
"Jangan bicara apapun sebelum kita tahu apa yang akan dilakukannya," sahut Mario yang kini menanggapi Laura karena berpikir akan hancur hari ini.
Ia masih belum yakin apakah mantan pengawal Laura itu sudah mengatakan hal yang sebenarnya pada Rendi Syaputra atau belum. Jadi, memilih untuk bersikap tenang dan membuat Laura tidak gegabah.
Setelah melihat Laura mengangukkan kepala, kini melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah dua pria berbeda generasi tersebut. Namun, ia yang tadinya sedikit khawatir jika semua rencana yang disusun hancur hari ini, ternyata tidak seperti yang dipikirkan begitu melihat seulas senyuman dari paman Laura.
"Bagaimana, Tuan Mario? Apakah nona Anastasya menerima tawaranku?" tanya Rendi Syaputra yang kini menatap intens pada asisten wanita yang sangat tidak disukai.
Sementara itu, Mario yang kini seketika menoleh pada Laura, bisa melihat senyuman terukir dari bibir sensual berwarna merah yang juga langsung mengangukkan kepala. Ia pun kini mengulurkan tangannya pada sosok pria yang dianggap sangat bodoh tersebut.
"Nona Anastasya menerima tawaran dari Anda, Tuan Rendi." Mario yang kini langsung merasakan tangan pria paruh baya itu, sengaja tersenyum lebar untuk menyambutnya.
"Wah ... luar biasa. Nona Anastasya ternyata memiliki insting kuat tentang dunia bisnis yang menguntungkan. Kalian tidak akan menyesal setelah memutuskan untuk menerima tawaranku." Rendi kali ini merasa sangat lega karena bisa melindungi nama besarnya dan sekaligus putranya.
Sementara di sisi lain, Laura yang tadinya siap membuka semuanya dan akan langsung menghancurkan pamannya, seketika menatap ke arah sosok pria yang berdiri di belakang.
Ia bahkan saat ini tengah bersitatap dengan pria yang sudah lama bersamanya di New York. 'Vincent tidak mengungkapkan jati diriku pada iblis ini? Kenapa? Bukankah dia adalah anjing peliharaan pamanku?'
'Apa dia ingin memerasku?' gumam Laura yang masih tidak habis pikir dengan apa tujuan mantan pengawalnya uang bekerja pada pamannya jauh lebih lama.
Tentu saja ia tidak bisa berpikir positif saat ini setelah mendapatkan banyak pengkhianatan dalam hidupnya. Hanya diri sendiri yang dipercaya olehnya dan kedua adalah Mario.
__ADS_1
Saat ini, Vincent tahu arti tatapan dari Laura, tapi tidak diperdulikan karena hanya bersikap datar di belakang bosnya. 'Aku hanya mengikuti arus, nona Laura. Pasti saat ini Anda merasa bingung dengan apa yang kulakukan?'
Ia tahu tidak mungkin berbicara dengan wanita di hadapannya tersebut. Jadi, memilih untuk menutup mulut tanpa berniat menjelaskan meskipun mengetahui tatapan penuh pertanyaan diarahkan padanya. Hingga ia mendengar suara bariton dari bosnya yang baru saja memujinya.
"Oh ya, perkenalkan! Ini adalah orang kepercayaan saya dan pintar berbahasa asing karena dulu lama tinggal di New York." Rendi yang baru saja menurunkan tangannya, menoleh ke belakang sekilas.
"Mungkin kau bisa menyapa dan bertanya sekilas tentang nona Anastasya tinggal di mana. Aku tidak fasih berbicara asing, jadi hanya bisa sedikit berkomunikasi dengannya." Kemudian memberikan kode dengan mata agar Vincent bergerak untuk mencari tahu.
Ia sebenarnya mempunyai niat untuk membuat wanita itu tertarik pada pengawalnya karena menganggap jika Vincent tak kalah tampan dari Mario. Berharap rencananya berhasil karena menganggap cinta bisa membuat orang berubah bodoh.
Karena tidak ingin membuat bosnya marah, Vincent kini langsung membungkuk hormat dan melaksanakan perintah. "Selamat datang di Jakarta, Nona Anastasya. Semoga Anda betah tinggal berada di Indonesia."
Namun, harus berpura-pura menjadi orang bodoh tidak tahu apa-apa dan akhirnya kini berubah menjadi orang lain hanya karena mengikuti permainan dari kedua belah pihak.
Laura yang berakting tersenyum, kini sudah kembali mengulas senyuman. Meskipun ia ingin sekali berbicara banyak hal tentang apa yang diinginkan mantan pengawalnya dulu, tapi berpikir jika pamannya nanti malah akan paham dengan pembicaraannya.
Jadi, ia hanya menjawab sesuai dengan apa yang dikatakan pria itu. "Terima kasih. Aku pasti akan merasa betah tinggal di sini. Maaf, aku tidak bisa mengatakan tempatku karena itu adalah privasi."
Awalnya Vincent berpikir jika Laura akan mengarang tempat tinggal di New York karena tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Itu hanya akan membuat Rendi Syaputra mengetahuinya.
Selama ini ia mengirim keponakannya tinggal di kota yang terkenal dengan julukan kota yang tidak pernah tidur atau yang paling populer adalah 'Big Apple'.
__ADS_1
Ia kini kembali mengangguk hormat dan tersenyum simpul untuk menghargai pendapat. "Ya, saya mengerti, Nona Anastasya. Itu adalah merupakan privasi Anda. Jadi, tidak akan bertanya lagi."
"Terima kasih." Laura yang tidak ingin berlama-lama berada di hadapan orang yang membuatnya sesak, kini menoleh ke arah Mario sambil menunjuk ke arah jam tangannya. "Kita harus pergi sekarang karena ada janji dengan klien penting!"
Mario yang tadinya berpikir jika Laura akan berbicara panjang lebar dengan mantan pengawas serta orang kepercayaan dan Rendi Syaputra, kini seketika mengetahui jika wanita itu sangat indah nyaman dan ingin segera ingkang dari hadapan mereka.
Ia pun kini melakukan kepala pada Laura sebagai persetujuan dan setelah itu beralih pada pria paruh baya itu. "Kami harus segera pergi karena ada janji penting dengan klien. Mengenai saham, saya akan kembali besok ke perusahaan ini."
Oh ya, satu hal lagi sebelum terlupa." Mario kini menjeda ucapannya agar pria paruh baya tersebut makin penasaran dan benar apa yang diungkapkan saat ini setelah melihat tatapannya.
"Nona Anastasya memang mengembalikan posisi CEO di perusahaan ini dan tidak akan muncul lagi di sini jika tidak ada meeting. Namun, posisinya tetaplah pemegang saham tertinggi. Jadi, buat perusahaan ini berkembang pesat seperti dulu."
"Tidak ada yang ingin mengalami kerugian, tapi paling tidak putra Anda bisa meminimalisir itu. Kami permisi." Kini ia pun beralih menatap ke Laura. "Mari, Nona Anastasya."
Laura yang kini tersenyum palsu pada dua pria tersebut, segera melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke arah lift. Ia yang dari tadi masih penasaran dengan pemikiran Vincent, kini berharap mendapatkan sebuah jawaban setelah bertanya pada Mario begitu di dalam lift.
"Menurutmu, apa alasan Vincent tidak mengatakan semua yang diketahuinya pada iblis itu?"
"Ada dua kemungkinan," sahut Mario begitu pintu lift terbuka dan membuatnya ingin Laura mengetahui apa yang ada di pikiran para laki-laki agar lebih waspada.
To be continued...
__ADS_1