
Taksi yang melaju membelah kota Jakarta yang ditumpangi oleh Christian kini seketika berhenti begitu jalanan sangat macet dan lalu lintas kendaraan padat merayap.
Christian saat ini mengharapkan kami karena ia merasa heran dengan kemacetan hari ini. Padahal ini masih terlalu pagi dan biasanya belum banyak kendaraan melintas.
Jika biasanya jalanan macet saat jam kerja, tapi hari ini bahkan masih pukul setengah tujuh setelah ia melihat mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Kenapa macet sekali seperti ini?"
"Tidak tahu, Tuan. Saya akan keluar sebentar melihatnya terlebih dahulu."
Sang supir yang berada di antara banyaknya yang mobil yang berderet itu, mengedarkan pandangan ke depan untuk mencari tahu penyebab kemacetan di pagi ini.
Ia meraih ponsel miliknya untuk bertanya di mana keberadaan temannya yang dikejar tadi. Untuk memastikan bahwa teman sesama sopir taksi itu juga berada di antara kemacetan seperti yang ia alami.
Namun, nomor yang dituju sudah tidak aktif dan membuatnya memicingkan mata. "Tidak aktif? Padahal beberapa saat lalu, aku masih bisa menghubungi."
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa ia mematikan telpon?" Sang supir saat ini berjalan ke depan dan membulatkan mata begitu melihat mobil dengan plat nomor yang sangat dihafal adalah milik rekannya, sudah terbalik dan ada banyak orang yang berkerumun untuk menolong korban kecelakaan yang tak lain adalah sahabatnya.
"Astaghfirullah! Dion!" teriak sang supir yang saat ini berniat untuk menghampiri korban kecelakaan dan sahabatnya.
Namun, ia mengurungkan niat dan berbalik badan untuk berlari menuju ke arah taksinya. Ia berinisiatif untuk memberitahu penumpangnya yang tadi mengejar wanita yang ada di taksi temannya agar juga ikut membantu proses evakuasi.
Hingga ia pun kebetulan melihat penumpangnya keluar dari mobil dan langsung berteriak, "Tuan!"
Christian yang tadinya berada di dalam taksi, merasa penasaran dan ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi hingga membuat kemacetan luar biasa seperti sekarang ketika masih pagi.
Ia memicingkan mata begitu mendengar suara teriakan yang berasal dari sopir taksi. "Apa yang terjadi?"
"Tuan, taksi yang dikemudikan oleh rekan saya mengalami kecelakaan dan terbalik di tengah jalan. Saya tadi memeriksanya dan berniat untuk membantu proses evakuasi yang terlihat sangat sulit karena posisi kendaraan terbalik."
__ADS_1
Perkataan supir taksi seketika membuat Christian membulatkan mata dan detak jantungnya hampir meledak begitu saja begitu mengetahui bahwa Laura mengalami kecelakaan.
"Apa? Laura kecelakaan?" Christian seketika berlari sangat kencang untuk melihat bagaimana nasib wanita yang bahkan dari tadi tidak berhenti dipikirkan.
"Laura? Kamu tidak apa-apa, kan?" lirih Christian yang saat ini terus berlari dan begitu mengetahui mobil terbalik di antara kerumunan orang yang membantu proses evakuasi dan juga banyak polisi di sana.
Christian merasa jantungnya seperti berhenti berdetak begitu melihat bahwa Laura baru saja dikeluarkan dari mobil dengan kondisi mengenaskan.
Bahwa wanita yang sangat dikenalnya tersebut kini bersimbah darah di bagian kepala dan wajah. Mungkin seluruh anggota tubuhnya pun mengalami hal yang sama, tapi karena Laura memakai pakaian panjang, sehingga tidak terlihat.
"Laura!"
Christian berteriak sangat kencang saat memanggil Laura yang hendak dimasukkan ke dalam mobil ambulans. Ia saat ini benar-benar merasa sangat iba pada nasib wanita yang bahkan ingin dinikahi.
Semua orang yang berada di antara kerumunan dan para polisi seketika menoleh ke arah sumber suara dan melihat seorang pria berlari mendekat.
"Tidak! Kenapa jadi begini, Laura?" Christian bahkan saat ini terlihat sangat khawatir dengan wajah dan bulir air mata lolos dari matanya.
