365 Days With You

365 Days With You
Suara tangisan


__ADS_3

Vincent Roberto yang sebenarnya tadi memasang alat pelacak pada mobil Mario, akhirnya bisa mengetahui lokasi tempat tinggal dari wanita yang semenjak remaja ia jaga. Ia pun segera datang karena ingin berbicara secara langsung, tapi sama sekali tidak menyangka jika akan terganggu dengan kedatangan Mario.


Ia berpikir jika malam hari Laura sendiri di apartemen, jadi bisa membahas mengenai apa yang ingin disampaikan. Namun, ia berubah pikiran saat melihat Mario juga datang dan tidak ingin berlama-lama di sana.


"Saya sebenarnya datang ke sini hanya untuk mengatakan tidak akan mengatakan rahasia Anda pada tuan Rendi. Itu karena saya baru tahu jika ternyata tuan Rendi adalah orang yang tega menyingkirkan keluarga sendiri demi sebuah ambisi atas kekuasaan."


"Anggap ini adalah sebuah kemanusiaan dan jangan berpikir macam-macam pada saya." Kemudian ia membungkuk hormat dan berjalan menuju pintu keluar karena ingin segera pergi dari sana serta penasaran dengan siapa yang datang.


Sementara itu, Laura yang sama sekali tidak menyangka jika pengawalnya dulu itu berpihak padanya dan masih tetap bersikap datar padanya, kini mengejar karena belum menanggapi malah sudah ditinggal pergi.


Lagipula ia pun sekalian ingin mengecek siapa yang tadi memencet bel karena Mario tidak berbicara apapun padanya. Bahkan menutup pintu seolah tidak ingin ia tahu pembicaraan mereka.


"Vincent, ada yang ingin kukatakan juga padamu. Jadi, jangan pergi dulu!" Menahan kemeja berwarna hitam yang dikenakan oleh mantan pengawalnya dulu tersebut saat membuka pintu utama apartemennya.


Hingga ia pun kini bisa melihat seseorang yang tengah berdiri di hadapan Mario. Tentu saja ia tahu siapa pria yang langsung membungkuk hormat padanya dan menyapanya.

__ADS_1


"Kau?"


"Maafkan saya, Nona Laura karena datang tanpa memberitahu terlebih dahulu. Ada hal penting yang ingin saya sampaikan pada Anda," ucap Vicky yang baru saja mendapatkan kemurkaan dari Mario karena membuntutinya.


Ia yang tadinya berpikir bisa mengetuk nurani pria itu begitu mengatakan tentang keadaan Ana Maria yang membuat bosnya terpaksa berbuat kejam pada Laura, sama sekali tidak membuahkan hasil.


Jadi, sengaja menunggu Mario di parkiran dan berpikir jika pria itu akan datang ke apartemen Laura. Jadi, membuntutinya begitu melihat Mario keluar dari apartemen.


Hingga ia pun bisa melihat sosok wanita yang sudah setahun lebih menghilang tersebut benar-benar telah berubah menjadi makin cantik dan memesona dengan rambut keemasan panjang tergerai di bawah bahu.


'Nona Laura makin cantik dan benar-benar seperti seorang bule. Pasti tuan Christian sangat menyesal karena meninggalkan nona Laura dan apa reaksinya saat aku mengetahui tempat tinggalnya? Lalu, siapa pria itu?' gumam Vicky yang saat ini hanya bisa menunggu jawaban atas pertanyaannya.


"Sudah kubilang pergi dari sini! Apa kau ingin aku memanggil security untuk menyeretmu dari sini?" sarkas Mario yang merasa sangat kesal sekaligus ceroboh kala membuka rahasia mengenai tempat tinggal Laura.


Laura yang tidak ingin ada kekacauan di depan apartemennya, kini menghentikan aksi Mario yang terlihat sangat emosi tersebut. "Mario, hentikan! Lebih baik kalian semua masuk ke dalam dan tidak mempermalukanku dengan dianggap sebagai biang onar."

__ADS_1


Kemudian ia berbalik badan dan berjalan menuju ke dalam apartemen. Berharap tiga pria yang datang hampir bersamaan itu mengekornya. Namun, ia seketika berlarian ke dalam kala mendengar suara tangisan dari putranya yang baru bangun tidur.


"Valerio," teriak Laura begitu mengkhawatirkan keadaan putranya yang terbangun.


Hingga tiga pria yang masih berdiri di depan pintu, kini saling bersitatap dan akhirnya sama-sama masuk karena ikut mengkhawatirkan keadaan dari balita laki-laki yang menangis itu.


"Kenapa ada suara anak kecil di apartemen nona Laura?" tanya Vincent yang saat ini langsung menatap ke arah Mario karena berpikir hanya pria itulah yang tahu alasannya.


Namun, belum mendapatkan sebuah jawaban, suara tangisan dari dalam makin kencang dan membuatnya langsung masuk ke dalam ruangan yang menghasilkan sumber suara.


Sebuah hal yang dari dulu biasa ia lakukan untuk memastikan tidak ada sesuatu yang buruk terjadi pada majikannya dan seolah tidak bisa dihilangkan saat ini.


"Hei, berhenti!" Mario seketika berjalan cepat untuk menghentikannya agar tidak masuk ke dalam kamar Laura, tapi terlambat.


Sementara itu, Vicky pun ikut melakukan hal yang sama karena ia khawatir terjadi sesuatu hal yang buruk pada Valerio.

__ADS_1


'Tuan Valerio pasti akan mencari nona Ana yang dikira ibu kandungnya karena selalu merawatnya dari bayi,' gumam Vicky yang kini merasa sangat khawatir jika Laura akan kalang kabut menenangkan Valerio seperti sang nenek yang sudah menyerah.


To be continued....


__ADS_2