365 Days With You

365 Days With You
Hasil operasi


__ADS_3

Sang polisi menganggap wajar kecurigaan dari pria yang diketahui mengenal korban, tapi tidak tahu mengenai alamat tempat tinggal serta pihak keluarga. Jadi, berpikir untuk menjelaskan tentang interogasi dari rekannya.


"Kami sudah mengamankan supir itu dan sudah menginterogasinya, Tuan. Memang dari pengakuannya adalah karena mengantuk dan tiba-tiba rem blong. Tapi kami masih akan terus menggali apakah ada percobaan pembunuhan yang dilakukan oleh pelaku."


Sementara itu, Christian saat ini tetap merasa yakin jika pria itu bisa saja ada kemungkinan suruhan orang yang ingin menyingkirkan Laura. Ia berpikir seperti itu karena tidak ditemukan tas milik Laura yang jelas-jelas tadi dilihatnya di bandara.


Jika para polisi tidak bisa mencari tahu tentang sesuatu yang menggangunya, ia berniat untuk mencari tahu sendiri. Tapi ia perlu menjaga Laura dan berpikir harus berhati-hati.


Karena jika sampai itu benar, nyawa Laura masih terancam dan ia berpikir untuk memindahkan Laura dari rumah sakit itu. Kini, ia menatap ke arah para polisi di hadapannya.


"Pak polisi, saya ingin meminta tolong. Karena saat ini Laura menjadi tanggungjawab saya, jadi akan menanggung semuanya. Bahkan saya akan melindunginya dan merawatnya sampai sembuh."


Masih dipenuhi oleh kekhawatiran, Christian benar-benar ingin berhati-hati dalam menjaga wanita yang bahkan masih belum jelas nasibnya. Apakah operasi berjalan lancar, atau apakah ada dampak dari operasi tersebut.


Raut wajah penuh kekhawatiran karena sangat takut kehilangan Laura jelas terlihat dari Christian saat ini, jadi ia mengungkapkan pemikirannya saat ini. Meskipun sebenarnya ia hari ini sangat lelah, tapi tidak menyurutkan keinginannya menunggu hingga proses operasi selesai.


"Tolong jangan sebarkan informasi mengenai nama Laura karena saya khawatir ada yang memanfaatkannya untuk niat jahat. Lebih baik menunggu hingga Laura sadar nanti," ujar Christian yang saat ini ingin mendapatkan dukungan dari para polisi.


Apalagi ia berjanji pada Laura jika bertemu lagi, akan menikahinya. Meskipun secara siri sekalipun, pasti akan memenuhi janjinya pada Laura.


Dua polisi itu saling bersitatap karena berpikir jika permohonan dari pria di hadapannya ada benarnya. Bahwa semuanya akan lebih mudah jika menunggu hingga korban sadar terlebih dahulu.


"Baiklah, Tuan. Tolong sebutkan nomor Anda agar kami bisa menghubungi nanti." Sang polisi berniat untuk menyimpan nomor dengan mengeluarkan ponsel. Namun, tidak jadi melakukannya begitu mendapatkan sebuah kartu nama.


"Ini kartu nama saya. Anda bisa menghubungi saya untuk hal-hal yang berhubungan dengan Laura. Tapi tolong jangan datang ke perusahaan saya karena itu akan menimbulkan dampak negatif serta hal buruk pada bisnis saya."

__ADS_1


Christian kini membuka jati dirinya yang merupakan seorang CEO di salah satu perusahaan besar di Jakarta. Berharap dengan menjelaskan hal penting itu, tidak ada salah satu dari mereka yang tiba-tiba datang dengan mengenakan seragam polisi.


Pasti akan menimbulkan berbagai macam pertanyaan dari para staf perusahaan. Namun, jujur saja bukan itu yang membuatnya merasa khawatir, tapi tidak ingin Ana mengetahui tentang hal ini.


Jika sampai sang istri yang selalu over protektif dan posesif itu tahu jika ia bersama dengan seorang wanita, pasti akan membuatnya seperti menggali lobang sendiri.


'Ana tidak boleh tahu tentang hal ini. Apalagi tentang Laura. Pasti akan langsung menguburku hidup-hidup,' gumam Christian yang saat ini berpikir harus menyembunyikan tentang Laura dari Ana.


