365 Days With You

365 Days With You
Kamu yang bekerja


__ADS_3

Satu minggu sudah Christian tinggal bersama Laura di rumah baru dan menjadi pengantin baru yang bahkan setiap hari melakukan honeymoon karena tidak pernah libur memanjakan sang istri di atas ranjang.


Christian benar-benar ingin membuat Laura segera hamil benihnya karena harapannya untuk segera memiliki keturunan sangatlah besar. Apalagi selalu khawatir jika ia tidak bisa meneruskan garis keturunan di keluarga karena menjadi satu-satunya anak tunggal.


Seperti pagi ini, ia masih bermalas-malasan di atas ranjang dengan posisi tanpa mengenakan selembar benang pun di tubuhnya dan malah asyik memeluk erat tubuh sang istri yang meringkuk dipelukannya.


Mereka baru saja menyelesaikan ronde kedua karena semalam juga menghabiskan dengan penuh gairah, tapi Christian kembali melakukannya saat pagi hari ketika di luar sana masih gelap.


Itu karena pagi ini pukul 7, ia harus berangkat ke Jakarta dan membohongi Laura bahwa ia akan melakukan perjalanan ke luar negeri. Nasib baik sang istri tidak pernah curiga padanya dan mempercayai semua perkataannya.


Jadi, dengan mudah ia mengatakan akan melakukan perjalanan bisnis selama satu minggu ke depan. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah akan ke Jakarta untuk menemui Ana Maria yang sudah sangat merindukannya.


Ia saat ini rasakan pelukan dari tangan dengan jemari lentik yang melingkar di pinggangnya sambil bersembunyi di dadanya yang bidang.


"Nanti kamu tidak perlu mengantarku ke bandara, Sayang. Kamu di rumah saja bersama pelayan yang hari ini datang dan akan menemanimu agar tidak kesepian selama satu minggu." Christian saat ini mengusap lembut rambut panjang sang istri yang masih memejamkan mata. Hingga ia mendengar suara Laura yang serak karena masih mengantuk.


"Baiklah, Sayang. Tapi janji cuma satu minggu kamu pergi ke luar negeri." Laura kita akan berbicara dengan bola mata yang masih tertutup rapat karena ia benar-benar sangat mengantuk.


Apalagi semalaman sang suami menghajarnya habis-habisan dan tubuhnya remuk redam karena hasrat pria yang sangat dicintainya itu tidak pernah berkurang untuk mengirimkan puncak kenikmatan.


Bahkan saat tidur pulas, pagi-pagi buta kembali dibuat merintih dan mendesah hingga membuatnya berkali-kali meledak dalam kolam hasrat yang diciptakan oleh sang suami yang sangat kuat di atas ranjang.


Ia sebenarnya merasa sedih ketika sang suami harus melakukan perjalanan bisnis dan ini adalah pertama kalinya ia akan tinggal hanya dengan pelayan. Namun, ia tidak ingin bersikap egois dengan meminta sang suami terus selalu bersamanya. Padahal ada tanggung jawab pekerjaan yang harus diselesaikan.


Apalagi selama ini tidak pernah melarang ia membeli apapun dan memberikan nafkah yang besar dan membuatnya memiliki banyak uang. Jadi, ingin mendukung sang suami dan percaya sepenuhnya bahwa pria itu adalah seorang pria yang sangat mencintainya.


Laura kini mengangkat jari telunjuk agar sang suami mau berjanji padanya bahwa seminggu akan pulang ke rumah.

__ADS_1


"Iya, Sayang. Aku janji akan pulang tepat waktu." Christian saat ini mengaitkan jari kelingking untuk menyambut keinginan sang istri yang masih memejamkan mata.


Bahkan karena merasa gemas dan lucu melihat istrinya berbicara dengan mata terpejam, sehingga membuatnya mengecup lembut kelopak mata yang tertutup itu dengan penuh cinta.


"Tunggu aku di rumah dan jangan macam-macam di belakangku, ya Sayang. Aku pergi seminggu untuk bekerja. Jadi, kamu di rumah saja dan jangan keluar-keluar karena nanti akan ada banyak pria mengincarmu. Apalagi tatapan lapar para pria zaman sekarang sangat berbahaya."


Saat Christian baru saja menyelesaikan perkataannya, Laura membuka mata dan mengungkapkan hal yang membuatnya menelan saliva dengan kasar.


"Tatapan para pria zaman sekarang? Bukankah itu menegaskan jika kamu juga termasuk di dalamnya? Aah ... atau jangan-jangan kamu juga menatap para wanita cantik di luaran sana dan berpikiran mesum?" Laura yang sama sekali tidak berpikir untuk keluar rumah karena semua kebutuhan sudah tercukupi, merasa sangat kesal ketika mendapat kecurigaan.


Apalagi ia berpikir bahwa di dunia ini tidak ada pria sebaik dan sesempurna sang suami. Jadi, mana mungkin berniat untuk macam-macam di luaran sana. Ia bahkan kini menatap tajam sang suami yang membuatnya sangat kesal.


