
Beberapa bulan lalu, sosok wanita yang tak lain adalah Ana Maria terbaring di atas ranjang perawatan Rumah Sakit setelah tiba-tiba pingsan di Mall ketika berbelanja dengan putranya.
Saat menyadari jika kondisi kesehatannya semakin memburuk dan akhirnya harus dirawat dan tidak bisa bertemu dengan putranya, ia memikirkan segala kemungkinan terburuk untuknya.
Hingga ia merasakan jika sikap Christian sangat aneh ketika membahas tentang putranya yang ingin ditemui karena beragam alasan. Sampai sikap pria itu juga berubah dan beberapa kali meninggalkannya.
Ia menghubungi detektif untuk menyelidiki sang suami yang sering tiba-tiba hilang dan menyuruh Vicky untuk menggantikan menjaganya. Sampai ia mendapatkan foto-foto serta informasi mengenai Laura yang ternyata dirawat di rumah sakit yang sama karena penyerangan dari orang tidak dikenal.
"Aku tahu jika kalian masih sama-sama saling mencintai dan terpaksa berpisah hanya karena aku yang dikasihani." Ana bahkan berpikir jika lebih baik ia menyingkir dari Christian dan Laura agar bisa bersatu dan membesarkan Valerio bersama-sama.
"Aku memang sangat mencintaimu, Christian, tapi kamu telah membuatku terluka karena perbuatanmu yang menikah diam-diam tanpa sepengetahuanku. Mungkin memang tempatku bukan berada di sisimu karena kamu masih mencintai Laura."
"Bahkan aku tahu jika kamu hanya merasa kasihan padaku," lirih Ana Maria saat sendirian berada di dalam kamar tanpa suami yang ia ketahui tengah pergi keluar, yaitu ke kantor polisi untuk melaporkan kehilangan putranya yang ternyata dibawa oleh Laura dan akhirnya tidak jadi dilaporkan.
Ia bahkan berpura-pura menjadi seorang wanita bodoh yang tidak tahu apapun dan menganggap jika Christian peduli padanya. Mengetahui semua itu dari laporan detektif, sehingga membuatnya ingin menyingkir dari kehidupan orang-orang yang tidak menginginkannya.
Hal yang menjadi penyebab sang suami beralasan ada pekerjaan mendadak atau yang lain saat tidak ada bersamanya adalah semua yang berhubungan dengan Laura. Ana Maria awalnya merasa sangat terluka karena sang suami masih sangat peduli pada Laura.
Ia akui jika antara sang suami dan juga Laura pastinya memiliki ikatan batin karena pernah hidup bersama sebagai suami istri selama 1 tahun dan juga dikaruniai buah hati yang sangat tampan, serta sangat disayanginya.
Merasa bahwa hidupnya tidak berarti lagi karena tidak ada yang peduli padanya, saat menganggap perhatian dari semua orang hanya atas dasar belas kasihan semata, akhirnya terpikirkan sesuatu di otaknya untuk menciptakan sebuah konspirasi besar.
Ana Maria mempunyai seorang teman yang tinggal di Jepang karena menikah dengan orang asli sana. Ia meminta bantuan untuk menciptakan sebuah boneka yang persis seperti manusia dan tentu saja harus mirip dengannya.
Ia bahkan selama ini menyimpan uang pribadi di salah satu rekening tanpa sepengetahuan suami. Hal itu karena dilakukannya untuk berjaga-jaga jika suatu saat sang suami membuangnya karena tidak bisa memiliki seorang anak.
Sampai akhirnya ia membayar mahal boneka tiruan yang persis seperti manusia. Tentu saja wajahnya sama persis seperti dirinya karena ia mengirimkan sebuah foto.
Bahkan untuk ukuran berat juga sama dengan berat tubuhnya karena tidak ingin ada satu kecurigaan pun dari orang lain bahwa itu bukanlah dirinya yang sesungguhnya.
Ia bahkan menyuruh detektif untuk membantunya membereskan masalah di rumah sakit, yaitu agar para tim dokter mau bekerja sama dengan menyatakan jika meninggal saat proses operasi.
