
Satu minggu lalu, proses operasi Ana dimulai. Beberapa jam kemudian telah selesai dan tiga orang yang tadinya menunggu di depan ruangan operasi, ingin mengetahui bagaimana keadaan Ana.
Penjelasan sang dokter aku sangat ambigu dan membuat mereka bertanya-tanya karena tidak menjelaskan tentang keadaan setelah operasi.
Hingga mereka bertiga salah pasrah dengan keadaan karena sudah berusaha melakukan semua yang terbaik untuk Ana agar sembuh.
Mereka akhirnya menuju ke arah ruangan, di mana Ana dipindahkan setelah dioperasi.
Menunggu sampai Ana sadar dan segera pulih adalah harapan mereka. Berharap wanita yang sudah terlihat memakai banyak peralatan di tubuhnya sebagai penopang kehidupan dengar suara mesin yang benar-benar membuat siapapun yang mendengarnya merinding.
Hingga beberapa jam telah berlalu dan keesokan harinya juga tetap sama. Sama sekali tidak ada perubahan. Bahkan jam berganti hari dan juga minggu.
__ADS_1
Hingga sekarang adalah tepat satu minggu ana masih belum sadarkan diri setelah menjalani operasi dan dianggap koma.
Bahkan penjelasan dari sang dokter pun juga sama, yaitu menunggu sampai pasien sadar. Hingga sempat tangan Ana bergerak dulu, tapi hanya satu kali dan itu pun tidak berlangsung lama, hingga membuat mereka benar-benar putus asa.
Hingga Raisa yang mempercepat jadwal dan mengharuskan Christian akan segera datang ke Singapura karena sama sekali tidak menjawab emailnya.
Sang pelayan sengaja menjelaskan semua hal tanpa terkecuali agar pria yang terlihat kacau dengan penampilan berantakan serta wajah sembab yang mewakili perasaan hancurnya ketika bertemu dengan sang istri yang diketahui telah pergi tersebut bisa mengerti tentang semuanya.
Miranti yang memang hanya mengikuti perintah dari sang majikan, kini hanya membungkuk hormat karena menyesali semua perbuatannya yang tidak bisa mengingatkan, tapi malah mendukung.
"Maaf, Tuan Christian karena semua berada di luar jangkauan saya. Nona Ana ingin anda hidup bahagia tanpa memikirkan keadaannya." Miranti yang belum selesai berbicara, seketika menoleh ke arah sosok pria yang berdiri di sebelah kanan.
__ADS_1
Melihat sikap arogan dari Christian, seketika membuat Paul muak. Ia tidak ingin terbawa emosi seperti beberapa saat yang lalu, sehingga memilih untuk pergi dari ruangan tersebut.
"Kalian selesaikan saja semuanya dan jangan mengulangi semua perbuatan jahatmu pada Ana," ucap Paul yang saat ini memilih untuk menunggu sang majikan karena masih bekerja di kantor
Christian yang mengingat semuanya, kini merasa bersalah dan benar-benar bimbang akan kesalahannya. Bahkan ia merasa sangat malu karena semua sudah diketahui oleh dua orang tersebut.
Ia mengembuskan napas kasar ketika menyadari bahwa pria yang terlihat sangat marah padanya itu karena mengetahui semuanya.
"Jadi, ini alasanmu terlihat sangat membenciku hingga dari tadi bersikap ketus?" Christian sebenarnya sadar tidak boleh mengungkapkan nada protes, tapi tetap saja berpikir bahwa pria yang tidak dikenalnya tersebut harusnya memberitahu terlebih dahulu.
"Kenapa? Apa kau tidak terima dan ingin memberikan pelajaran padaku karena tadi belum berhasil?" sarkas Paul yang tengah menahan diri untuk tidak membuat wajah di depannya kalau babak belur.
__ADS_1
To be continued...