
Beberapa saat lalu, Ana Maria yang baru tiba di rumah mertuanya, buru-buru masuk ke dalam karena mendengar suara tangisan putranya yang sangat kencang. Ia bahkan membayangkan jika putranya lama menangis dan tidak ada yang bisa menenangkannya.
Jadi, merasa iba dan sedikit berlari meskipun memakai sepatu dengan hak tinggi. Kini, ia yang baru saja memasuki pintu utama, melihat putranya yang tengah tantrum di lantai dan di saat bersamaan, mendengar suara dari mertuanya.
"Akhirnya kamu datang juga! Entah apa yang salah, sehingga cucuku bisa menangis seperti itu." Renita yang saat ini masih berjongkok di dekat cucunya yang tengah menangis sambil berguling-guling di lantai, tidak bisa mendiamkan bocah laki-laki itu.
Ia awalnya ingin kembali menelpon putranya, tapi tidak jadi begitu melihat sang menantu yang sudah tiba. "Apa sebenarnya yang terjadi pada cucuku? Bagaimana kamu merawatnya sebenarnya? Kenapa tumbuh menjadi anak yang tantrum begini?"
Ia berpikir jika menantunya itu tidak mempunyai bakat atau naluri seorang ibu karena bukan ibu kandungnya, sehingga cucunya tumbuh susah dikendalikan. Jadi, ingin menantunya merubah pola asuh untuk cucu satu-satunya.
Ana yang awalnya hendak langsung menolong putranya tanpa menyalahkan sang mertua yang tidak bisa mendiamkannya, kini merasa kesal karena malah dijadikan sasaran.
Namun, berusaha untuk meredam emosinya agar tidak meledak di rumah megah nan mewah yang selalu saja membuatnya serasa sesak napas. Jadi, ingin segera pergi dari sana agar bisa menghirup udara yang menyejukkan di luar rumah mertuanya itu.
Ia kini berpura-pura menyesal sambil merayu putranya. "Maaf, Ma. Nanti aku akan berusaha instrospeksi tentang cara mengasuh putraku." Kemudian mencium putranya yang masih menangis.
"Sayang, ayo ikut Mama. Jagoan Mama papa tidak boleh nangis, ya. Nanti papa nggak sayang Valerio. Mau dibelikan mainan banyak sama papa lho. Atau beli mainan sama Mama sambil mamam es krim, yuk?" Ana kini sudah mengulurkan tangannya agar putranya yang saat ini masih tengkurap di lantai itu menyambutnya.
Saat ia melihat Valerio juga menatapnya, merasa yakin jika putranya akan langsung bergerak ke arahnya. Hingga ia pun kini tersenyum simpul begitu bocah laki-laki itu perlahan mengulurkan tangan mungilnya.
"Aah ... Sayangku," Ana langsung bergerak cepat untuk menggendong putranya dan langsung memeluk serta menciumnya.
Ia merasa sangat lega begitu Valerio kini sudah tidak menangis lagi, meski masih ada sisa-sisa tangisan dengan sesekali sesenggukan. Kini, ia menghapus bulir air mata di wajah menggemaskan itu dengan sapu tangannya di dalam rok selutut yang dikenakan.
"Sayangku memang anak Mama yang paling pintar." Saat Ana masih sibuk membersihkan bulir air mata di wajah bocah laki-laki di pangkuannya itu, mendengar suara serak yang agak tidak jelas.
Bahwa putranya saat ini tengah menagih meminta mainan dan es krim kesukaan. "Sayang mau beli mainan sekarang sambil makan es krim?"
Refleks bocah laki-laki itu langsung mengangukkan kepala sambil bertepuk tangan untuk mengungkapkan kegembiraannya.
"Baiklah. Sekarang kita beli mainan sekarang, ya. Jagoan papa dan Mama salim dulu sama nenek." Saat Ana baru saja menutup mulut, kembali melihat sikap sinis mertuanya yang seperti tidak ingin berlama-lama melihatnya.