Awalnya sangat sulit meyakinkan para aparat medis yang bertugas berada di ruang operasi, tapi Ana Maria akhirnya menyuruh detektif melakukan segala cara dan menemukan sebuah hal untuk membuat mereka semua setuju.
Detektif menyuruh orang untuk menculik salah satu dari keluarga para anggota tim medis yang ada di ruangan operasi dan akhirnya mau bekerja sama.
Saat Ana baru saja ke dalam ruangan operasi, ia segera bangun dari tidurnya dan menyuruh orang membawa boneka yang dipesan menyerupai dirinya. Bahkan para tim medis hanya menatap orang-orang yang tengah memindahkan boneka ke meja operasi.
Ana yang saat ini menatap ke arah beberapa orang di ruang operasi tersebut, kini menyuruh untuk mereka diam dan menjaga rahasia itu seumur hidup mereka jika tidak ingin anggota keluarga tersakiti.
"Terima kasih karena sudah mau bekerja sama membantu saya keluar dari masalah ini," ucap Ana Maria yang berusaha bersikap sopan pada aparat tim medis dengan berjabat tangan satu persatu sebelum pergi meninggalkan ruangan itu melalui pintu darurat.
Sebenarnya bisa dibilang lebih tepatnya adalah sebuah ancaman, bukan membantu, tapi sama sekali tidak dipedulikan oleh Ana Maria. Ia bahkan sudah memesan tiket ke Singapura saat itu juga agar jejaknya hilang.
__ADS_1
Bahkan mengatur semuanya agar tidak ada jejak sama sekali, sehingga tidak ada yang berpikir jika ia masih hidup. Kini, ia bergerak keluar dengan dibantu oleh detektif yang selama ini setia padanya.
Tidak hanya itu saja, ada seorang wanita yang akan menemaninya ke Singapura dan sudah menunggu di bandara.
Satu jam kemudian, ia sudah tiba di bandara. Ia memang sama sekali tidak membawa baju karena hanya membawa kartu debet miliknya serta kartu tanda pengenal. Ia sudah mengatur kartu tanda pengenal palsu serta paspor palsu yang ditinggal di rumah.
Bahkan karena saking mirip aslinya, sang suami tidak akan pernah menyangka jika itu adalah palsu dan pastinya hanya akan menyimpan ataupun membuang tanpa memeriksa keasliannya.
Ana ya saat ini berjalan masuk memasuki terminal keberangkatan, kini berjabat tangan dengan sang detektif sebelum masuk ke dalam bersama dengan wanita yang tak lain adalah mantan pelayan di rumahnya dulu.
"Terima kasih karena sudah membantuku sampai sejauh ini. Aku tidak tahu bisa apa tanpa bantuanmu," ucap Ana Maria yang saat ini menatap ke arah sang detektif yang telah berjasa banyak pada hidupnya.
"Sama-sama, Nyona Ana Maria. Anda adalah klien terbaik saya dan sangat senang bekerjasama dengan Anda. Semoga semuanya berjalan lancar dan Anda bisa cepat sembuh setelah berobat di Singapura." Sang detektif yang sudah melepaskan tangan dari wanita cantik dan anggun tersebut, kini membungkuk hormat sebagai salam perpisahan.
Ia dari dulu sangat iba dengan nasib seorang wanita cantik yang terlihat sangat sempurna di mata orang lain. Namun, menyimpan banyak luka yang mungkin tidak dirasakan oleh wanita dengan wajah standar yang bahkan malah lebih sangat dicintai oleh pasangannya dengan menerima apa adanya.
Ana Maria seketika tersenyum dan menepuk lengan detektif yang berusia masih sangat muda tersebut. "Semoga kau segera mendapatkan pasangan yang bisa menerimamu segala kekurangan serta kelebihan yang kau miliki. Aku pergi."
Kemudian ia melambaikan tangan saat mengantri untuk dicek dokumen yang dimiliki.
Sementara saat ini membalas lambaian tangan tersebut dengan tersenyum. "Semoga akan ada pelangi setelah hujan dan Anda merasakan kebahagiaan setelah banyak mendapatkan penderitaan."