"Astaga! Bukan seperti itu, Sayang. Sebenarnya aku hanya ingin kamu tidak menjadi incaran para pria hidung belang. Suamimu ini adalah seorang pria baik, bukan bajingan yang suka mempermainkan perasaan wanita." Christian seperti tertampar dengan kalimat terakhir yang baru saja ia ungkapkan secara tidak sengaja untuk membela diri.


Apalagi ia ragu adalah seorang pria yang baik karena telah menipu dua wanita demi egonya yang ingin segera memiliki keturunan.


Hingga ia pun kini merasa sangat lega ketika Laura sudah tidak lagi kesal padanya. Ia tidak ingin berpisah sementara waktu dengan keadaan sang istri merajuk.


Laura kini bangkit dari posisinya yang awalnya membenamkan wajah di dada bidang sang suami. Ia menutupi tubuh telanjangnya dengan selimut tebal dan menatap pria yang kini masih berbaring tersebut.


"Iya, aku maafin. Jangan khawatir aku akan keluar rumah karena zaman sekarang bisa membeli apapun hanya dengan ponsel. Lagipula aku tidak tertarik pergi-pergi tanpamu. Jadi, jangan berpikiran bahwa aku jalan-jalan saat suami dalam perjalanan bisnis."


Laura kini menatap ke arah jam di dinding yang menunjukkan pukul 5 pagi dan khawatir jika suaminya nanti terlambat jika malas-malasan di atas ranjang.


"Ayo, kita mandi, Sayang. Bukankah kamu bilang akan berangkat ke Bandara pukul tujuh? Hari ini aku akan khusus memasak untukmu, Sayang. Aku ingin kamu selalu mengingatku saat makan, mandi, tidur, agar cepat pulang karena sangat merindukanku."


Christian yang tadinya masih ingin bermalas-malasan, seketika bangkit dari ranjang dan mendadak bersemangat karena pertama kali Laura akan memasak.

__ADS_1


Meskipun ia tidak tahu bagaimana kira-kira rasanya, tapi tetap bersemangat dan tidak sabar ingin merasakannya.


"Baiklah. Ayo, kita mandi dan aku akan sarapan dari masakanmu, Sayang." Kemudian ia beranjak turun dari ranjang dan membungkuk untuk meraup tubuh Laura ala bridal style.


"Astaga! Selimutnya!" teriak Laura yang merasa malu karena pelindung tubuh yang digunakan malah disingkirkan.


Meskipun ia sudah melakukan semua hal intim dengan sang suami yang menggendongnya ke kamar mandi, tetap saja merasa sangat malu. Padahal tadi ia yang bercanda dengan mengatakan mengajak mandi bersama.


"Buat apa menutupi tubuhmu yang seksi dengan selimut, Sayang. Malu? Bahkan aku sudah melihat semuanya tanpa terkecuali hingga sangat hafal. Lagipula kita akan mandi, pasti telanjang, kan?" Christian yang melihat wajah malu-malu dari sang istri yang memerah seperti kepiting rebus, hanya terkekeh geli.


"Tetap aja rasanya aneh jika tanpa menggunakan apa-apa," sahut Laura dengan wajah masam untuk menyembunyikan rasa malunya.


"Tapi aku suka melihat tubuhmu yang seksi, Sayang. Aku hari ini akan memanjakan mataku untuk puas melihat tubuhmu yang seksi dan merekam di otakku agar bisa terus mengingatnya saat berpisah darimu ketika berada di New York." Kemudian menurunkan tubuh telanjang Laura begitu berada di kamar mandi.


Ia kini tidak berkedip menatap tubuh seksi sang istri yang selalu dicumbunya setiap hari dan berjalan mendekat sambil meraba dengan jarinya. "Mau mandi saja atau lanjut ronde ketiga, Sayang?"


Laura yang merasa tubuhnya meremang kala mendapatkan sentuhan dari sang suami, membuat ia menggigit bibir bawah bagian dalam.


"Jangan macam-macam, Sayang. Memangnya kamu tidak lelah, apa? Sampai berkali-kali kamu melakukannya tanpa kenal lelah." Saat ia baru saja menutup mulut, melihat senyuman menyeringai dari sang suami.


"Kalau kamu khawatir jika aku lelah, bisa memakai cara yang membuatku tidak lelah. Jadi, kamu saja yang bekerja hari ini." Kemudian Christian langsung menyerang titik paling sensitif sang istri dengan berjongkok di bawah.


Seketika Laura menjerit kecil kala mendapatkan serangan tiba-tiba dari pria yang sudah mengirimkan gelombang kenikmatan hingga menimbulkan sensasi berputar lepas kendali dan membangkitkan kupu-kupu di perutnya.


"Sayang!" rintih Laura yang kini membenamkan jemarinya pada rambut hitam berkilat milik pria di bawah sana.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2