365 Days With You

365 Days With You
Sebuah cobaan


__ADS_3

Christian merasa sangat yakin jika siluet wanita yang tadi dilihatnya adalah Laura. Namun, karena posisinya yang saat ini berada di barisan paling belakang sendiri, membuatnya tidak bisa mengejarnya.


Sesekali ia mengembuskan napas kasar karena melihat antrian panjang di depannya dan tidak mungkin bisa menembus banyaknya orang yang sibuk satu-persatu diperiksa.


'Sial! Jika benar yang kulihat tadi adalah Laura, semoga ia terbang ke Jakarta dan berada dalam satu pesawat yang sama denganku,' gumam Christian yang kini mempunyai sebuah harapan besar pada sosok wanita yang kemarin masih diingat berasal dari Jakarta.


Hingga setelah beberapa menit kemudian, Christian mulai diperiksa koper serta kelengkapan dokumen sebelum masuk ke dalam.


Ia bahkan tidak tenang karena sesekali mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan Laura. Namun, ia sempat ragu karena yang dilihatnya tadi sama sekali tidak membawa koper dan berpikir ada yang membawakannya.


"Laura, kamu di mana?" tanya Christian yang kini merasa degup jantung berdetak sangat kencang ketika membayangkan bisa bertemu lagi dengan wanita yang telah menawarkan keperawanan padanya.

__ADS_1


'Apa ia akan mengingatku dan tidak berubah pikiran saat bertemu lagi denganku?' Christian kini menarik koper-koper miliknya dan menuju ke ruang tunggu yang telah disediakan.


Saat ia mengedarkan pandangan ke sekeliling area ruangan tunggu, mengerutkan kening karena sama sekali tidak melihat sosok wanita yang dicarinya.


"Di mana, ya keberadaan Laura saat ini?" tanya Christian yang tengah berjalan menuju ke arah kursi kosong dan mendaratkan tubuhnya di sana.


Hingga ia mendengar suara dering ponsel miliknya dan melihat jika sang istri yang menghubungi. Tanpa membuang waktu, Christian langsung merasa jantungnya seperti berdetak kencang karena berpikir jika insting seorang istri kuat ketika suami memikirkan wanita lain.


Christian kini menggeser tombol hijau dan mendengar suara bariton dari Ana. "Halo, Sayang."


"Aku lagi kerja, Sayang. Tapi tidak apa-apa karena aku juga sangat merindukanmu. Oh ya, lusa aku pulang. Jadi, jemput aku nanti bandara setelah aku tiba di Jakarta."

__ADS_1


"Oke, siap. Aku akan selalu ada untukmu, Sayang," ucap sosok wanita yang saat ini ada di Jakarta. "Baiklah, bekerjalah yang baik, Sayang. Agar uang belanjaku tidak akan pernah habis. I love you," ucap sosok wanita yang saat ini langsung mematikan sambungan telpon setelah mendengar balasan dari ungkapan cintanya.


Sementara itu, Christian yang kini seketika terdiam karena merasa jika ia merasa bersalah pada wanita di seberang telpon. "Ana, maafkan aku karena di sini malah memikirkan wanita lain."


Christian yang tadi mendengar suara dari sang istri, menyadari kesalahannya dan menepuk jidat berkali-kali. "Aku tidak boleh mengkhianati Ana. Cinta kami bahkan sangat besar dan sudah berlangsung sepuluh tahun lebih."


"Lupakan Laura, Christian karena ia sama sekali tidak penting untukmu," gumam Christian yang saat ini tidak lagi bisa menahan perasaan yang dikuasai oleh keraguan atas apa yang dirasakan untuk wanita lain selain istri.


Hingga beberapa menit menunggu dengan perasaan berkecamuk, membuat Christian menyadari bahwa sosok Laura adalah cobaan yang dikirim Tuhan padanya.


Apakah ia tetap setia dan bertahan pada sosok wanita yang sudah lama menjadi istri atau tergoda oleh sosok wanita muda sekelas Laura yang cantik dan seksi, serta masih perawan.

__ADS_1


Entah mengapa ia percaya jika Laura adalah sebuah cobaan dari rumah tangga yang sampai sekarang belum dikaruniai keturunan. Padahal ia sangat ingin bisa segera merasakan indahnya suara dipanggil papa.


To be continued...


__ADS_2