365 Days With You

365 Days With You
Pencopet


__ADS_3

Pesawat yang membawa Christian dan Laura saat ini sebentar lagi akan mendarat di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Bahkan salah satu pramugari memberikan pengumuman sebelum pesawat mendarat.


Jika para penumpang mendengarkan penjelasan dari pramugari, berbeda dengan yang saat ini tengah dilakukan pria dan wanita yang tak lain adalah Laura dan Christian yang seolah menunjukkan sama-sama tidak rela jika harus berpisah secepat itu.


Meskipun ia tahu jika tadi hanya beristirahat selama beberapa jam saja dan sisanya menghabiskan waktu untuk berbincang bersama. Bahkan terlihat mereka masih saling mengenggam erat tangan seperti tidak terpisahkan.


Laura kini menatap ke arah tangannya yang digenggam oleh pria dengan paras rupawan tersebut. Bahkan ia tersenyum simpul meskipun di hati terasa perih karena sebentar lagi akan berpisah.


"Tidak terasa semuanya sangat cepat berlalu dan kita sebentar lagi akan berpisah karena memiliki tujuan yang berbeda."


Laura bahkan tidak mengatakan apapun mengenai jati dirinya dan juga alamat, serta nomor ponselnya agar pria itu bisa menghubungi.


Bahkan berkali-kali Christian bertanya padanya mengenai alamat rumahnya, tapi ia beralasan tidak ingin berhubungan dengan pria beristri. "Jika bertemu lagi, kamu harus menikahiku, Honey."


"Aaah ... panggilan sayangku sebentar lagi akan berakhir," ucap Laura yang saat ini melepaskan genggaman tangannya begitu pesawat mendarat dengan sempurna.


Sementara itu, Christian lebih banyak diam menjelang detik-detik perpisahan. Ia benar-benar merasa sangat kecewa karena Laura sama sekali tidak mau memberinya petunjuk.


Hingga ia seketika terkejut saat tiba-tiba Laura mengatakan hal yang membuatnya membulatkan mata. "Kamu serius menyuruhku untuk menikahimu saat kita bertemu lagi? Jika benar itu terjadi, aku hanya bisa menikahimu secara siri, Laura."


Beberapa penumpang terlihat beranjak dari tempat duduk dan antri turun, sedangkan Laura dan Christian belum bangkit dari kursi karena tengah membahas tentang hal penting di detik-detik terakhir.


"Aku berkata seperti itu, belum tentu juga kita akan bertemu lagi. Tapi jika benar kita bertemu lagi, aku sangat yakin jika kita memang ditakdirkan bersama. Jadi, aku sama sekali tidak keberatan menjadi istri siri daripada wanita simpanan bergumul dosa."


Kini Christian mempunyai sebuah filing jika ia akan bertemu lagi dengan Laura. Apalagi mengetahui jika wanita itu berasal dari keturunan konglomerat. Jadi, berharap saat ada acara-acara perusahaan, bisa bertemu dengan Laura dan bertekad untuk menikahinya secara siri.


Ia yakin jika Laura pasti akan bersedia hamil benihnya dan impiannya untuk memiliki keturunan benar-benar terwujud.

__ADS_1


"Aku pegang kata-katamu, Laura. Aku akan benar-benar menikahimu jika kita bertemu lagi. Jaga keperawananmu dan hanya berikan padaku, oke!" Christian kemudian bangkit berdiri karena para penumpang sudah turun dari pesawat.


"Lebih baik kamu turun dulu agar aku bisa melihat kepergianmu, Laura. Ini adalah permintaanku." Kemudian ia memberikan jalan agar Laura segera pergi lebih dulu.


Sebenarnya Laura ingin melakukan hal yang sama seperti yang dikatakan oleh Christian, tapi ia tidak tega untuk menolaknya. Apalagi ia harus buru-buru pergi karena sangat yakin jika sang paman sudah mengetahui kepulangannya dari Vincent yang selalu tahu segalanya.


Kini, ia ragu-ragu bangkit berdiri dari posisinya dan menganggukkan kepala. "Baiklah. Aku akan pergi dulu agar kamu bisa melihat tubuhku yang seksi dari belakang."


Bahkan saat ini, ia pun menutupi kesedihannya dengan cara tersenyum simpul meskipun sebenarnya ingin sekali menangis karena sangat tidak suka perpisahan.


