365 Days With You

365 Days With You
Mengambil hati


__ADS_3

Ana bangun dari tidurnya dengan mengerjapkan mata beberapa kali untuk menormalkan cahaya yang masuk ke pandangannya. Ia yang merasa aneh ketika ruangan perawatan yang ditempati sangat hening dan begitu mengedarkan pandangan ke sekeliling, sama sekali tidak menemukan sosok sang suami yang tadi dilihatnya duduk di hadapan.


"Ke mana suamiku?" tanya Ana yang saat ini masih terdiam dan menunggu sampai pria yang tidak ada di dalam ruangan tersebut kembali.


Ia berpikir jika pria yang sangat dicintainya tersebut pergi ke kantin untuk membeli kopi agar tidak bosan saat menunggunya tidur. Namun, detik demi menit berlalu dan cukup lama ia menunggu, tapi tidak kunjung melihatnya.


Akhirnya ia memilih untuk mengambil ponsel yang tadi ditaruh di atas laci dengan mengulurkan tangan kirinya dan begitu benda pipih tersebut berada di dalam genggamannya, langsung menghubungi sang suami yang saat ini tidak kunjung kembali juga.


Begitu panggilan telepon darinya diangkat, langsung memberondong dengan banyak pertanyaan, tapi tidak kunjung mendengar jawaban dari seberang telepon dan membuatnya merasa sangat aneh.


"Sayang? Kenapa diam saja? Apa terjadi sesuatu padamu? Katakan padaku!" seru Ana dengan raut wajah penuh kekhawatiran karena berpikir macam-macam pada sang suami yang masih dia meskipun sudah mengangkat telepon darinya.


Namun, ia saat ini mengerutkan kening karena merasa suara dari sang suami terdengar sangat aneh.


"Halo ... halo! Sayang, kenapa tidak ada suara?" ujar Christian dari seberang telepon yang berakting untuk menipu sang istri agar tidak banyak bertanya padanya karena jujur saja bingung harus bagaimana menjawab.


Ia bahkan berharap jika beberapa saat lagi asisten pribadinya tersebut sudah tiba di ruangan sang istri agar membantunya untuk beralasan. Apalagi selama proses operasi berjalan, akan menunggu sampai Laura keluar. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan Laura yang mendapatkan luka tusukan, jadi tidak bisa pergi dari sana.


Berpikir jika nanti ia juga melakukan hal yang sama saat Ana dioperasi dan akan menunggu di depan ruangan. Ia berusaha ingin bersikap adil meskipun saat ini status Laura bukan lagi menjadi istrinya.


Kemudian langsung mematikan sambungan telepon karena tidak ingin berbicara dengan Ana. "Maafkan aku karena kembali menipumu, Ana. Aku akan melakukan hal yang sama jika posisimu seperti Laura. Aku tidak ingin pilih kasih pada kalian dan akan berusaha bersikap adil."

__ADS_1


Christian sebenarnya ingin tertawa mendengar perkataannya yang konyol karena Laura sudah bukan lagi siapa-siapa baginya. Apalagi wanita itu sangat membencinya dan tidak ingin bertemu dengannya lagi, tapi malah ia berbicara ingin bersikap adil seolah masih menjadi seorang suami.


"Mungkin aku adalah pria paling bodoh di dunia ini karena berbicara hal konyol seperti ini," ucap Christian yang merutuki kebodohannya karena terlalu percaya diri jika nanti Laura tersadar akan merasa terharu dengan pengorbanannya.


Namun, menyadari bahwa itu semua hanyalah sebuah angan semata karena tidak mungkin apa yang dipikirkannya menjadi kenyataan. "Laura tidak akan pernah mau memaafkan kesalahanku yang telah berbuat jahat padanya. Tak segampang itu ia melupakan perbuatanku di masa lalu."


Saat Christian masih menatap ke arah ponsel miliknya, ia merapal doa agar sang istri tidak lagi menelpon untuk bertanya. Sampai pada akhirnya ia pun mendapat pesan dari sang istri dan langsung dibacanya.


Sayang, kenapa kamu tidak bilang jika saat ini pergi menemui klien dari luar negeri yang mendadak melakukan kunjungan ke perusahaan dan ingin bertemu denganmu secara langsung?


Christian yang saat ini merasa sangat lega karena berpikir bahwa apa yang baru saja ditanyakan oleh sang istri merupakan hasil dari ide cemerlang asisten pribadinya yang baru saja menyelamatkannya dari kecurigaan.


"Vicky, kau selalu menjadi Dewa penolongku. Bahkan aku sama sekali tidak terpikirkan tentang masalah ini untuk mencari alasan apa yang tepat disampaikan pada Ana. Namun, dengan mudahnya kamu mendapatkan ide cemerlang yang berhasil menghilangkan kecurigaan Ana."