Doa tulis dipanjatkan oleh sang detektif pada wanita yang kini sudah lolos diperiksa oleh petugas di bandara. Ia masih melihat siluet belakang wanita yang saat ini berjalan menjauh dan semakin masuk ke dalam, sehingga lama-lama sudah tidak terlihat lagi.
Namun, tentu saja sadar diri dan hanya bisa memendam perasaannya di dalam hati tanpa mengungkapkannya. Meskipun mengetahui jika wanita itu kini sudah memilih tidak lagi bersama dengan sang suami, tidak membuatnya percaya diri untuk menyatakan perasaan agar mau menerimanya sebagai pasangan.
"Aku akan selamanya mengagumimu dan mencintaimu dalam diam, Nona Ana," ucap satu teknik yang gini sudah masuk ke dalam mobil dan mengemudikannya meninggalkan area bandara.
Ia bahkan menunggu wanita itu menghubunginya lagi suatu saat nanti setelah benar-benar sembuh dan kembali ke Jakarta. "Aku tunggu proyek selanjutnya, Nona."
Dengan fokus mengemudi membelah keheningan malam, ia pun berharap bisa melupakan perasaannya pada seorang Ana Maria.
Sementara itu di tempat berbeda, yaitu di bandara, Ana saat ini berjalan bersama dengan mantan pelayannya menuju ke arah kursi tunggu sambil menunggu pengumuman dari petugas untuk masuk ke pesawat.
"Saya benar-benar sangat takut, Nona Ana. Apa tidak ada polisi yang menangkap saya karena membantu Anda memalsukan kematian Anda sendiri? Bagaimana Anda bisa memiliki pikiran seperti ini? Saya bahkan seperti sedang ikut syuting film saja," ucap wanita yang saat ini mengikuti majikannya tersebut ketika duduk di salah satu kursi.
Ana sebenarnya juga sangat heran dengan diri sendiri. Ia bahkan tidak percaya bisa menciptakan konspirasi sebesar itu untuk menipu semua orang yang ada di Jakarta. Bahkan seolah menganggap jika semua orang sangat bodoh bisa ditipunya lewat boneka yang mirip dengannya.
"Aku juga tidak tahu bisa memikirkan ide segila ini, Bik. Mungkin karena menjadi seorang wanita tersakiti, membuatku berubah menjadi wanita tidak masuk akal. Aku sebenarnya terpuruk dengan keadaanku." Ia saat ini memegangi dadanya yang terasa sesak ketika mengingat semua kenangannya bersama dengan Christian.
Ia kembali melanjutkan keluh kesahnya setelah mengembuskan napas kasar.
"Apalagi setelah orang tuaku meninggal dalam kecelakaan pesawat, lalu suamiku diam-diam menikah dengan wanita lain dan memiliki seorang anak tanpa sepengetahuanku. Rasanya duniaku seketika runtuh saat itu juga, tapi bertahan selama 1 tahun karena Christian memilihku daripada Laura." Ia awalnya merasa sangat senang sekaligus bahagia dengan kenyataan itu.
__ADS_1
Namun, menyadari jika sang suami sudah berubah meskipun selalu bersikap baik serta romantis padanya, tapi merasa jika semua itu hanyalah sebuah kepalsuan semata karena pikiran pria yang dicintainya ada pada wanita lain.
Wanita bernama Miranti yang seketika mengusap beberapa kali punggung majikannya untuk memberikan sebuah ketenangan. Ia bahkan merasa miris dengan cerita tentang hidup putri dari majikannya tersebut, sehingga tidak bisa menahan bulir air mata yang jatuh membasahi wajahnya.
"Anda harus bersabar, Nona Ana karena saat ini Tuhan sangat menyayangi, sehingga memberikan cobaan seberat ini. Anda harus tahu bahwa Tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan umat-Nya."
"Anda merupakan salah satu orang beruntung yang terpilih untuk merasakan cobaan yang nantinya akan berlalu dan semuanya baik-baik saja," lirih Miranti yang berusaha untuk menghibur saat hatinya sendiri tidak karuan karena merasa iba.
