
Christian yang berada di rumah sakit menunggu Laura yang masih belum melewati masa kritis dan masih dipantau terus oleh tim dokter yang sering datang ke ruangan ICU. Ia bahkan belum makan dari pagi karena tidak selera makan sama sekali.
Meskipun sebenarnya, cacing-cacing di perutnya dari tadi berbunyi karena hanya makan di pesawat dan sampai sekarang belum satu makanan pun masuk ke mulutnya karena dari tadi tidak beranjak dari tempat duduk.
Ia terus berada di sana dan menunggu hingga Laura lolos dari masa kritis. Bahkan ia terus mengajak Laura berbicara dan berharap wanita yang saat ini menggantungkan hidupnya pada alat-alat yang menempel di tubuh, bisa segera sadar dan melihatnya.
Christian sangat yakin jika nanti Laura sadar dan melihatnya pertama kali, pasti akan merasa sangat bahagia dan ia ingin selalu berada di sisi wanita yang terlihat sangat mengenaskan tersebut.
Hingga ia mendengar suara ponselnya yang bergetar karena memang tadi merubah mode getar agar tidak membuat suara-suara berisik di ruangan yang harus selalu steril dan sunyi itu.
Christian buru-buru keluar dari ruangan dan tadi melupakan untuk mengatakan bahwa ia berada di ruang ICU. Ia yakin jika asisten pribadinya sudah datang ke rumah sakit dan saat ini menggeser tombol hijau ke atas begitu berada di luar ruangan.
"Halo. Kau di mana?" tanya Christian yang saat ini mengedarkan pandangan ke sekeliling area untuk mencari keberadaan asisten pribadinya.
"Halo, Tuan Christian. Saya saat ini berada di lantai satu. Anda sekarang ada di mana?"
"Datanglah ke ruangan ICU yang ada di lantai 5." Kemudian langsung mematikan sambungan telpon dan saat ini berjalan menuju ke arah kantor untuk mengambil koper miliknya yang tadi dititipkan di sana.
Begitu mengambilnya, Christian saat ini menunggu di dekat kursi yang tersedia di sudut sebelah kanan ia berdiri. Ia melihat ke arah lift dan menunggu hingga asisten pribadinya keluar dari sana.
Benar saja, setelah ia melihat pintu lift terbuka, seketika melambaikan tangan dan asisten pribadinya langsung berjalan mendekat. Ia saat ini mengerutkan kening karena melihat pria yang usianya lebih muda tersebut membawa paper bag.
"Selamat sore, Tuan Christian." Vicky membungkuk hormat dan langsung menyerahkan makanan yang tadi dibelinya di salah satu tempat favorit bosnya.
__ADS_1
Ia berpikir bahwa pria yang sangat dihormatinya tersebut akan merasa senang jika dibawakan makanan kesukaan. Karena pastinya berada di rumah sakit, tidak selera untuk makan.
Apalagi jika ada sesuatu yang terjadi pada orang-orang yang disayangi, pastinya tidak akan berselera makan. Ia bahkan merasa sangat penasaran dengan siapa yang dirawat di rumah sakit hingga membuat bosnya tersebut menyembunyikan kepulangan dari New York pada sang istri.
"Apa itu?" tanya Christian yang saat ini menerima paper bag dan berisi kotak makanan. "Ini?"
"Kebetulan tadi saya lewat di depan penjual makanan favorit Anda. Jadi, saya pikir Anda akan menyukainya. Pasti Anda belum makan dari tadi karena terlihat jelas dari wajah yang sangat pucat."
Vicky sebenarnya merasa sangat terkejut ketika pertama kali melihat bosnya yang terlihat sangat pucat. "Jika Anda sakit, akan dirawat di sini dan pastinya keluarga Anda sangat khawatir."
Ia tidak ingin terjadi sesuatu hal yang buruk pada pria yang selalu memberinya bonus karena hasil kerjanya membuat bosnya tersebut puas.
Christian saat ini menatap ke arah makanan favoritnya yang tak lain adalah nasi goreng kambing. Ia bahkan dulu sering ke lapak itu bersama dengan sang istri saat masih muda.
Namun, ketika mengingat Laura masih belum melewati masa kritis, ia seolah kehilangan selera untuk makan. Namun, tiba-tiba kepalanya pusing dan membuatnya memijat pelipis.
"Sial! Tubuhku bahkan tidak bisa dibohongi dan bertahan sebentar lagi." Christian kini berjalan menuju ke arah tempat duduk dan menunggu asisten pribadinya tersebut melakukan hal yang sama.
"Apa Anda belum makan dari tadi, Tuan? Sebenarnya siapa yang saat ini berada di rumah sakit? Lalu, kenapa menyuruh saya membawa koper-koper itu ke apartemen saya?" Akhirnya Vicky tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran yang dirasakan.
Ia selama ini tidak pernah mengurusi mengenai masalah pribadi bosnya tersebut, tapi melihat pria itu sangat pucat dan sangat mengenaskan, jadi ingin mengetahui apa yang terjadi.
Christian tidak langsung membuka suara untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi padanya dan Laura. Ia akhirnya terpaksa membuka makanan yang masih hangat tersebut.
__ADS_1
"Sepertinya aku harus makan dulu dan temani aku karena tidak ingin makan sendiri." Christian kini menyuapkan satu sendok makanan ke dalam mulutnya.
Kemudian mengunyah nasi goreng kesukaannya yang selama ini selalu membuatnya ketagihan karena rasanya sangat lezat dan tiada duanya.
"Kenapa rasanya sangat berbeda dari biasanya?" Christian memastikan apakah itu benar-benar nasi goreng langganannya.
Di sisi lain, Vicky seolah mengerti apa yang membuat pria itu seperti tidak merasakan kelezatan yang sama dari makanan yang di bawanya.
"Sepertinya Anda terlalu mengkhawatirkan sesuatu, Tuan. Jadi, merasa bahwa makanannya berubah. Padahal ini adalah makanan kesukaan Anda dan penjualnya tetap orang itu."
Christian kini menyadari bahwa semua yang dikatakan oleh asisten pribadinya benar. Jadi, berpikir jika yang membuatnya merasa tidak berselera makan adalah ketakutannya pada kondisi Laura yang masih belum lolos dari masa kritis setelah dioperasi.
"Sepertinya kamu benar," ucap Christian yang memilih untuk melanjutkan makannya karena ia tidak ingin sakit dan akhirnya tidak bisa menjaga Laura.
"Aku harus makan banyak karena akan merawat seseorang yang berada di ruangan ICU." Christian berencana untuk menceritakan semua hal yang berhubungan dengan Laura karena ia membutuhkan bantuan asisten pribadinya tersebut.
Apalagi mengetahui bahwa sang istri selalu curiga padanya dan tidak bisa dibohongi. "Aku butuh bantuanmu untuk membuat istriku percaya bahwa saat ini aku masih berada di New York."
"Aku tidak tahu sampai kapan, tapi yang jelas mungkin cukup lama." Kemudian Christian menceritakan semuanya sambil menikmati makanan agar asisten pribadinya tersebut mengerti dan tidak lagi menampilkan wajah penuh dengan sorot pertanyaan.
Beberapa saat kemudian, ia menyelesaikan ceritanya dan ingin mendengar jawaban dari asisten pribadinya.
"Menurutmu bagaimana? Kira-kira apa alasan yang tepat untuk mengatakan pada istriku bahwa aku masih berada di New York?"
__ADS_1
To be continued...