Ia yang selama ini tidak pernah sekalipun menangis karena adalah seorang pria yang kuat menghadapi apapun, tapi kali ini tidak kuasa menahan air mata yang sudah lolos tanpa seizinnya.
"Laura, kamu akan selamat dan tidak akan pergi meninggalkanku, bukan?" Christian yang berniat untuk naik ke atas ambulans agar bisa mengetahui bagaimana keadaan Laura yang dibawa ke rumah sakit, mendengar suara dari pria berseragam yang tak lain adalah polisi.
"Apa Anda mengenal korban kecelakaan ini? Kami tidak bisa menemukan identitasnya karena ia tidak membawa apapun," sahut salah satu pria berseragam yang saat ini mengurus korban kecelakaan setelah mendapatkan laporan beberapa saat.
Namun, sangat kesulitan karena korban kecelakaan yang merupakan penumpang wanita tersebut sama sekali tidak punya identitas dan pastinya akan sangat sulit untuk mengetahui siapa korban kecelakaan itu.
Refleks Christian menganggukkan kepala untuk membenarkan pertanyaan sang polisi. "Iya, saya mengenalnya. Namanya Laura."
"Syukurlah kalau begitu. Jadi, Anda bisa mengabari pihak keluarga mengenai kecelakaan ini. Anda juga bisa ikut masuk ke dalam mobil ambulans untuk menemani korban." Sang polisi berniat bertanya nanti setelah tiba di rumah sakit.
__ADS_1
Namun, Christian kebingungan karena ia memang mengenal Laura, tapi tidak mengetahui keluarganya sama sekali.
'Apa yang harus kulakukan sekarang? Tidak mungkin aku mengatakan bahwa saat ini tidak tahu menahu mengenai keluarga Laura?'
'Aku nanti pasti akan dikira pembohong karena mengaku karena Laura, tapi sama sekali tidak tahu siapa sebenarnya Laura.'
Christian saat ini hanya bisa bergumam sendiri dalam hati dan menatap ke arah polisi. Ia awalnya berniat untuk jujur, tapi akhirnya berpikir untuk menjelaskan saat di rumah sakit bahwa mengenal tanpa sengaja sosok Laura ketika berada di New York.
"Baik, Pak. Saya akan berada di dalam mobil ambulans untuk menemani Laura." Kemudian ia beralih ke arah sopir taksi yang saat ini baru saja menghampirinya.
"Tolong bawa barang-barang saya ke rumah sakit karena akan langsung ke sana dengan ambulans."
"Baik, Tuan! Saya pun memang berencana untuk ke rumah sakit juga karena khawatir pada teman dan semoga ia bisa selamat karena masih bernapas. Saya akan mengikuti dari belakang."
Sang supir itu langsung kembali ke taksinya setelah pria di hadapannya menganggukkan kepalanya. Apalagi mobil yang terbalik itu juga sudah disingkirkan agar tidak menghalangi jalanan yang dilalui.
Sementara itu, Christian buru-buru masuk ke dalam mobil ambulans bersama salah satu perawat dan tidak tega melihat nasib dari wanita yang sudah bersimbah darah itu.
Refleks ia menggenggam tangan dari sosok wanita yang ada di hadapannya tersebut. Tangan yang sempat digenggamnya seharian saat berada di dalam pesawat itu kini dipenuhi oleh darah.
"Sayang, bertahanlah! Kamu harus bisa melewati ini semua agar keinginanmu untuk menikah denganku terwujud. Aku akan menikahimu untuk menagih janji. Bahwa kamu berjanji ingin aku menikahimu saat kita bertemu lagi."
Christian bahkan sudah berkaca-kaca karena hatinya benar-benar terluka saat ini begitu melihat wanita yang kini bertahta di dalam hatinya terlihat sangat mengenaskan.
Ia tidak perduli pada perawat yang duduk di hadapannya karena satu-satunya yang dilihat hanyalah Laura.
"Kamu harus selamat, Sayang. Bahkan usiamu masih sangat muda dan belum pernah merasakan dicintai, bukan? Jadi, kamu harus kuat agar aku bisa memberikan banyak cinta untukmu," ucap Christian yang masih berurai air mata dan menghapus kasar bulir kesedihan yang mewakili perasaan saat ini.
To be continued...
__ADS_1