__ADS_1
"Jadi, ini caramu mengasuh cucuku? Sedikit-sedikit dirayu mainan dan es krim, kalau nanti jadi ketergantungan gimana? Tapi ya sudahlah. Sepertinya memang cuma itu yang bisa kau lakukan." Renita yang sebenarnya ingin melanjutkan perkataannya untuk menyebutkan jika Ana bukanlah ibu kandungnya, tapi tidak jadi melakukannya karena khawatir akan berakibat buruk.
Bahwa ia tidak ingin Ana melapor pada putranya, jadi hanya mengatakan itu. Ia sebenarnya dulu sangat marah pada putranya yang menceraikan Laura dan lebih memilih Ana yang mandul, sehingga tidak bisa menambah keturunan.
Namun, alasan tidak mungkin meninggalkan Ana yang tengah sakit, membuatnya tidak bisa menang berdebat dengan putranya. 'Dulu Christian tidak meminta izinku saat mengambil keputusan.
'Jadi, aku sama sekali tidak tahu jika menantu kesayanganku telah ditalak tepat di saat hari melahirkan. Bahkan setelah lama baru mengetahuinya dan tidak bisa menemukan keberadaan Laura yang tiba-tiba menghilang,' gumam Renita yang saat ini mengingat ketika menampar putranya saat mengatakan hal yang sebenarnya.
Sementara itu, Ana yang hanya bisa meremas sisi kiri rok yang dipakai, masih diam dan tidak membuka suaranya. Ia masih mengarahkan Valerio agar mencium tangan sang nenek sebelum pergi dari rumah mewah yang hanya dianggapnya sebagai sebuah neraka itu.
'Ya Allah, sabarkanlah aku agar tidak berteriak pada mertuaku. Jika aku tidak bisa menahan diri, mungkin sudah menarik rambutnya,' lirih Ana yang hanya bisa meluapkan emosi di dalam hati.
Hingga saat putranya sudah mencium punggung tangan mertuanya, ia pun melakukan hal sama. "Kami pulang dulu, Ma." Kemudian mengucapkan salam sebelum melangkah pergi ke pintu utama.
"Iya, jaga cucuku dengan baik. Jangan sampai terjadi sesuatu padanya," teriak Renita sebelum menantu dan cucunya menghilang di balik pintu.
Kemudian mengembuskan napas kasar karena kesal. "Bisa-bisanya dengan mudah Ana merayu cucuku. Padahal aku sudah melakukan hal serupa tadi. Bahkan akulah yang ada ikatan darah, bukan dia yang bukan apa-apa."
Karena kesal, kini ia berteriak pada pelayan untuk membereskan rumah yang sangat kacau karena banyak mainan berserakan di lantai. Memang ia sudah menyiapkan semua itu agar cucunya betah bermain dan pulang sore, tapi tidak seperti yang diinginkan.
Sementara di sisi lain, Ana yang tadi sengaja memarkir kendaraan di luar pintu gerbang agar tidak berlama-lama di rumah mertua, kini sudah menggendong putranya dan beberapa kali menciumnya.
"Valerio memang benar-benar jagoannya Mama. Terima kasih, Sayang karena telah menunjukkan pada nenekmu yang angkuh itu jika Mama berguna dan lebih penting untukmu." Ana bahkan saat ini berkaca-kaca ketika mengingat penghinaan yang didapatkan dari mertuanya.
Ia tahu bahwa ibu mertuanya tidak pernah menyukainya meskipun sudah mencurahkan kasih sayang pada Valerio. Ia selalu tampak bukan apa-apa di mata wanita yang merupakan ibu dari pria yang sangat dicintai.
Karena tidak ingin dilihat oleh orang lain saat berurai air mata, kini langsung masuk ke dalam mobil dan menurunkan putranya di kursi sebelah. "Sekarang kita pergi beli mainan dan es krim, ya." Mencium kening putranya dan menutup pintu mobil setelah memakaikan sabuk pengaman.
Kemudian berjalan memutar dan duduk di balik kemudi setelah masuk ke dalam mobil. Nasib baik putranya terlihat sangat penurut dan tidak sibuk bergerak ke sana kemari saat ia mengemudi menuju ke arah supermarket untuk membelikan apa yang diinginkan putranya sekaligus berbelanja.
