
Setelah menempuh perjalanan selama 2 jam lebih, kini kendaraan yang membawa Laura bersama Christian sudah tiba di salah satu rumah sakit swasta yang ada di kota Bandung. Christian sudah mengurus semuanya dengan membawa surat dari dokter di rumah sakit yang ada di Jakarta.
Ia saat ini melihat Laura tengah diperiksa oleh dokter sebelum dipindahkan ke ruang perawatan. Sambil menunggu di luar ruangan IGD, ia memeriksa ponsel miliknya dan membaca pesan dari asisten pribadi yang mengabarkan tentang kebakaran di salah satu pabrik.
Hingga ia pun mulai berjalan menuju ke arah luar ruangan IGD untuk menghubungi asisten pribadinya tersebut. Begitu sambungan telepon darinya diangkat oleh Vicky, seketika mengumpat untuk meluapkan kekesalan yang dirasakan.
"Bagaimana semuanya bisa terjadi? Kenapa jika terjadi kebakaran akibat kecerobohan pekerja?" Christian benar-benar sangat marah begitu mengetahui kabar buruk yang dialami oleh perusahaan dan pastinya akan menimbulkan kerugian sangat besar.
Sementara itu, Vicky saat ini tengah berada di pabrik yang sudah berhasil dipadamkan apinya oleh pemadam kebakaran, kini memijat pelipis ketika dimarahi habis-habisan saat tidak melakukan kesalahan.
Ia mengingat akan istri dari pria di seberang telepon tersebut yang menyalahkan diri sendiri hanya karena masalah sepele, yaitu memakai pakaian kerja serba hitam hari ini seolah tengah berduka cita dan mewakili apa yang terjadi.
"Saya sudah mencari tahu penyebabnya dan salah satu pegawai baru melakukan kesalahan saat bekerja, sehingga terjadi konsleting listrik hingga menyebabkan ledakan dan berakhir dengan kobaran api yang melalap semuanya. Kita akan meminta asuransi membayar kita untuk menutup kerugian yang disebabkan. Jadi, perusahaan tidak mengalami kerugian sepenuhnya."
Vicky masih berusaha untuk menyadarkan bosnya agar tidak meluapkan amarah karena sama sekali tidak berguna dan tidak mengubah semuanya.
Agar bosnya tersebut mengambil hikmah dari apa yang terjadi hari ini mungkin menjadi teguran dari Tuhan atas perbuatan yang menyembunyikan sesuatu dari istri pertama.
Namun, tentu saja tidak mengatakannya secara gamblang karena sadar malah akan berakhir kehilangan kepala jika sampai mendapatkan kemurkaan dari bosnya tersebut.
Christian tidak bisa menahan kekesalan akibat memikirkan kesalahan dari pekerja yang sangat ceroboh karena tidak mengikuti aturan yang dijelaskan.
__ADS_1
"Aku tahu itu dan kau tidak perlu mengajariku atau menjelaskan mengenai asuransi. Ini soal kelalaian dari pekerja. Pecat pekerja yang melakukan kesalahan itu dan jangan diberikan gaji ataupun pesangon karena hanya gara-gara dia, perusahaan mengalami kerugian sangat besar."
Sementara itu, saat ini Vicky hanya menghembuskan napas kasar dan mengiyakan perkataan dari bosnya tersebut yang tidak bisa berpikir jernih saat dikuasai oleh amarah.
Ia akan membahas semuanya dengan istri dari bosnya tersebut mengenai apa yang harus dilakukan karena memang saat ini yang memimpin perusahaan adalah Ana Maria karena bosnya sibuk dengan istri baru dan pasti masih sangat lengket seperti perangko.
"Baik, Tuan Christian. Oh ya, Saya ingin mengatakan sesuatu mengenai nona Ana. Meskipun Anda saat ini sibuk merawat nona Laura, tapi paling tidak perhatian Anda pada nona Ana tetap sama agar tidak dicurigai. Karena tadi istri Anda mengeluh bahwa karena kesibukan membuat hubungan kurang komunikasi."
