
"Aku tahu apa kau bukanlah seorang pemimpin perusahaan yang baru saja memulai karir, tapi jika kau terus-menerus seceroboh ini, benar-benar nasib perusahaan pakai di ujung tanduk. Kau selalu saja menyebut Valerio untuk membuatku tidak berkutik seperti ini dan merasa tidak berguna untuk perusahaan."
Ana kembali dibebani oleh perasaan bersalah jika berhubungan dengan anak laki-laki yang hanya bisa merasakan kasih sayang dari seorang ibu tiri. Ia tahu bahwa kasih sayang darinya tidak akan pernah bisa mengalahkan kasih sayang seorang ibu kandung.
Bahkan setiap hari selalu mempersiapkan hatinya agar jika suatu saat nanti putranya besar dan mengetahui kenyataan sebenarnya mengenai ibu kandung, yakin jika ia akan dibenci oleh Valerio.
Namun, tetap saja tidak berhenti berjuang untuk merawat Valerio seperti putra kandungnya sendiri meskipun tidak ada hubungan darah sama sekali.
'Aku selama ini stres karena memikirkan hal-hal buruk yang mungkin akan terjadi di masa depan setelah Valerio dewasa. Sementara suamiku hanya meminta untuk fokus mengurusnya tanpa memikirkan jika istrinya setiap hari selalu merasa takut serta khawatir kan terjadi hal yang dipikirkan.'
Ana saat ini mengembuskan napas kasar untuk meluapkan perasaan yang membuncah ketika ia memikirkan buah cinta sama suami dengan wanita lain. Bahkan menganggap bahwa pria di hadapannya tersebut tidak akan pernah mengerti apa yang ditakutkan selama ini.
Apalagi ia hanya memendamnya di dalam hati demi membuat rumah tangga mereka tentram dan tidak dipenuhi oleh kekhawatiran mengenai sosok wanita yang menjadi bayang-bayang dalam rumah tangga mereka.
Hingga begitu mendengar suara bariton dari sang suami yang berusaha untuk menghiburnya agar tetap berpikir positif mengenai perusahaan yang dikhawatirkan bangkrut jika terus-menerus menjadi korban ambisi.
"Sayang, sudah kukatakan jika aku akan memperbaiki kesalahanku. Aku berniat untuk menjual sahamku nanti setelah perusahaan Prameswari kembali membaik dari keterpurukan. Apalagi saat ini CEO di perusahaan itu sudah berubah dan semua orang merasa yakin jika sebentar lagi akan kembali seperti semula dan bahkan jauh lebih baik."
Christian sengaja mengalihkan perhatian dari sang istri agar tidak selalu mengungkit kesalahannya karena jujur saja saat ini kepalanya terasa seperti mau meledak karena dibangun oleh beban mental begitu melihat mantan istri sebelumnya yang ternyata menjadi penguasa di Perusahaan Prameswari.
Hingga ia seketika merasa bingung karena sang istri menagih janjinya bukan hanya bisa menelan saliva kasar.
__ADS_1
"Apa bule itu yang berhasil mendepak CEO bodoh yang tidak berguna di Perusahaan Prameswari? Oh ya, kamu bawa fotonya, kan?" Ana saat ini makin merasa penasaran seperti apa sosok wanita yang dianggapnya hebat karena bisa mengalahkan orang tertinggi di perusahaan.
Ia mengerutkan kening karena melihat sang suami hanya terdiam dan tidak menjawab apa yang diinginkan olehnya. "Kenapa diam saja? Jangan bilang jika kamu lupa mengambil foto bule itu saat aku sudah berkali-kali mengirimkan pesan agar tidak melupakan permintaanku!"
Ana yang saat ini seperti sudah mendapatkan jawaban atas pertanyaannya sendiri dan menganggap jika sang suami merasa bahwa perintahnya sama sekali tidak penting hingga dilupakan begitu saja.
Meskipun sudah berkali-kali mengirimkan pesan agar tidak lupa. Ia apakah mengarahkan tatapan tajam pada pria yang saat ini masih terdiam dan belum membuka suara sama sekali.
