini? Nona Ana, anda baik-baik saja, bulan?' gumam Vicky yang saat ini merasa khawatir dengan apa yang terjadi pada wanita yang sangat dihormatinya tersebut.


Apalagi tadi sempat menyebut jika kehilangan nyawa apakah orang-orang akan bersedih dan membuat bulu kuduknya meremang karena dipenuhi oleh berbagai macam pikiran buruk mengenai wanita itu.


Sang dokter yang saat ini masih memakai penutup kepala dan seragam operasi berwarna biru, bisa mengerti apa yang dirasakan oleh pihak keluarga dari pasien yang menjalani operasi.


"Sebelumnya, saya harus meminta maaf sebelum menjelaskan."


"Meminta maaf? Apa sebenarnya maksud Anda, Dokter? Apa yang sebenarnya terjadi pada istri saya?" Christian makin dipenuhi oleh berbagai macam pikiran buruk saat ini begitu mendengar kalimat pertama yang lolos dari bibir sang dokter dengan wajah penuh keseriusan itu.


Apalagi saat ini mengingat tentang apa yang tadi dikatakan oleh Ana sebelum dioperasi, yaitu membahas tentang kematian dan membuatnya merasa bersalah karena malah mengiyakan apapun yang dipikirkan oleh sang istri.


Bahkan ia merasakan genggaman tangan dari sang ibu yang seolah ingin menguatkan hatinya jika mendengar kabar buruk tentang wanita yang sudah lebih dari 10 tahun menjalani biduk rumah tangga dengannya.


"Dokter, Tolong segera jelaskan dan jangan membuat kami dipenuhi oleh pikiran negatif," lirih Renita Padmasari yang saat ini tidak kuasa untuk menahan diri agar tidak bertanya.


Hingga ia seketika membulatkan mata begitu mendengar perkataan dari sang dokter yang menjelaskan tentang hasil operasi dari menantunya.


Sang dokter saat ini tidak ingin semakin membuat pihak keluarga pasien bertanya-tanya tentang hasil operasi, kini langsung berbicara pada intinya.


"Kami tim medis sudah berusaha semaksimal mungkin. Dengan berat hati saya harus mengatakan kabar buruk ini. Saat ini, pasien telah ...."

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2