Ana Maria saat ini sama sekali tidak menangis seperti mantan pelayannya tersebut karena jujur saja ia merasa seperti sudah mati rasa dan tidak bisa lagi menangis. "Aku sangat tidak suka hidup dikasihani, Bik. Jadi, jangan mengasihaniku seperti ini. Aku benar-benar tidak menyukainya, jadi bersikaplah seperti biasa karena aku tidak apa-apa."
"Alasanku meninggalkan semuanya dan menciptakan kematian palsu untuk diriku sendiri karena aku tidak ingin mendapatkan kepalsuan dari semua orang yang mengasihaniku, termasuk suamiku sendiri yang sebenarnya terpaksa kembali karena kasihan padaku." Ana merasa sesak di dada, tapi tidak bisa meluapkannya dengan menangis.
"Padahal dalam hati suamiku masih sangat mencintai mantan istrinya itu, tapi selalu tersiksa karena tidak bisa pergi dariku. Aku akan membebaskan mereka bersatu, Bik. Mereka akan menjadi keluarga yang bahagia dan sempurna."
"Apalagi sudah ada Valerio yang merupakan buah cinta mereka." Ana seolah tidak merasakan apapun ketika membahas tentang suami dengan Laura.
Hatinya benar-benar mati setelah menganggap jika sikap semua orang adalah palsu. Ia bahkan hanya ingin bisa segera pergi dari orang-orang itu dan berharap bisa hidup tenang.
Salah satu temannya merekomendasikan rumah sakit di Singapura yang memiliki peralatan canggih dan lengkap yang bisa menyembuhkan penyakitnya karena sudah banyak terbukti.
Jadi, ia berharap bisa membuka lembaran baru di negeri dengan ikon singa tersebut. "Bibik harus selalu bersamaku sampai aku sembuh. Namun, jika Tuhan mengambil nyawaku, aku sudah ikhlas karena akan merasa sangat bahagia bisa bertemu dengan orang tuaku."
"Nona Ana, jangan berbicara seperti itu karena Anda akan sembuh dan hidup bahagia suatu saat nanti." Saat baru saja menutup mulut, mendengar suara pengumuman yang menyuruh para penumpang untuk segera memasuki pesawat melalui lorong yang sudah diatur.
Ana yang tadi langsung mengaminkan doa dari pelayannya, kini bangkit berdiri seperti yang dilakukan oleh penumpang lain. "Ayo, Bik. Kita berangkat ke tempat baru di mana tidak ada yang mengenal kita."
"Iya, Nona Ana. Ini adalah pengalaman pertama saya bisa naik pesawat bersama dengan majikan." Miranti saat ini tengah menyembunyikan kegugupannya agar tidak membuat malu sama majikan.
Ia tidak ingin bersikap kampungan dan mempermalukan sang majikan di depan semua orang, jadi mengikuti apapun yang dilakukan oleh wanita dengan paras cantik tersebut.
Ana saat ini menggandeng tangan wanita itu agar tidak gugup karena semua yang berawal dari pertama kali selalu membuat orang dipenuhi oleh kekhawatiran.
"Tenang, Bik. Ada aku. Tinggal ikuti saja aku dan anggap naik bus atau angkot saja. Bayangkan seperti itu saja," ucap Ana dengan terkekeh mendengar perkataannya sendiri.
"Nona ada-ada saja. Memangnya rasanya sama naik bus dengan baik pesawat?" Miranti saat ini makin penasaran dan ingin segera mengetahui perjalanan di udara untuk pertama kalinya.
Sementara itu, Ana mencari kursi penumpang dengan nomornya, kini langsung mengajak pelayan untuk duduk. "Nikmati saja semuanya, baru Bibik akan paham rasanya."
Kemudian mendaratkan tubuhnya di sebelah pelayannya dan melihat beberapa dalam pesawat.
'Semoga perjalanan kami selamat sampai tujuan,' gumam Ana yang saat ini merapal doa.
To be continued...
__ADS_1