365 Days With You

365 Days With You
Tidak pernah terpikirkan


__ADS_3

Satu bulan kemudian...


Sosok wanita yang berada di atas ranjang di ruangan kamar, terlihat mengeluarkan banyak peluh yang membanjiri wajahnya. Bahkan beberapa kali mengigau hingga kepala bergerak ke kiri dan ke kanan. Hingga ia berteriak hingga membuatnya langsung terbangun dari tidurnya yang baru saja mengalami mimpi buruk.


"Tidaaak!"


Wanita yang tidak lain adalah Laura kini seketika mengedarkan pandangan ke sekeliling dan menyadari jika baru saja mimpi buruk.


Tentu saja semenjak bayinya dibawa pergi oleh Christian, ia sering mimpi kejadian saat pria yang pernah sangat dicintainya itu pergi membawa bayinya yang baru saja dilahirkan.


"Sampai kapan aku hidup menderita seperti ini ya Allah. Aku sangat merindukanmu, putraku. Apakah kamu baik-baik saja?" lirih Laura dengan suara serak karena menahan tangis dan saat bulir air mata meluncur bebas membasahi pipinya, ia melihat pintu terbuka dan menampilkan sosok pria yang tak lain adalah Mario.


Memang selama ini ia dilarang mengunci pintu saat tidur karena pernah ketika awal-awal tinggal di rumah Mario, membuat panik semua orang saat mengingau dengan berteriak-teriak. Berpikir jika ia disakiti oleh perampok yang menyusup.

__ADS_1


"Laura, kamu mimpi buruk lagi?" Mario yang tadinya turun ke bawah karena air minumnya habis dan tengah malam haus, saat berjalan kembali ke kamar, melewati kamar Laura dan mendengar suara teriakan.


Refleks ia langsung bergegas memeriksa Laura di kamar dan kini mendaratkan tubuhnya di hadapan wanita yang sudah bersimbah air mata dan membuatnya merasa tidak tega.


Ia pun langsung memeluk erat tubuh lemah Laura dan mengusap punggung wanita dengan rambut panjang di bawah bahu tersebut.


"Tidak apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja, Laura. Jika ingin meluapkan perasaanmu dengan menangis, lakukan itu agar lebih baik." Mario yang merasa perasaannya makin besar untuk Laura, tidak ingin melihat wanita yang dicintai makin terluka dan berusaha untuk menghibur.


Sementara itu, Laura yang hanya membiarkan apapun yang dilakukan Mario, kini hanya memejamkan mata kala mengingat putranya yang sangat dirindukan.


Sebenarnya tadi sang ayah berbicara padanya dan sudah menemukan bukti-bukti tentang kejahatan paman Laura yang benar-benar adalah dalang dibalik kecelakaan orang tua wanita itu.


'Padahal kami akan mengatakan bukti kejahatan pamannya besok pagi saat sarapan dan berpikir pasti akan merasa sangat senang mendengar kabar baik ini, tapi melihat Laura menangis seperti ini, aku tidak tega,' gumam Mario yang merasa iba pada wanita yang telah dikhianati oleh banyak orang yang dipercaya.

__ADS_1


Ia bingung harus mengatakannya, itu berarti akan menambah beban pikiran Laura. Namun, waktu satu bulan sudah bisa ditepati oleh sang ayah, sehingga tidak mungkin menundanya.


"Aku pasti akan membantumu, Laura." Mario kini melepaskan pelukannya dan menarik diri dan menatap ke arah sosok wanita dengan wajah sembab itu.


Dengan ragu-ragu ia pun kini terpaksa mengatakan apa yang sudah sejak lama dipikirkan. "Ada satu hal yang jauh lebih buruk dari pengkhianatan Cristian, Laura. Apa kamu siap mendengarnya?"


Laura kini refleks menghapus bulir air mata yang membasahi wajahnya dan menatap serius ke arah Mario. "Apa hal buruk yang lebih dari perbuatan bajingan itu? Aku akan siap dan tidak ingin terus menjadi seorang wanita lemah tidak berguna."


Mario tahu jika semangat Laura hanyalah sebuah pelampiasan semata karena rasa penasaran. Ia berdehem sejenak dan beberapa saat kemudian mengungkapkan hal yang diketahuinya.


"Pamanmu adalah dalang dibalik kecelakaan orang tuamu dan kamu, Laura?" Akhirnya Mario dengan terpaksa mengungkapkan rahasia besar dari keserakahan ulah sanak saudara yang harusnya menjadi nyawa kedua.


Ia bahkan sudah bisa menebak bagaimana terkejutnya Laura begitu mengetahui kejahatan paman sendiri.

__ADS_1


"Apa? Pamanku yang membubuh orang tuaku dan berniat menyingkirkanku? Tidak! Kamu berbohong kan, Mario. Ini benar-benar tidak mungkin," seru Laura yang kini seketika tertawa terbahak-bahak menanggapi hal yang sama sekali tidak pernah terpikirkan olehnya.


To be continued...


__ADS_2