Akhirnya ia merasa sangat lega setelah mengungkapkan apa yang ingin dikatakan pada bosnya tersebut agar berubah dan tidak membuat sang istri semakin bertambah curiga.
"Lagipula feeling seorang istri sangat kuat dan ditakutkan jika sampai nona Ana mengetahui tentang keberadaan nona Laura, semuanya akan bertambah semakin kacau, Tuan." Vicky mengakhiri perkataannya dan siap menerima umpatan untuk kesekian kali.
Namun, hal yang ditakutkannya tidak terjadi karena pria di seberang telepon tidak marah-marah seperti beberapa saat lalu. Seolah sudah sadar dan tidak lagi murka padanya untuk meluapkan kekesalan.
Christian terlihat berbinar ketika membahas mengenai masalah momongan. Seolah ia ingin menyalurkan kebahagiaan yang dirasakan dengan berbagi bersama asisten pribadinya tersebut.
"Laura bersedia untuk tidak menunda memiliki momongan dan membuatku sangat bahagia, tapi ternyata semuanya dihancurkan dengan kejadian yang menimpa pabrik hari ini. Sepertinya cobaan tidak berhenti menimpa keluarga kami karena saat aku merasakan kebahagiaan, tidak sepenuhnya bahagia."
Christian terdiam beberapa saat ketika mengingat sosok wanita yang selama ini menghabiskan waktu bersamanya dan membuatnya merasa bersalah karena kurang memberikan perhatian dengan berkomunikasi.
Kini, ia berjanji akan bersikap seperti dulu agar Ana tidak curiga padanya karena jika sampai keberadaan Laura diketahui oleh istrinya tersebut, semuanya akan hancur dan tidak ingin itu terjadi.
__ADS_1
Vicky saat ini merasa senang karena akhirnya pria yang selalu dihormatinya tersebut menyadari kesalahan dan akan memperbaikinya.
Iya, Tuan. Anda harus bersikap seperti dulu pada nona Ana agar tidak merasa curiga. Tadi Saya sudah berbicara dengan tuan Laymar. Tadi beliau mengatakan akan berangkat satu minggu lagi setelah mengurus semua pekerjaan yang ada di Jakarta."
Sementara itu, Christian yang belum mendapatkan kabar apapun dari sang ayah karena sibuk dengan Laura, kini merasa senang saat secepatnya sang ayah pergi ke New York untuk mengurus perusahaan baru di sana.
"Syukurlah kalau begitu karena lebih cepat lebih baik agar tidak mengecewakan para investor serta rekan bisnis yang sudah percaya pada perusahaan. Baiklah, kalau begitu aku akan menelpon Ana."
Tanpa menunggu jawaban dari asistennya tersebut, Christian kini mematikan sambungan telpon dan mencari kontak sang istri. Bahkan ia berjalan menjauh agar tidak ketahuan oleh Laura.
Selama beberapa menit berlalu hingga sambungan telepon terputus, tidak mendapatkan jawaban dan membuat Christian mengerutkan kening.
"Tumben tidak diangkat. Ke mana istriku?" lirih Christian yang saat ini merasa penasaran dengan keberadaan istrinya yang tidak mengetahui panggilan darinya.
Kemudian ia mengetik pesan untuk bertanya.
Sayang, kamu ada di mana? Kenapa tidak mengangkat telepon! Tumben sekali tidak membawa ponsel. Biasa 24 jam selalu membawa ponsel.
Christian berniat untuk memencet tombol kirim, tapi yang terjadi adalah ponselnya berdering dan terlihat nomor sang istri yang menghubungi.
Refleks ia meriject panggilan karena tidak ingin sang istri yang menelponnya. Kemudian ia kembali menghubungi dan langsung diangkat oleh wanita di seberang telepon.
__ADS_1
To be continued...