
Satu bulan telah berlalu dan Ana terlihat sangat senang karena berpikir bahwa sang suami sudah waktunya pulang. Ia tidak sabar mengetahui kapan pria yang sangat dirindukannya itu kembali dan tidak ingin diberi kejutan seperti terakhir kalinya.
"Aku dan suamiku akhir-akhir ini sama-sama disibukkan oleh urusan pekerjaan di kantor, sehingga jarang berkomunikasi. Lebih baik aku bertanya padanya. Apakah hari ini sibuk atau tidak." Ana yang saat ini tengah telentang di atas ranjang king size di ruangan kamar, langsung mengirimkan pesan pada sang suami.
Saat ini sudah pukul sepuluh malam dan ia bahkan baru selesai memeriksa beberapa dokumen penting yang harus segera ditandatangani.
"Saat ini pukul 11 siang di New York, pasti suamiku sedang sibuk-sibuknya. Tak apalah karena aku hanya mengirimkan pesan singkat dan akan menunggu jawaban darinya." Ana pun kini mulai menggerakkan jari-jari lincahnya untuk mengetik huruf demi huruf merangkai sebuah kalimat ungkapan kerinduan.
Sayang, jarak yang membentang tak mampu memisahkan hati kita yang terpaut karena cinta dan rindu. Tahukan kamu bahwa sekarang aku sangat merindukanmu? Lalu, apa kamu tega membiarkan belahan hatimu terhukum rindu? Kapan kamu pulang? Ini sudah satu bulan kamu berada di New York.
Setelah membaca ulang dan merasa tidak ada yang salah atau pun aneh, kini Ana langsung mengirimkan pesan tersebut dan sangat berharap bisa segera mendapatkan sebuah balasan.
__ADS_1
Namun, saat sudah menunggu hingga beberapa menit, tak kunjung mendapatkan balasan karena dibaca pun belum.
"Pasti suamiku sangat sibuk." Ana pun kini menguap dan memilih untuk segera tidur karena esok hari harus berangkat bekerja lebih pagi.
Semua itu karena ada jadwal kunjungan mendadak di lokasi pabrik yang dulu sempat beberapa unit terbakar dan sudah bisa diatasi semua masalah yang berkaitan dengan kerugian.
"Nanti saat suamiku tidak sibuk, pasti akan menelpon atau membaca pesanku, lalu membalasnya." Ana bahkan tidak menjauhkan ponsel miliknya dari dekat bantal.
"Sayang, aku sangat merindukanmu," lirih Ana yang kini sudah memeluk guling.
Selama satu bulan selalu ditemani guling yang dipeluknya dan dianggap adalah sang suami. Ia kini membayangkan wajah tampan suami kala memejamkan kedua matanya.
__ADS_1
Namun, baru beberapa menit berlalu, indra pendengaran menangkap suara notifikasi dari ponselnya. Tanpa membuang waktu untuk memeriksanya, Ana seketika membuka mata untuk memastikan.
"Apa suamiku yang mengirimkan pesan?" Saat Ana sudah membuka pesan untuk memastikannya, kini seketika membulatkan mata begitu membaca pesan balasan dari sang suami.
Sayang, maafkan aku karena tidak bisa pulang sesuai jadwal. Ada banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan di sini terkait dengan pemasaran produk kita. Aku tidak bisa janji mengenai jadwal kepulanganku karena tidak ingin kamu kecewa. Aku harus meeting, Sayang.
Ana yang awalnya merasa sangat mengantuk, seketika hilang rasa kantuknya begitu melihat pesan balasan dari sang suami. "Suamiku tidak bisa pulang?"
"Aku sudah sangat senang karena ini adalah jadwal kepulangan suami, tapi ternyata hanyalah sebuah angan semu semata. Aaaah ... aku bahkan sudah sangat merindukan suamiku."
"Apa perlu aku terbang ke New York hanya agar bisa melihatnya?" sarkas Ana yang kini merasa sangat marah setelah membaca pesan berisi sesuatu yang tidak menyenangkan hatinya.
__ADS_1
To be continued....