365 Days With You

365 Days With You
Terbawa suasana


__ADS_3

Keesokan harinya, Christian terlihat tengah berkemas karena hari ini Laura sudah diizinkan pulang setelah dirawat lebih dari dua minggu di rumah sakit yang ada di Bandung. Bahkan kini ia bisa melihat sosok wanita yang tengah duduk di atas ranjang itu berbinar.


Seolah menunjukkan kebahagiaannya kala akhirnya pulang dari Rumah Sakit. "Apa kamu senang, Sayang?"


Laura refleks mengangukkan kepala dan tak lupa seulas senyuman terukir di bibirnya. "Sangat senang. Tidak perlu bertanya lagi padaku. Padahal sudah tahu jawabannya, kan."


Christian hanya tertawa kecil kala mendapatkan tatapan kesal dari sosok wanita yang ada di hadapannya tersebut. "Aku tahu, tapi ingin langsung mendengarnya dari bibirmu, Sayang."


"Apalagi melihatmu sangat bahagia, membuatku ikut senang karena istriku yang cantik ini makin terlihat menawan karena cahaya kecantikan terpancar." Kemudian Christian yang sudah selesai mulai mendekati sang istri yang malah mengerucutkan bibirnya.


"Gombal!" seru Laura yang kini merasa geli mendengar Christian tengah memujinya.


Bahkan untuk memastikannya, kini membuka tas selempang miliknya serta mengambil bedak untuk melihat sendiri seperti apa wajahnya saat ini. Ia memang tadi belum sempat memakai riasan karena berpikir jika sang suami masih sibuk berkemas.

__ADS_1


Kini, ia menatap ke arah cermin bulat kecil di dalam compact powder. Meskipun ia sama sekali tidak ingat memakai make up seperti apa, hanya menuruti kata hati yang tidak ingin terlihat menor.


Ia lebih suka yang natural karena berpikir jika itu itu tidak membuatnya merasa seperti memakai sebuah topeng.


"Rupanya benar." Laura bahkan berbicara tanpa menoleh pada sang suami yang tengah menatapnya.


Christian memicingkan mata karena merasa sangat heran dengan apa yang diungkapkan oleh wanita yang masih menatap intens ke arah cermin.


"Apanya yang benar, Sayang?"


"Aku pikir apa, Sayang. Apa kamu meragukan perkataanku? Hingga memastikan sendiri." Refleks Christian langsung mengarahkan tangan untuk mencubit pipi putih Laura. Namun, Laura menghindar dan memberikan sebuah ultimatum."


"Stop! Jangan macam-macam!" Kemudian Laura mengaplikasikan bedak tipis di wajahnya agar sedikit terlihat segar dan tidak pucat seperti mayat hidup.

__ADS_1


Sampai ia pun menoleh sekilas begitu selesai menyulap wajahnya jadi makin cantik. "Terima kasih karena memuji istrimu ini cantik. Padahal yang sebenarnya jauh lebih cantik."


Saat Christian dari tadi tidak berkedip menatap ke arah sosok wanita yang gagal diberikan hukuman, kini ia langsung membungkam bibir sensual yang dari tadi sibuk berbicara.


'Bahkan memuji diri sendiri sangat alay, tapi malah melakukannya dan menolak pujian dariku. Memberikan sebuah hukuman adalah jalan ninjaku. Biar kapok dan tidak lagi berani membuatku merasa gemas," gumam Christian yang kini sudah berhasil menguasai bibir sensual itu.


Bahkan ia yang awalnya menyesap bagian bawah bibir sang istri, kini ********** dengan menahan tengkuk belakang. Hingga lama-kelamaan urat syarafnya menegang dan membuat hasrat kelelakian bangkit seketika.


Sementara itu di sisi lain, Laura yang awalnya mengerjapkan mata karena merasa sangat terkejut atas ciuman tiba-tiba dari sang suami, hanya diam saja.


Hingga ia pun mulai terbawa suasana dan membuatnya membalas ciuman yang semakin memanas itu.


'Suamiku benar-benar sangat gila karena tiba-tiba menyerangku. Apalagi ini masih di Rumah Sakit. Sepertinya dia harus diingatkan agar tidak berbuat hal lebih dari ini,' gumam Laura yang kini langsung mendorong pria yang berani macam-macam padanya.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2