365 Days With You

365 Days With You
Serasa ingin mengundurkan diri


__ADS_3

'Mati aku! Benar, kan apa yang kupikirkan tadi. Nona Ana benar-benar bertanya tentang tuan Valerio,' gumam Vicky yang saat ini berpura-pura bersikap setenang mungkin dan menaruh kembali botol air mineral di atas laci.


Kemudian ia beralih menatap ke arah sosok wanita yang kini terlihat gelisah dan seperti mencari-cari seseorang.


"Putra Anda saat ini tengah berada di rumah mertua, Nona Ana. Tuan Christian mengantarnya langsung, makanya saya berada di sini karena tuan Valerio menangis dan tidak mau bersama saya." Vicky masih berusaha untuk membuat wanita dengan wajah pucat itu percaya pada ucapannya.


Hingga ia pun kini menelan salivanya begitu melihat reaksi dari wanita di hadapannya.


Entah mengapa saat ini Ana tidak bisa tenang dan sangat mengkhawatirkan keadaan putranya. Ia yang takut terjadi sesuatu hal yang buruk pada putranya, kini ingin melihat secara langsung.


"Berikan ponselmu! Aku ingin menelpon suamiku agar menunjukkan putraku." Ana kini mengulurkan tangan kanan pada Vicky "Aku tidak bisa tenang sebelum bisa melihat wajah putraku."

__ADS_1


Vicky kini berkali-kali menelan saliva dengan kasar dan kebingungan harus berbuat apa. Hingga detak jantung saat ini melebihi batas normal kala kebingungan harus beralasan apa.


'Sial! Kenapa tidak tuan Christian yang mendapatkan semua ini? Kenapa harus aku yang tidak tahu apa-apa malah terkena imbasnya. Aku benar-benar sangat sial hari ini karena mendapatkan kecurigaan dari nona Ana,' umpat Vicky yang saat ini tidak bisa berpikir untuk mencari sebuah alasan.


Namun, saat ia tengah berpura-pura mencari ponselnya, tiba-tiba mendapat sebuah ide di kepala dengan berakting menepuk jidatnya. "Oh ya, saya lupa jika tadi baterai lowbat dan baru saja mati, Nona Ana. Tunggu saja sebentar lagi karena pasti tuan Christian akan segera tiba di sini."


Ana merasa sangat kecewa karena tidak bisa menghubungi sang suami. Hingga ia pun kini mengingat sesuatu. "Lalu, di mana tasku? Bukankah tadi aku membawa tas dan ada ponselku di dalamnya?"


Tentu saja Vicky tidak berpikir ke sana dan seketika beralasan lagi untuk berbohong. "Tadi tuan Christian membawa tas Anda dan ponselnya dibuat mainan tuan Valerio saat di mobil."


'Kapan tuan Christian datang? Aku benar-benar sangat muak harus beralasan terus menerus untuk menipu nona Ana. Yang ada, dosaku nambah. Padahal sama sekali tidak berbuat salah, tapi hanya menolong tuan Christian agar tidak ketahuan sekaligus menjaga perasaan nona Ana.'

__ADS_1


Saat ini, Vicky masih berdiri di sebelah wanita yang terlihat sangat kecewa dan diam itu, sehingga merasa makin bersalah. Namun, saat ini tidak berani untuk membuka suara agar tidak ditanya macam-macam lagi.


Ana yang saat ini tidak puas sebelum melihat putranya bersama sang suami, kini mendapat sebuah ide. "Tolong panggilkan perawat ke sini. Aku ingin meminjam sebentar ponselnya. Atau kamu saja yang meminjamkan. Sebelum aku melihat secara langsung putraku, tidak bisa tenang."


Akhirnya Vicky terpaksa menganguk perlahan meski perasaan kesal bercampur gugup dirasakan. Bahkan ia kini sibuk mengumpat di dalam hati ketika melangkah keluar dari ruangan VIP di Rumah Sakit itu.


'Rasanya sekarang aku ingin berteriak untuk meluapkan emosiku saat ini. Ini bukan pertama kalinya aku melihat sikap nona Ana yang sangat menyebalkan, tapi baru kali ini sangat parah dan serasa membuatku ingin segera pergi meninggalkannya.'


Setelah ia berjalan agak menjauh dari ruangan istri bosnya tersebut, segera mengambil ponsel di saku celananya dan membuatnya langsung memencet tombol panggil pada kontak bosnya.


"Halo, Tuan Christian. Anda sekarang di mana? Tolong saya karena saat ini nona Ana ingin melihat tuan Valerio," ucapnya dengan nada penuh kekhawatiran.

__ADS_1


Ia benar-benar ingin menyerah serasa ingin mengundurkan diri saja dari pekerjaan, tapi mungkin akan dianggap tidak tahu diri karena sudah ditolong oleh pria itu, tapi tidak mau membantu.


To be continued...


__ADS_2