
Christian dan putranya sudah berjalan dengan bergandengan tangan. Ayah dan anak itu berjalan dengan kaki telanjang menyusuri bibir pantai. Mereka terlihat sesekali bercanda tawa dan terkadang saling memeluk dengan memanjakan mata, melihat pemandangan pantai dengan air kebiruan tersebut.
Christian tadi berbicara dengan kepala pelayan mengenai keputusan apa yang sebaiknya diambil dan malah mendapatkan jawaban untuk mengikuti kata hati. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke Singapura dengan menerima tawaran itu.
Selain ingin mengobati hatinya yang tidak baik-baik saja saat ini karena ditinggalkan oleh dua wanita yang ia cintai, juga memang sudah waktunya mengembalikan putranya karena janjinya hanya satu minggu membawa putranya bersamanya.
"Baiklah. Aku akan mengembalikan putraku pada ibunya dan tidak akan mengganggu kebahagiaan Laura lagi. Aku akan menyibukkan diri dengan bekerja tanpa kenal lelah agar bisa menghilangkan rasa yang menyiksa ini."
Christian yang kini masih menemani putranya bermain, kini melihat melihat pasangan yang sedang berciuman saat berendam di laut. Hal itu tentu saja membuatnya mengingat masa lalu.
Ia dulu pernah melakukan hal serupa dengan Ana dan posisinya sama persis. "Ana, semua yang ada di sini mengingatkan tentang kisah perjalanan cinta kita," ucap Christian yang kini masih tidak mengalihkan perhatian dari pasangan tersebut.
"Aku merindukanmu, Ana." Ia kini mengingat jika dulu menahan tangan Ana yang berada di perutnya dan melakukan adegan romantis seperti di film-film."
Adegan berciuman di pantai sering dilihat Ana di film-film, sehingga ingin melakukan seperti yang ditonton.
Apalagi ia dulu adalah sosok pria yang yang sangat nakal karena suka menggoda sang istri. Bahkan selalu tersenyum menyeringai pada Ana ketika menggoda dengan kalimat vulgarnya.
__ADS_1
"Dulu, yang ada di otakku ini hanyalah bercinta," ucapnya sambil menepuk jidat dan malah meringis menahan rasa nyeri saat merasakan nyeri.
Refleks ia terkekeh seperti orang gila sat merasakan ekspresi wajah kesakitan. "Kamu ingat tentang adegan berciuman saat berada di laut seperti itu kan Ana? Dulu kamu ingin mencobanya," ucap Christian yang kini merasakan sesak di dada.
Kalimat bernada vulgar yang selalu ditanggapi oleh Ana dengan malu-malu. Itu karena sebuah tawaran. Bukan perbuatan refleks, mungkin tidak akan malu.
"Kamu dulu seperti remaja yang pertama kali jatuh cinta. Bahkan kita sudah berkali-kali berciuman. Memangnya ada sensasi beda ketika berciuman di pantai."
"Lihatlah, Ana, melihat mereka, aku jadi iri dan ingin mencobanya bersamamu."
Ia menolehkan kepalanya untuk melihat ke arah pasangan itu.
"Melihat mereka malah membuatku terluka sendiri. Rasanya sangat gila melihat pemandangan vulgar secara langsung ketika Ana telah meninggal. Mungkin orang berpikir aku tidak pernah melihat pasangan yang sedang berciuman."
Ia kembali mengingat tangan Ana yang selalu mencubit pahanya dan seolah mengejeknya. Ia mengetahui jika Ana adalah anak yang penurut pada orang tua dan pernah bercerita.
Bahwa papanya selalu mengurung di rumah. Bahkan selalu menganggap Ana masih anak kecil. Padahal sudah dewasa dan berhak untuk bersenang-senang dengan teman-teman.
__ADS_1
Hingga ia bertanya apakah Ana pernah berpikir untuk memberontak atas sikap over protective sang ayah. Ia dulu merasa tertarik dengan apa yang dulu dipikirkan oleh Ana.
Saat kuliah dulu, banyak pasangan bermesraan di mana-mana. Karena mungkin bagi mereka merupakan sebuah hal yang sangat biasa berciuman.
Seolah tidak ada yang memperdulikan perbuatan itu. Padahal Ana dulu benar-benar merasa sangat penasaran bagaimana rasanya berciuman dengan kekasih.
Sikap jujur Ana dengan menampilkan wajah polos, benar-benar membuat Christian makin jatuh cinta padanya.
Dulu ia mencubit gemas kedua sisi pipi putih Ana saat menceritakan itu karena sangat jujur.
"Aku adalah pria pertama untuk Ana dan Laura yang sama sekali belum pernah berciuman.
Lamunan Christian seketika buyar begitu mendengar suara bariton dari pria yang baru saja datang.
"Tuan, cuaca mulai gelap," ucap sang supir yang kini menghampiri sang majikan karena dari tadi terlihat melamun dan berbicara sendiri, sehingga sangat khawatir.
Christian yang kini melihat pria dengan punggung lebar di hadapannya, memijat pelipis karena merasa bahwa ia dari tadi sibuk memikirkan masa lalu.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan memandikan putraku dulu," ucapnya yang kini sudah berjalan menuju ke arah kamar mandi umum untuk membersihkan putranya yang main air.
To be continued...