
Sosok wanita yang baru saja menyuruh sang suami untuk membelikan teh panas dan buah di kantin, kini langsung bergerak mengambil ponsel miliknya yang tadi di charge.
Wanita yang tak lain adalah Ana, ingin sekali melihat putranya yang sangat dirindukan. Jadi, ia melakukan video call dan saat ini Tengah menunggu panggilannya diangkat oleh mertua yang selama ini tidak pernah menyukainya karena tidak bisa menjadi menantu idaman yang meneruskan jejak keturunan keluarga Raphael.
"Kenapa tidak diangkat juga?" Ana saat ini merasa sangat kecewa karena panggilan yang dilakukan tidak diangkat hingga mati. "Apa Mama masih sibuk untuk menenangkan putraku? Pasti Valerio rewel seperti kemarin."
Tidak mau menyerah, kini Ana kembali memencet tombol panggil dan ia seketika merasa lega begitu melihat sosok mertuanya di balik layar.
"Selamat pagi, Ma. Maaf karena aku mengganggu pagi-pagi di jam sibuk Mama. Aku hanya ingin melihat putraku sedang apa sekarang," ucap Ana yang saat ini tengah menatap ke arah mertuanya yang tengah berada di dalam ruangan dan ia berpikir jika itu adalah ruangan pribadi yang memang belum pernah dimasuki olehnya.
Meskipun ia sudah lama menikah dengan Christian, tapi belum pernah sekali pun masuk ke dalam ruangan kamar mertuanya dan ini baru pertama kali melihat dari video call.
Di sisi lain, Renita Padmasari yang tadi langsung berjalan masuk ke dalam ruangan kamar setelah disuruh oleh Laura agar tidak menimbulkan sebuah kecurigaan karena tempat tinggal berbeda, tengah duduk di sofa yang berada tak jauh dari ranjang king size yang saat ini ada cucunya tertidur pulas.
__ADS_1
Ia refleks langsung menaruh jari telunjuk pada bibirnya agar Ana mengurangi volume saat berbicara agar sang cucu tidak terbangun dari tidurnya.
"Valerio baru saja tidur karena tengah malam sedikit rewel. Jadi, jangan berisik!" Kemudian ia bangkit berdiri dari posisinya dan berjalan mendekati ranjang dan mengubah layar belakang agar menantunya bisa melihat Valerio.
Tadi ia berpikir jika Laura melarangnya untuk mengangkat telpon dari Ana dan pastinya akan dilakukan, tapi karena ternyata malah disuruh untuk menunjukkan jika Valerio saat ini baik-baik saja agar tidak khawatir, sehingga membuatnya mengaguminya.
Sementara itu, Ana yang saat ini tidak berkedip menatap sosok bocah laki-laki yang tengah pulas di atas ranjang, kembali berkaca-kaca dan mengusap layar yang menunjukkan wajah putranya.
'Apa aku masih bisa merawatmu sampai dewasa? Ataukah Mama berumur pendek karena penyakit yang kuderita ini?' gumam Ana yang saat ini hanya bisa berkeluh kesah di dalam hati.
Ia sebenarnya ingin sepuasnya menatap ke arah putranya yang berada di atas ranjang tersebut, tapi tidak mungkin melakukannya karena mengetahui jika mertuanya tidak suka padanya.
'Pasti mama mau mengangkat telponku atas dasar kasihan. Aku tidak ingin membuatnya makin muak padaku karena terpaksa,' gumam Ana yang kini mulai membuka suara lirih agar putranya tidak sampai terbangun.
__ADS_1
"Terima kasih, Ma karena mau menjaga Valerio untuk sementara waktu sampai aku pulang dari Rumah Sakit. Kalau begitu, Mama istirahat karena pasti sangat capek menjaga Valerio semalaman." Ana yang baru mengucapkan salam perpisahan, kini melambaikan tangan begitu melihat mertuanya mengangukkan kepala.
Bahkan ia sama sekali tidak melihat bibir mertuanya terbuka untuk sekedar menjawabnya. Ia akhirnya mematikan sambungan telpon setelah tersenyum simpul untuk menyembunyikan kekecewaannya karena sang mertua terlihat malas bicara dengannya di telpon.
Hingga beberapa saat kemudian melihat pintu terbuka dan sosok suami berjalan masuk sambil membawa kantong plastik berisi makanan pesanannya. "Kamu sudah kembali, Sayang."
Christian yang tadi di kantin menelpon sang ibu, tapi nomor sibuk, kini seolah bisa menebak jika Ana yang menghubungi begitu melihat sang istri masih memegang ponsel di tangan.
Namun, sama sekali tidak berniat untuk bertanya dan mengangguk perlahan. "Ini pesananmu, Sayang."
Ana yang sebenarnya tidak berselera makan, kini memilih untuk berbicara jujur dengan menunjukkan ponsel di tangan. "Aku tadi melihat putra kita tertidur pulas dan sedikit merasa lega karena baik-baik saja tanpaku. Apakah jika nanti aku meninggal, kalian akan dengan mudah melupakanku?"
To be continued...
__ADS_1