Hingga beberapa saat kemudian sudah tiba di salah satu pusat perbelanjaan yang ada di Jakarta. Ia bahkan menggendong putranya yang sebenarnya ingin berjalan, tapi dilarangnya karena hari ini cukup ramai.
__ADS_1
Ia memang menuju ke stand mainan dan membeli apapun yang diinginkan putranya. Hingga begitu mendapatkan mainan, bocah laki-laki itu makin senang dan sudah sibuk membuka salah satu mainan yang telah dibeli.
Ana melanjutkan kegiatannya untuk panjang bahan makanan putranya yang memang sudah habis. Karena ingin memudahkannya mendorong troli tanpa menggendong, sehingga menempatkan bocah laki-laki itu ke dalamnya. Kini, ia berniat untuk berbelanja sayuran dan juga ikan serta daging.
Tanpa sepengetahuan Ana, terlihat pengawal Laura yang masih setia membuntuti wanita itu sesuai dengan perintah bosnya dan beberapa kali mengambil gambar dengan angel terbaik dan mengirimkan fotonya pada nomor tuannya.
Hingga ia memicingkan mata ketika melihat wanita yang sedang diawasi memijat pelipis. Hal itu terlihat sangat jelas olehnya karena di perjalanan di sebelah kanan wanita itu dan berpura-pura memilih makanan.
Saat baru saja berniat untuk bertanya pada wanita itu untuk berpura-pura mengecek keadaannya, tapi saat berjalan mendekat, tubuh wanita itu terhempas ke lantai karena kehilangan kesadaran.
Saat ia berniat untuk memeriksa keadaan wanita itu, suara tangisan dari anak laki-laki yang berada di atas troli tersebut menggema di pusat perbelanjaan tersebut.
Bahkan ini beberapa orang yang melintas langsung mendekat dan berusaha untuk menyadarkan wanita yang tiba-tiba pingsan saat berbelanja.
"Tolong bantu wanita itu karena saya tidak mengenalnya dan bukan suaminya." Ia yang tidak ingin ada kesalahpahaman dan dipikir adalah suami yang tidak bertanggung jawab, sehingga lebih dulu menjelaskan.
Namun, karena suara tangisan dari bocah laki-laki di atas troli tersebut makin kencang, seketika membuatnya bergerak untuk menggendongnya dan berusaha menenangkan agar tidak menangis saat melihat sang ibu yang kehilangan kesadaran.
"Sayang, jangan nangis, ya. Mama tidak apa-apa." Pengawal itu benar-benar kebingungan untuk mencari alasan apa yang tepat agar bocah laki-laki di gendongannya tersebut berhenti menangis
Hingga ia pun kini mengambil asal makanan berjenis roti dengan isi coklat dan memberikan pada bocah di gendongannya yang masih menangis bisa disebut sambil menunjuk ke arah sang ibu yang sudah berusaha ditolong oleh orang-orang dan dibawa ke tempat yang lebih privat.
Ia masih mengikuti dan terus menenangkannya dan kembali mengambil coklat karena berpikir anak kecil selalu menyukainya.
Hingga beberapa saat kemudian merasa lega begitu bocah laki-laki itu menerima coklat pemberiannya dan langsung dibukanya apa dinikmati. Kemudian melihat wanita yang pingsan itu sudah diberikan minyak angin agar sadar dari pingsannya.
Ia pun mengambil ponsel dan mulai situ mengambil gambar bocah di gendongannya yang tengah asyik makan coklat. Kemudian menelpon majikannya dan melaporkan apa yang saat ini terjadi.
"Apa yang harus saya lakukan sekarang, Bos?" tanyanya sambil menatap ke arah anak laki-laki di gendongannya yang sudah belepotan menikmati coklat.
Hingga ia seketika membulatkan mata begitu mendengar perintah dari seberang telpon, yang tak lain dari bos perempuan.
__ADS_1
"Bawa anak laki-laki itu keluar dari Mall sekarang!"
To be continued...