Saat hendak berlalu dari hadapan pria yang memiliki postur sangat tinggi itu, Laura yang memiliki tubuh lebih pendek, berjinjit untuk memberikan sebuah kecupan perpisahan.


"Selamat tinggal, Christian. Aku pergi," lirih Laura yang saat ini mulai melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke arah pintu keluar.


Bahkan saat mengucapkan itu, bulir bening membasahi wajahnya saat ini dan ia tidak ingin menoleh ke belakang untuk melihat Christian.


Saat Laura sibuk menormalkan perasaannya, di sisi yang berbeda terlihat Christian yang berjalan di belakang.


Christian kini hanya bisa menatap dari belakang siluet wanita yang ada di hadapannya tersebut berjalan tanpa menoleh ke belakang walau hanya satu kali saja.


Hingga ia pun memiliki sebuah ide yang terlintas di pikirannya. 'Apa aku ikuti saja ke mana Laura pergi? Rasanya aku tidak rela kehilangan Laura begitu saja. Mungkin hanya melihatnya dari jauh saja akan membuatku tenang bahwa ia akan selalu baik-baik saja.'


Christian saat ini tengah memikirkan idenya untuk mengikuti Laura, hingga ia pun bertekad untuk diam-diam mengikuti wanita itu pergi ke mana.


Namun, setelah memasuki area terminal kedatangan, Christian mengerutkan kening karena wanita itu tidak menunggu di tempat yang telah ditentukan untuk mengambil koper.


"Apa Laura tidak membawa barang-barang sama sekali? Ia langsung pergi hanya dengan membawa tas jinjing? Apa ia di Jakarta hanya sebentar? Jadi, tidak membawa apapun selain dokumen dan data diri di dalam tas."

__ADS_1


Christian kini mengembuskan napas kasar karena ternyata faktanya ia tidak bisa membuntuti Laura untuk mencari tahu tempat tinggal wanita yang telah menghilang itu.


"Sial! Seharusnya aku tadi tahu jika ada tas milik Laura di dalam pesawat. Aku asyik berbincang dengannya hingga tidak punya pikiran untuk mencari tahu apapun mengenai Laura."


Merasa apa yang dirasakannya hari ini ibarat pepatah 'nasi sudah menjadi bubur', Christian akhirnya memilih pasrah dan tidak lagi berniat untuk membuntuti Laura.


Ia yakin saat keluar, pasti Laura sudah pergi dan ia tidak akan pernah bisa mengejarnya. Christian terdiam sambil menunggu beberapa koper miliknya, hingga beberapa menit berlalu, akhirnya bisa mendapatkannya dan berjalan menuju ke arah pintu keluar.


Sementara itu di luar bandara, beberapa saat lalu, Laura berniat untuk segera naik taksi dari bandara sampai ke rumah. Namun, ia benar-benar sangat terkejut begitu tas yang berada di tangannya tiba-tiba direbut oleh orang tak dikenal.


Laura benar-benar sangat terkejut saat melihat tasnya dicopet. "Tolong, pencurit!" teriaknya sambil menunjuk ke arah pria yang melesat jauh meninggalkan keberadaannya.


Laura berharap ada orang baik yang mau mengejar pencopet itu karena baginya, tas miliknya sangat penting. Semuanya ada di dalam tas dan membuatnya benar-benar merasa sangat frustasi.


"Berengsek! Bagaimana nasibku jika tasku hilang karena dicopet bajingan. Astaga! Baru beberapa menit aku kembali ke tanah kelahiranku, tapi sudah langsung mendapatkan musibah."


Laura merasa sangat frustasi saat tidak ada yang membantunya. Bahkan ia mengacak rambutnya karena sangat marah sekaligus kecewa.


"Bagaimana mungkin ada pencopet di bandara? Apa kerja para aparat keamanan itu aku?" umpat Laura yang kini melihat sosok pria berseragam keamanan baru datang.


"Apa Anda melihat wajah pencopet itu, Nona?" tanya salah seorang pria yang bertanya pada wanita korban pencopetan di bandara setelah mendapatkan laporan.


Ia hanya sekedar bertanya dan berpura-pura untuk menangani. Padahal sesungguhnya adalah ia sudah mendapatkan banyak uang untuk tutup mulut dari orang tidak dikenal.


To be continued...


Sampai ia pun tidak tahu apakah

__ADS_1


__ADS_2