365 Days With You

365 Days With You
Mengingatkan pada masa lalu kelam


__ADS_3

Christian menoleh ke arah sosok wanita muda yang menurutnya sangat cantik tengah bertanya dan langsung duduk di kursi sebelahnya. Ia yang barusan sibuk meracau dengan bahasanya, berpikir tidak akan ada yang paham dengan semua keluh kesahnya hari ini.


Ia tidak mungkin bisa melakukan itu di rumah karena memang selama ini terlihat seperti seorang pria bahagia yang membuat banyak orang iri, kecuali masalah keturunan.


Berasal dari keluarga konglomerat dan anak tunggal yang mewarisi kekayaan orang tua, memiliki seorang istri yang sangat cantik dan dulu merupakan gadis paling populer di kampus dan hanya ia yang bisa mendapatkannya.


Namun, ternyata semua kesempurnaan dari kebahagiaan yang dirasakan tidaklah sesuai dengan ekspektasinya karena sepuluh tahun menikah masih belum dikaruniai keturunan.


Tanpa menjawab, pertanyaan dari wanita yang di tempatnya masih berusia belia itu hanya ditatap dengan memicingkan mata karena ia khawatir jika semua keluh kesahnya barusan didengar.


Apalagi saat ini terlihat wanita di sampingnya mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri.


"Sepertinya benar bahwa kau juga berasal dari Indonesia. Aku Laura." Wanita yang saat ini masih mengundurkan tangan dan menunggu hingga mendapatkan balasan, mengulas senyuman seketika karena mendengar suara bariton dari pria incarannya.


Laura saat ini sedikit mabuk, sangat senang karena bertemu dengan pria yang satu negara dengannya. Ia selama ini fokus pada pendidikan dan tidak pernah dekat dengan pria manapun karena berharap bisa mendapatkan prestasi di sekolah maupun universitas.


Doktrin dari sang paman yang menyuruhnya untuk selalu menjadi sempurna dalam hal apapun agar tidak ada celah keburukan dan itu selalu dikatakan demi kebaikannya.


Ada banyak orang yang mencari kekurangannya agar bisa menjatuhkan dan membuatnya tidak ingin itu terjadi karena berakibat akan kehilangan semua haknya sebagai pemimpin perusahaan serta mendapatkan warisan.


Namun, sekarang ia sudah tidak terikat dengan pendidikan karena sudah mendapatkan gelar yang sesuai dengan harapan keluarga, jadi berpikir bahwa saat ini tidak salah jika mempunyai keinginan dekat dengan seorang pria.

__ADS_1


Apalagi siluet pria yang menurutnya sangat tampan saat dilihat dari dekat, membuat Laura seketika terpesona dan merasa jatuh cinta pada pandangan pertama pada pria yang ternyata berasal dari negara yang sama dengannya.


Jika selama ini ia lebih suka dipanggil Anastasya dan tidak pernah menyebut nama Laura pada semua orang yang dikenal di New York, karena selalu mengingatkannya pada masa lalu kelam di negeri kelahirannya.


Nama Laura sudah lama dikubur rapat-rapat dan ia lebih senang dipanggil Anastasya oleh semua teman-temannya agar tidak selalu mengingat masa-masa penuh kesedihan ketika kehilangan orang tuanya yang kecelakaan di hari ulang tahunnya.


Setiap nama Laura disebut, pasti akan selalu mengingat jika orang tuanya dulu sering memanggilnya seperti itu dan membuatnya selalu mimpi buruk selama bertahun-tahun.


Laura selama ini hidup kesepian di negeri orang tanpa sanak saudara karena harus fokus pada pendidikan, berusaha untuk kuat di depan semua orang.


Namun, saat hanya berada di dalam kamar, ia selalu menangis penuh kesedihan ketika mengingat bahwa orang tuanya sudah tidak lagi bersamanya saat masih usia 15 tahun.


Entah mengapa saat memperkenalkan diri pada pria yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama, tidak memperkenalkan diri dengan nama Anastasya, tapi malah menyebutkan nama Laura.


"Christian. Apa yang kamu inginkan? Aku sama sekali tidak mencari wanita untuk bersenang-senang di sini. Pergilah! Cari saja mangsa yang lain karena aku sudah menikah," ucap Christian yang langsung menunjukkan cincin kawin di jari manisnya.


Ia berharap wanita yang berpakaian kurang bahan tersebut segera pergi darinya karena berpikir bahwa yang mendekatinya adalah seorang wanita penghibur dan sedang mencari pelanggan demi bisa mendapatkan uang.


Apalagi saat ini pikirannya benar-benar kacau karena memikirkan masalah keluarga serta rumah tangganya yang dilanda prahara. Jadi, tidak ingin rencananya untuk menenangkan pikiran sambil minum minuman beralkohol di klab malam itu diganggu oleh wanita tidak dikenal.


Sementara itu, Laura yang saat ini tidak mengalihkan pandangan pada cincin kawin yang melingkar di jari manis pria yang duduk di sebelahnya, merasa sangat kecewa.

__ADS_1


Karena pertama kali tertarik pada seorang pria, ternyata adalah pria yang sudah memiliki seorang istri. "Wah ... sepertinya aku memang tidak beruntung dilahirkan di kehidupan ini."


"Mungkin di kehidupan yang akan datang, akan mendapatkan keberuntungan. Apa kau sangat mencintai istrimu? Karena biasanya kebanyakan pria yang menjalani hubungan LDR itu selalu mempunyai simpanan untuk mengisi kekosongan hati."


Laura yang merasa sangat kesal karena gagal untuk menggoda pria tampan yang membuatnya sangat tertarik, memberikan kode pada bartender agar menuangkan minuman untuknya.


Sang bartender yang sudah sangat hafal dengan minuman kesukaan wanita di hadapannya, langsung menyiapkannya.


Di sisi lain, Christian yang merasa bahwa wanita muda itu sok tahu mengenai hubungan rumah tangga LDR, sehingga saat ini balik bertanya karena memang tidak berpikir untuk menjawab.


"Berapa usiamu? Sepertinya kau masih sangat muda, tapi kenapa memilih untuk bekerja seperti ini? Seandainya orang tuamu tahu bahwa putrinya berada di luar negeri hanya untuk menjadi seperti ini, pasti akan sangat kecewa."


Awalnya, Laura yang tersenyum pada bartender ketika memberikan koktail pesanannya, seketika menggenggam erat pegangan pada gelas kaca berisi minuman berwarna-warni tersebut.


Selama ini tidak ada yang berani mengungkit mengenai masalah orang tuanya yang sudah lama meninggal dan membuatnya selalu sensitif jika mengingatnya.


Namun, begitu mendapatkan sebuah penghinaan atas kesalahpahaman dari pria yang diincarnya, seketika membuatnya langsung mengangkat gelas yang digenggam dan langsung melemparkan ke lantai.


Tentu saja suara lemparan dari gelas yang sudah berubah menjadi serpihan kaca tersebut menjadi pusat perhatian beberapa orang yang ada di sana. Namun, Laura sama sekali tidak peduli dan menatap tajam pria di hadapannya.


"Jangan bawa-bawa orang tua di tempat ini, Christian! Atau aku akan membuatmu menyesal!" sarkas Laura yang kini ingin membuat pria itu tidak mengingatkannya pada masa lalu kelamnya.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2