
Raisa kini sudah keluar dari ruangan kerjanya karena pekerjaan sudah selesai. Ia saat ini melirik mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan kiri dan berpikir jika hari ini benar-benar sangat sibuk.
Dengan langkah kaki jenjang menuju ke arah lift setelah menyapa beberapa orang rekan kerja, ia yang tadi sama sekali tidak mau periksa ponsel karena sibuk dengan pekerjaannya bersama dengan atasan, kini berjalan masuk ke dalam lift.
Ia menatap ke arah ponsel yang menunjukkan pesan dari Paul mengenai tujuan Miranti untuk memanggil suami dari temannya tersebut memang bertujuan baik untuk memberikan semangat hidup pada Ana.
Hingga ia karena tengah memikirkan cara untuk membuat pria itu datang ke Singapura tanpa mengetahui jika akan menemui Ana. "Kira-kira apa alasan kerjasama yang cocok untuk Christian agar segera datang ke sini?"
Lebih baik aku pikirkan nanti saja karena sekarang harus ke rumah sakit untuk menemui Ana yang sebentar lagi akan menjalani operasi. Semoga operasi hari ini pelajaran lancar dan tidak ada masalah, sehingga Ana bisa kembali sehat seperti dulu lagi."
Raisa merasa sangat tidak tega jika terus-menerus melihat sahabatnya menderita karena penyakit yang tidak kunjung sembuh meskipun sudah melakukan pengobatan.
Ia saat ini memesan taksi agar mengantarkannya ke rumah sakit. Saat menunggu di lobby, ia saat ini tengah memeriksa daftar pekerjaannya yang mungkin berhubungan dengan Christian.
Hingga ia menemukan sesuatu yang menarik dan bisa digunakan untuk membuat pria itu datang ke Singapura. "Aku akan mengirimkan email padanya untuk masalah kerjasama," ucapnya yang saat ini mendengar klakson dan wakil berdiri dari tempat duduk di sudut lobi, menghampiri taksi yang dipesan.
Setelah ia mendaratkan tubuhnya di kursi belakang, kini ia kembali mengirimkan pesan melalui email pada Christian karena memang masih menyimpan semuanya di sana. Jadi, dengan mudah ia menghubungi pria itu.
"Satu minggu lagi akan diadakan Bazar di perusahaan dan banyak perusahaan yang diundang untuk menawarkan semua koleksi mereka. Jika Christian mau menerima tawaran ini, dia berjodoh dengan Ana," ucapnya yang saat ini menatap ke arah jalanan kota yang cukup ramai.
Suasana jalanan yang dihiasi lampu terang di kanan kiri dan cahaya temaram dari rembulan serta bintang pun menghiasi langit cerah di malam ini. Raisa saat ini fokus menatap ke arah jalanan dan memikirkan tentang nasib sahabatnya.
__ADS_1
Ia adalah orang yang paling takut jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Ana setelah dioperasi, tentu saja ia tidak akan pernah bisa hidup tenang karena yang membuat keputusan atas hidup sahabatnya saat orang tua sudah meninggal.
"Ana, kamu harus sembuh demi semua orang yang menyayangimu," ucapnya dengan meremas kedua sisi pakaian karena saat ini merasa jika perasaannya tidak menentu karena detik demi detik waktu operasi akan dimulai dan itu bagaikan bom waktu baginya.
"Lindungi dan sembuhkan Ana, Tuhan karena dia sekarang sudah pasrah atas takdirmu. Aku benar-benar percaya jika engkau tidak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan umat-Nya dan Ana pasti suatu saat akan sembuh." Dengan bola mata berkaca-kaca, kini ia tidak bisa menghilangkan apa yang saat ini dirasakan.
Ketakutan yang saat ini menyeruak di dalam dirinya tidak bisa dihindari karena mengingat perkataan dokter bahwa operasi ini bisa membuat Ana sembuh dan juga sekaligus meninggal.