Christian yang saat ini pernah merancang sebuah alasan yang tepat agar sang istri tidak membuka padanya, belum menemukan sebuah solusi dan malah mendengar suara Ana ketika tertawa terbahak-bahak.
Meskipun tawa itu sebenarnya terdengar sangat miris karena mewakili perasaan Ana yang saat ini besar ada ulah sang suami. Hingga tiba-tiba ia terpikirkan sesuatu yang membuatnya terselamatkan dari kemurkaan wanita itu.
"Jadi, boleh itu kesal padaku dan langsung meminta salah satu tentang perusahaan untuk merampas perusahaanku dan akhirnya aku tidak bisa mengambil gambarnya. Maafkan aku. Lain kali, aku akan mengambil foto wanita itu jika bertemu lagi." Ia saat ini menunggumu respon dari sang istri yang belum menanggapi kebohongannya.
Namun, ia saat ini melihat Ana mengeluarkan ponsel dan seperti tidak mempedulikannya. Hingga ia membulatkan mata begitu mendengar suara bariton dari wanita yang masih fokus pada benda dengan layar pipih tersebut.
"Siapa nama lengkap bule itu karena aku ingin mencari tahu di mesin pencarian. Siapa tahu ada di sini." Ana benar-benar tidak sabar untuk melihat seperti apa wanita yang dianggap sangat arogan karena berani merampas ponsel suaminya.
Refleks Christian menggelengkan kepala karena memang pada kenyataannya tidak ada yang tahu mengenai semua hal yang berhubungan dengan wanita itu.
"Aku tidak mencari tahu dan tadi mendengar salah satu pemegang saham yang duduk di sebelahku mengatakan jika wanita itu menyembunyikan semua informasi tentang dirinya."
__ADS_1
"Seperti ingin sok misterius dan membuat semua orang makin penasaran dengan kehidupan wanita itu." Ia berharap penjelasan dari pria yang tadi duduk di sebelahnya menyelamatkannya dari interogasi yang dilakukan sang istri.
Bahkan saat ini merasa jika sesuatu yang ditunjukkan oleh Ana sangatlah berlebihan sekaligus menjadi sebuah feeling dari seorang istri yang mengkhawatirkan keadaan suami.
'Ana selamanya akan mencurigaiku meskipun aku sudah berada di sisinya. Rasanya hidup dicurigai seumur hidup seperti ini seperti kesulitan bernapas, tapi ini adalah pilihanku dan seumur hidup akan menghadapinya. Jadi, lebih baik menikmati dan tidak mengeluh atas sikap Ana yang terjadi karena ulahku sendiri.'
Christian yang selalu berusaha untuk membesarkan hatinya agar tidak menyalahkan ulah Ana yang selalu berlebihan ketika mencurigainya berselingkuh dengan wanita lain, kini bisa melihat wanita di hadapannya tersebut berdecak kesal karena tidak mendapatkan apa yang diinginkan.
"Kau benar-benar tidak bisa diharapkan!" Ana yang saat ini merasa sangat kesal dan bosan, langit berdiri dari sofa dan berniat untuk melanjutkan memeriksa pekerjaan sang suami di laptopnya.
"Aku tadi memeriksa laptopmu dan melihat laporan dari beberapa hal penting perusahaan. Tadi belum selesai memeriksa, tapi Vicky tiba-tiba datang dan menunjukkan hasil perbuatanmu. Kau istirahat saja dan pesan makanan untuk makan siang kita."
"Aku akan kembali memeriksa pekerjaanmu sebelum kembali menjadi seorang ibu untuk putraku." Ana pun melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke arah meja kerja sang suami.
Sementara itu, Christian seketika memijat pelipis dan bangkit dari sofa untuk menghentikan ulah sama istri yang akan membuka rahasia besar yang ditutupi selama ini.
"Sayang, tunggu!"
'Tidak! Ana tidak boleh membukanya karena jika melakukannya, aku benar-benar tamat hari ini,' gumam Christian yang saat ini berusaha untuk menghentikan langkah kaki sang istri.
To be continued ...
__ADS_1