365 Days With You

365 Days With You
Anak tidak tahu diuntung


__ADS_3

Rendi Syaputra dan sudah berpamitan pada Christian dan keluarganya dengan alasan harus kembali ke kantor untuk bekerja dan tidak bisa berlama-lama di sana.


Mereka yang sudah berada di dalam mobil yang dikemudikan oleh Andika Syaputra dan melaju menuju ke perusahaan anak cabang karena ia akan mengantarkan sang ayah ke sana, sedangkan diri sendiri akan kembali ke perusahaan pusat.


"Apa Papa tidak merasa jika hari ini sikap dan perkataan dari pria arogan itu sangat aneh? Apa itu karena dia sedang sensitif setelah ditinggal mati istrinya?" tanya Andika pada sang ayah karena ingin mengetahui pendapat sama atau tidak dengan dirinya.


Sementara itu, Rendi Syaputra yang memang merasakan hal serupa ketika tadi menatap Christian seperti tidak menyukainya. Ia merasa tatapan berbeda hari ini dan membuatnya aneh, tapi tidak mau mengambil pusing karena ada banyak hal yang perlu dipikirkan.


"Mungkin benar apa yang kau katakan itu bahwa dia berbicara seperti itu karena sedang ingin meluapkan perasaannya yang dilanda kesedihan setelah ditinggal mati istrinya," seru Rendi Syaputra yang saat ini melihat bursa saham yang ingin ia beli.


Ia yang sangat fokus pada tablet di tangannya, seolah tidak ingin mengambil pusing dengan hidup orang lain. Apalagi saat ini baginya yang terpenting hanyalah uang dan uang agar bisa semakin memperkaya diri.


"Kau lebih baik memikirkan masalah yang lebih berguna daripada tentang Christian yang ditinggal mati istrinya." Kemudian Rendi menunjukkan apa yang saat ini dilihatnya agar putranya tertarik dan tidak ketagihan dengan berjudi.


Meskipun jadi sekarang jauh lebih mudah karena semua serba online dan putranya menghabiskan banyak uang hanya dengan sekali bermain ponsel.


"Kau harus mengubah kebiasaan burukmu itu yang suka menghamburkan uang di meja judi. Lebih baik diinvestasikan dengan cara membeli saham seperti ini. Kau harus belajar terlebih dahulu agar pintar memilih saham yang menguntungkan di masa depan." Rendi Syaputra memiliki hobi untuk membeli saham karena dulu diajari oleh sang kakak agar bisa menghasilkan pundi-pundi keuntungan yang fantastis.


Awalnya ia hanya berinvestasi kecil-kecilan dengan membeli beberapa saham-saham yang diketahuinya memiliki peluang untuk naik harganya. Namun, melihat sang kakak berkembang sangat pesat dan akhirnya memiliki banyak uang serta berhasil mendirikan bisnis sendiri, membuatnya merasa iri dan ingin menguasai semuanya.


Hingga akhirnya memilih untuk menguasai dengan cara yang tidak biasa karena satu-satunya harapannya adalah ingin menjadi orang sukses dan dihormati oleh banyak orang.


Meski mengetahui jika sampai saat ini ia tidak pernah merasa puas dengan apa yang dimiliki, hingga membuatnya tidak pernah duduk diam di rumah karena selalu ingin menambah pundi-pundi kekayaannya.

__ADS_1


Hingga begitu mendengar jawaban dari putranya, membuatnya merasa kesal dan meninju lengan kekar di balik jas hitam tersebut.


Andika yang selama ini sudah sangat kebal dengan omelan dari sang ayah yang jauh melebihi dari ibunya. "Papa ... Papa, uang tidak dibawa mati. Papa tahu istri Christian yang sangat hebat karena merupakan wanita karir dan punya banyak uang serta suami yang merupakan CEO dari perusahaan kosmetik terbesar di Jakarta."


Ia mengusap lengannya karena merasa nyeri saat sang ayah memukul dengan cukup kuat. "Lalu, apa yang istri Christian itu bawa saat mati dan dikubur di dalam tanah?"


"Hanya satu, yaitu kain kafan. Jadi, jangan terlalu mengejar uang dan tidak pernah menikmatinya, Pa. Nanti Papa menyesal karena belum pernah menikmatinya, tetapi menjadi milikku karena aku adalah satu-satunya pewarismu."


"Dasar anak tidak tahu di untung! Bukannya berterima kasih telah dibesarkan dengan sangat baik dan memiliki segalanya, tapi sekarang malah mendoakan Papa mati cepat agar warisan segera kau kuasai?" sarkas Rendi Syaputra yang saat ini mengarahkan tatapan tajam pada putranya.


Ia yang berniat untuk menyadarkan agar putranya tidak terus-menerus merugikan perusahaan karena lama-lama bisa pulang kerut dan kehilangan semua aset yang dimiliki, sama sekali tidak menyangka jika malah akan dikaitkan dengan kematian.