Para polisi itu pun menganggukkan kepala sebagai tanda mengerti. Kemudian mereka pamit pergi dan akan kembali setelah mendapatkan berita selanjutnya dari korban.


Christian pun menganggukkan kepalanya dan kembali ke kursi tunggu. Hingga ia pun menyadari jika dua koper miliknya masih berada di sana.


"Aaah ... tidak mungkin aku membawa dua koper ini. Aku pun tidak mungkin menyuruh orang untuk membawanya pulang." Christian kini berpikir tentang apa yang harus dilakukan dengan koper-koper miliknya.


Beberapa saat kemudian, ia mendapatkan sebuah ide yang tiba-tiba terlintas di pikirannya. Kemudian ia meraih ponsel miliknya di saku celana.


"Lihatlah bekas perbuatanmu, Laura. Nasib baik tidak sampai mati dan masih bisa menyala." Christian kini mencari kontak asisten pribadinya yang bernama Vicky Syailendra.


Bahkan ia tidak menunggu lama untuk mendengar suara bariton dari seberang telpon.


"Halo, Tuan Christian. Anda sudah tiba di Jakarta?"


"Diamlah atau aku akan menghabisimu!" sarkas Christian yang berpikir jika ia akan ketahuan jika sampai suara asistennya didengar oleh sang istri "Ada di mana kau sekarang?"


Di tempat lain, Vicky memicingkan mata karena sikap bosnya yang tiba-tiba marah padanya tanpa ia tahu sebabnya. Hingga ia pun saat ini berpikir ada hal buruk terjadi pada bosnya tersebut.

__ADS_1


"Saya ada di ruangan, Bos," ucapnya yang kini tengah menjawab singkat karena tidak ingin dimarahi lagi. Hingga ia mendengar perkataan bosnya yang sangat serius.


"Dengarkan aku baik-baik dan jangan sampai ada yang tahu. Siapapun itu, tidak ada yang boleh tahu, termasuk istriku!" Christian berbicara dengan penuh penekanan agar asisten pribadinya bisa menjaga rahasianya.


"Siap, Tuan Christian. Saya mengerti sekarang." Merasa ada yang tidak beres, tapi ia pun tidak berniat untuk bertanya karena nanti akan mengetahuinya sendiri.


Christian pun kini mulai mengungkapkan rencananya agar permasalahannya sedikit berkurang dan merasa lega.


"Nanti sepulang kerja, datanglah ke rumah sakit dan bawa koper-koperku ke apartemenmu. Aku ingin kamu menjaganya di tempatmu karena sangat mempercayaimu."


Merasa lega jika ia sudah mendapatkan jalan keluar, Christian langsung mematikan sambungan telpon tanpa menunggu tanggapan dari asisten pribadinya.


Kemudian menatap ke arah layar ponselnya yang retak. "Jadi, seperti ini rasanya melakukan sesuatu secara diam-diam? Rasanya aku seperti seorang pencuri saja."


"Padahal aku berbuat kebaikan dengan menolong Laura, tapi tetap saja tidak mungkin akan mengatakan pada pada Ana. Jelas ia akan berpikir macam-macam padaku." Christian saat ini berpikir jika ia tidak mungkin bisa meninggalkan Laura yang bahkan sangat membutuhkannya.


Jadi, memutuskan untuk menjaga Laura sampai sembuh nanti dan melaksanakan niatnya dengan menikahinya.


"Laura, kamu lihat permainan takdir ini? Semuanya sesuai dengan feeling yang kurasakan. Bahwa di antara kita ada benang takdir yang tidak bisa diputuskan begitu saja."


Christian mengingat semua hal mengenai Laura agar ia tidak merasakan lama menunggu. Hingga ia pun merasakan perutnya yang keroncongan karena efek belum makan.


"Mana mungkin aku bisa makan sebelum mengetahui keadaan Laura. Bersabarlah para cacing-cacing perut yang tidak tahu diri!" sarkas Christian yang kebetulan melihat ruangan operasi terbuka dan salah satu pria berseragam operasi itu keluar.


Refleks ia langsung bangkit berdiri dari posisinya berhadapan langsung dengan dokter bedah itu untuk menanyakan hasil operasi.

__ADS_1


"Bagaimana operasinya, Dokter? "


To be continued...


__ADS_2