Sementara itu, di ruangan Ana, sosok pria yang tak lain adalah Vicky, beberapa saat lalu melihat istri dari bosnya berbicara di telepon dan membuatnya langsung mendapatkan sebuah ide.


Ia yang berjalan mendekat dan mengungkapkan kebohongan agar wanita dengan raut wajah pucat tersebut tidak merasa khawatir ataupun kesepian saat ditinggal sementara oleh sang suami.


"Maaf karena saya yang selalu menggantikan tuan Christian untuk menemani anda, Nona Ana. Jika investor asing tersebut tidak meminta bertemu langsung dengan tuan Christian, mana mungkin berani menemani Anda di ruangan." Vicky menampilkan wajah murung karena ikut merasa sedih atas apa yang menimpa wanita di hadapannya tersebut.


Ana yang baru saja mengerti apa yang terjadi, kini menatap ke arah pria yang masih berdiri di sebelah kirinya. "Justru aku harus berterima kasih padamu, Vicky karena selalu ada untukku dan juga suamiku saat dibutuhkan."

__ADS_1


Ia yang sudah tidak punya siapa-siapa di dunia ini setelah orang tuanya meninggal, sudah menganggap Vicky seperti saudara sendiri. "Jika tidak ada kamu di samping suamiku, mungkin aku akan selalu sendirian ketika bosmu itu ada pekerjaan mendadak."


Kemudian Ana memberikan kode agar pria yang terus berdiri tersebut segera mendaratkan tubuhnya di kursi yang tersedia. "Jangan terus berdiri karena kakimu nanti akan patah karena kecapean."


Vicky melakukan perintah dari wanita yang terlihat lebih kurus tersebut dengan mendaratkan tubuhnya di atas kursi. "Terima kasih, Nona atas pujiannya. Saya juga sangat berterima kasih pada tuan Christian karena mengubah saya menjadi pria hebat seperti ini."


"Bahkan tidak bisa membalas jasa-jasa baik dari tuan Christian. Jadi, hanya bisa melakukan ini untuk Anda dengan meluangkan waktu menemani saat tuan Christian ada pekerjaan mendadak."


Hingga ia pun kini berpikir jika wanita dengan wajah pucat itu butuh teman bicara dan membuatnya ingin mengajak berkomunikasi agar tidak terlalu stress memikirkan penyakit kronis yang diderita.


"Aku sudah menganggapmu seperti adik sendiri, jadi tidak merasa asing saat kamu selalu menungguku ketika suamiku harus pergi. Hanya saja, aku merasa bersalah pada suamiku karena tadi seperti ketakutan dan tidak berani berbicara untuk menjelaskan. Ia berpura-pura sinyalnya jelek dan tidak jelas mendengar suaraku," ucapnya sambil terkekeh geli ketika menjelaskan pada Vicky.


Hingga ia pun berpikir jika sesuatu hal yang dilakukan oleh dua pria hebat itu selalu berusaha untuk menjaga perasaannya.


"Tuan Christian sangat mencintai Anda dan takut jika istrinya kecewa karena ditinggalkan secara tiba-tiba saat ada kepentingan mendadak." Vicky mengikuti apa yang diungkapkan oleh wanita tersebut agar tidak bersedih terus-menerus karena berpikir jika suatu saat nanti mengetahui semua kebohongan dari sang suami, pasti akan membencinya karena ikut andil.


Jadi, hanya bisa memuji majikannya yang sangat dicintai oleh wanita yang kabarnya akan menjalani operasi malam nanti. Ia bahkan seperti tidak percaya karena bosnya harus menghadapi operasi 2 wanita yang sama-sama berarti untuknya di hari yang sama, meskipun jam yang berbeda.


"Anda membuat saya terlalu percaya diri karena menganggap seperti adik sendiri, Nona. Saya hanyalah orang biasa yang tidak sepadan dengan Anda dan juga tuan Christian. Jadi, jangan menyamakannya karena kasta saya lebih rendah," ucap Vicky yang saat ini beralih membahas tentang sesuatu yang akan dilakukan malam nanti.


"Anda merasa gugup saat akan dioperasi, bukan? Jangan berpikir macam-macam dan fokus saja untuk sembuh setelah dioperasi dan bisa berkumpul lagi bersama dengan keluarga yang sangat disayangi." Vicky dulu pernah menjadi mentoring para anak-anak yang mengalami nasib kurang beruntung

__ADS_1


Jadi, selalu bisa mengambil hati orang-orang yang tengah merasa down karena memikul banyak beban dan cobaan.


To be continued...


__ADS_2