"Papa selama ini berjuang sangat keras demi siapa? Semua itu agar kau selalu hidup dengan bergelimang harta dan tidak kesusahan. Harusnya kau sadar dan membuat Papa bangga padamu! Bukannya malah memberi nasihat orang tua yang sangat konyol. Apa kau mau Papa pukul dengan ini?" sarkas Rendi yang saat ini mengangkat pabrik di tangannya yang seolah-olah diarahkan pada kepala putranya.


Namun, seolah mengetahui jika itu hanyalah sebuah candaan semata, sehingga melihat putranya sangat santai dan sama sekali tidak takut.


Merasa perkataan dari putranya sangat konyol, Rendi benar-benar tidak bisa menahan untuk tidak tertawa di saat sedang kesal, sehingga melampiaskannya dengan meninju ke Bali lengan kekar itu.


"Mungkin Papa harus mengoperasi kepalamu agar bisa berpikir lebih baik dan selalu menatap ke depan untuk maju dan pantang mundur mengejar sesuatu dalam pencapaian." Saat ia menaruh kembali tablet ke dalam tas kerjanya, menghembuskan napas kasar ketika tiba-tiba dadanya terasa sesak.


Ia bahkan saat ini mencoba mengambil napas teratur dan dikeluarkan dan berharap kembali normal. 'Sebenarnya apa yang terjadi padaku akhir-akhir ini? Kenapa dadaku sering sekali terasa sesak dan kesulitan untuk bernapas?'


Saat ia tengah memikirkan tentang apa yang saat ini dirasakan, mengingat tentang perkataan dari putranya yang sebenarnya diketahui hanya bercanda. Sampai pada akhirnya ia seperti tertampar dengan itu karena memang saat mati, sama sekali tidak membawa apapun selain kain kafan.

__ADS_1


Hingga ia saat ini berpikir apakah kematiannya sudah dekat dan akan meninggalkan segala kemewahan serta usahanya yang membuahkan hasil? Ia yang ingin mengetahui rencana dari putranya, saat ini menoleh ke kanan.


"Jika Papa mati, apa kau akan melanjutkan judimu sampai semua aset yang dimiliki habis?" Rendi Syaputra saat ini tengah memikirkan bagaimana nasib putranya jika tidak ada yang menasehati lagi karena selama ini selalu dimanja oleh sang istri dan tidak pernah dimarahi.


Saat fokus mengemudi dan menatap ke arah depan, Andika mengerutkan kening karena merasa jika perkataan dari sang ayah sangat tidak ia sukai. Ia tadi memang mengatakan itu karena berpikir sang ayah tidak terus-menerus menyuruhnya memikirkan untuk menambah pundi-pundi kekayaan.


Bukan berarti menginginkan sang ayah cepat meninggalkan dunia dan ia benar-benar bisa menguasai seluruh harta warisan. Jadi, saat ini merasa sangat kesal ketika mendapatkan pertanyaan seperti itu dari sang ayah.


"Apa tidak ada pertanyaan lain, Pa? Aku bahkan sangat malas untuk menjawabnya." Saat ia baru saja membelokkan kendaraan ke area perusahaan sang ayah, berpikir pembahasan itu sudah berhenti sampai di situ.


Namun, perkataan dari sang ayah membuatnya membulatkan mata karena tidak pernah terpikirkan di kepalanya.


"Sepertinya kau memang tidak punya tujuan hidup karena tidak tahu apa yang akan dilakukan di masa depan saat Papa tiada. Lebih baik Papa menjodohkan dengan salah satu putri rekan bisnis agar mempunyai tujuan dan bisa bersikap lebih dewasa, tidak terus-menerus kekanak-kanakan seperti ini."


Entah dari mana itu yang didapatkannya, tapi tiba-tiba terlintas di pikiran dan membuatnya langsung mengungkapkan pada putranya. Ia bahkan saat ini merasa yakin jika putranya sudah menikah dan mempunyai keluarga, akan berubah lebih baik dan bertanggung jawab.


Bahkan seperti yang dikatakan oleh Vincent tadi, jika ia mati, sudah merasakan menimang cucu ataupun melihat putranya menikah.


"Apa Papa sedang mengigau? Mimpi apa Papa sampai berpikir sekonyol itu? Aku sama sekali tidak tertarik dengan perjodohan. Jadi, jangan memaksaku untuk menikah dengan wanita yang Bahkan tidak aku kenal atau tahu seperti apa sifatnya," sarkas Andika yang saat ini turun dari mobil dan berjalan memutar.


Ia ingin segera kembali ke perusahaan dan tidak ingin membahas tentang perjodohan yang dianggap sangatlah konyol karena di zaman sekarang bisa mendapatkan wanita manapun.


"Cepat keluar, Pa. Aku harus segera kembali ke kantor lupakan acara perjodohan konyol itu!"

__ADS_1


"Dasar anak tidak tahu diuntung!" seru Rendi Syaputra yang kembali meninju lengan kekar putranya.


To be continued...


__ADS_2