365 Days With You

365 Days With You
Menelpon


__ADS_3

Satu bulan telah berlalu semenjak meninggalnya Ana dan semua orang telah kembali beraktivitas seperti biasa. Perginya sosok wanita yang dikenal banyak orang itu seolah meninggalkan bekas mendalam di hati banyak orang yang merasakan kebaikan hati Ana Maria.


Khususnya adalah para staf perusahaan yang sering merasakan komisi dari atasannya tersebut, lebih sering mendoakan agar wanita baik seperti Ana bisa berada di surga.


Kini, terlihat langkah kaki panjang seorang CEO perusahaan memasuki lobi perusahaan. Pria yang tak lain adalah Christian sengaja datang awal pagi ini karena ingin menyelesaikan pekerjaan.


Semenjak keputusannya untuk menyetujui keinginan Laura merawat Valerio, ia memilih untuk menghabiskan waktu dengan sibuk bekerja tanpa kenal lelah dan sering lembur di perusahaan agar tidak merasakan kesepian ketika berada di rumah.


Apalagi selalu mengingat momen-momen bersama dengan anak istri di setiap sudut rumah dan membuatnya sangat kesepian.


Seperti hari ini, acara meeting akan dilakukan pukul 10.00 WIB, tapi sudah datang pukul setengah 8. Rencananya adalah ingin memeriksa progres yang akan dilaporkan pada para pemegang saham dan petinggi perusahaan.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, ia sudah tiba di ruangan dan seperti biasa langsung bergelut dengan pekerjaannya setelah membuka laptop. Namun, baru beberapa menit ia bekerja, kini mendengar notifikasi dari ponsel miliknya.


Namun, ia sama sekali tidak berniat untuk membuka pesan karena masih ingin fokus pada pekerjaan yang harus diselesaikan. Hingga ia sangat terganggu begitu nada dering ponsel terdengar memecahkan keheningan di ruangan kerja.


"Siapa yang menelpon pagi-pagi begini?" Ia pun kini meraih ponsel yang ada di saku jas dan melihat nomor sang ibu. "Mama? Apa lagi ini? Apa mama masih tidak menyerah untuk menyuruhku menikah lagi?" lirih Christian yang saat ini dengan sangat malas menggeser tombol hijau ke atas.


Ia sengaja tidak berbicara karena ingin mendengar apa yang diinginkan oleh sang ibu. Hingga ia seketika meremas tangan kiri begitu mendengar suara dari seberang telpon.


Ia memang mengetahui hubungan Laura dengan Mario, tapi tidak pernah menyangka jika mantan menantunya tersebut akan menikah secepat ini.


"Christian, apakah kamu yakin tidak ingin berjuang untuk merebut kembali hati Laura yang merupakan ibu dari putramu? Mumpung belum terlambat karena Laura masih belum menikah dengan Mario, jadi kamu bisa mengungkapkan perasaan padanya agar bisa kembali bersama." Ia benar-benar tidak rela melepaskan mantan menantu kesayangan.

__ADS_1


Jadi, langsung menghubungi putranya untuk memberitahu begitu ditelepon oleh Laura secara langsung. Hingga ia merasa sangat kesal atas jawaban dari putranya yang seperti tidak merasa keberatan jika Laura menikah dengan pria lain.


"Aku akan mendoakan pernikahannya berjalan lancar, Ma. Aku sangat sibuk dan harus bekerja." Kemudian Christian memencet tombol merah dan sambungan langsung terputus sebelum mendengar jawaban dari sang ibu yang diketahuinya pasti sangat marah.


"Maafkan aku tidak bisa menjadi seorang anak penurut untukmu, Ma." Christian kali ini menatap ke arah layar laptop dan memeriksa mengenai projek barunya untuk memikat para investor agar mau berinvestasi di perusahaannya.


Namun, ia tidak bisa berkonsentrasi begitu kembali mengingat perkataan dari sang ibu. "Kenapa semuanya jadi seperti ini? Aku kehilangan dua wanita yang sangat kucintai dan sekaligus putraku."


"Apakah kesendirianku adalah karma dari perbuatanku yang telah jahat pada Ana dan juga Laura? Jika benar, aku akan menerima semua hukuman ini, asalkan putraku benar-benar merasa bahagia merasakan kasih sayang ibu lagi." Christian kini kembali beralih menatap ke arah ponsel yang berada di atas meja.


"Aku harus berbicara dengan Laura. Apakah ia mencintai Mario atau hanya memanfaatkan momen ini untuk membuatku cemburu?" lirih Christian yang kini pencet tombol panggil pada nomor Laura dan menunggu sampai diangkat.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2