"Ya Allah, kuserahkan semua padamu seperti Ana yang sangat mempercayaimu bahwa semua yang terjadi adalah yang terbaik untuknya." Dengan beberapa kali mengusap dadanya yang bergemuruh hebat ketika dipenuhi oleh kekhawatiran luar biasa jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada sahabatnya.
Namun, ia saat ini tidak berhenti berdua untuk keselamatan sahabat baik yang tersebut agar keluar dari ruang operasi, penyakitnya benar-benar sembuh.
Raisa berada di dalam taksi selama setengah jam dan beberapa saat kemudian berbelok di area rumah sakit yang menjadi tempat Ana dirawat.
Namun, sang supir mengatakan masih ada waktu setengah jam. Ia pun bergegas menemui sahabatnya karena tidak ingin Ana tidak melihatnya sebelum masuk ke ruangan operasi.
"Aku harus memberikan dukungan pada Ana agar bersemangat dan optimis," ucapnya yang sudah menunggu lift terbuka untuk segera ke lantai tempat Ana dirawat.
Hingga beberapa saat kemudian, pintu kotak besi tersebut terbuka dan ia sedikit berlari agar bisa segera tiba di ruangan sahabatnya tersebut. Begitu sebelumnya untuk mengetuk pintu dan membukanya, bisa dilihatnya saat ini Ana terlihat sangat pucat itu tersenyum ke arahnya.
"Maaf karena aku sibuk di kantor, jadi terlambat." Raisa saat ini berjalan mendekati sahabatnya yang sudah mulai persiapan untuk dilakukan operasi.
__ADS_1
Ia saat ini memeluk erat serta mengucap lengan Ana untuk menyalurkan aura positif agar sahabatnya tersebut bersemangat.
"Tidak apa-apa, yang penting kamu sudah datang. Aku sudah tenang karena masih bisa melihatmu sebelum dioperasi," ucap Ana yang saat ini terdiam ketika memikirkan tentang pembicaraan sahabatnya dengan dokter
Ia ingin mengetahui semuanya, daripada bertanya-tanya sendiri tanpa menemukan jawaban pasti. "Aku ingin bicara empat mata denganmu."
Kemudian Raisa menoleh ke arah pelayan serta sopir agar keluar karena ia tahu apa yang akan dibicarakan oleh sahabatnya.
Miranti segera pakai berdiri dari sofa bersama dengan sang sopir, selalu berjalan keluar tanpa berbicara apapun pada dua wanita cantik tersebut.
Mereka sebenarnya sudah tahu apa yang akan dibicarakan oleh Ana pada Raisa, tentu saja membahas mengenai operasi yang dilakukan.
Saat ini, Ana yang merasa jika waktunya tidak banyak untuk bertanya, sehingga saat ini langsung mengungkapkan rasa ingin tahunya mengenai pembicaraan sahabatnya tersebut bersama dengan dokter.
"Sebelum aku mati, paling tidak kamu mengatakan apa yang dikatakan dokter tadi siang padamu." Ana yang baru saja menutup mulut, mendapatkan cubitan sangat kuat pada lengannya dan membuatnya meringis menahan rasa nyeri.
"Iiish ... sakit!" umpat Ana yang saat ini merasa sangat kesal karena nyeri dirasakannya di lengan.
"Rasakan saja karena rasa sakit itu tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa sakitku di sini." Menunjuk ke arah dadanya dengan raut wajah masam.
Ana saat ini hanya tertawa karena melihat jika sahabatnya seperti seorang Casanova yang merayu seorang wanita. "Dasar! Memangnya kau jatuh cinta padaku dan aku membuatmu patah hati?"
__ADS_1
"Ya, aku memang sayang padamu dan kau membuatku patah hati dengan perkataanmu yang membahas tentang kematian. Kamu seperti sama sekali tidak menghargai usahaku. Tolong jangan sebut kematian di depan orang yang berjuang mati-matian untuk menyelamatkanmu," sarkas Raisa yang merasa sangat kesal karena tidak bisa lagi merubah pemikiran sahabatnya.
To be continued...