365 Days With You

365 Days With You
Tidak dihargai dan diremehkan


__ADS_3

"Kerugian? Bagaimana ceritanya, Sayang?" Ana yang merasa sangat terkejut karena baru kali ini sang suami seperti terdengar gegabah menerima kerja sama dari perusahaan lain.


Bahkan selama ini sang suami sangatlah teliti dan berhati-hati dalam mengambil keputusan, sehingga merasa aneh mendengarnya. Meskipun untung rugi sudah bukan hal biasa bagi seorang pengusaha, tapi masih heran saat Christian bilang jika CEO perusahaan Prameswari Grup tidak bisa apa-apa.


Namun, ia merasa kecewa kala pria yang terlihat melepaskan jas itu berjalan masuk ke kamar mandi dengan menanggapi tidak sesuai dengan yang diinginkan.


"Kamu fokus saja mengurus putra kita, Sayang. Biar aku yang bekerja dan menangani semuanya." Christian kini mengunci pintu kamar mandi dan mulai melepaskan satu-persatu pakaian yang melekat di tubuhnya.


'Aku keceplosan lagi dan Ana jadi tahu masalah perusahaan jadinya. Seharusnya aku tidak mengatakan masalah kantor di rumah.' Berjalan menuju ke arah shower dan merasakan guyuran air dingin menusuk pori-pori kulitnya.


Saat ini ia tengah memikirkan kebodohannya yang bisa mempercayai pimpinan perusahaan Prameswari Grup ketika menawarkan keuntungan cukup besar jika berinvestasi pada perusahaan itu.


"Sial! Uangku tidak kembali dan malah mendapatkan kerugian. Tidak. Ini tidak bisa dibiarkan. Aku akan memberikan pelajaran pada si berengsek itu jika tidak mau bertanggungjawab. Besok aku akan datang ke perusahaan itu menemuinya."

__ADS_1


Christian masih memikirkan kehilangan pundi-pundi rupiah yang seharusnya sudah mendapatkan keuntungan.


Berbeda di luar ruangan, sosok Ana yang saat ini tengah menemani Valerio bermain, fokus pada bocah laki-laki tersebut yang terus berusaha berjalan. Namun, pikiran tidak bisa tenang kala mengingat perkataan dari suami.


'Ingin sekali aku membantu suamiku seperti dulu, tapi saat ini harus fokus mengurus putraku. Suamiku sekarang sudah tidak terbuka mengenai pekerjaan dengan alasan menyuruhku fokus mengurus Valerio saja. Apakah sekarang aku tidak boleh membantunya karena ia sudah tidak percaya lagi pada kemampuanku?'


Ana kini menggendong putranya karena ingin mengajak keluar dari kamar. Ia bahkan membawa ponsel untuk bertanya pada Vicky mengenai apa yang sebenarnya terjadi.


Begitu tiba di lantai satu, ia menyuruh salah satu pelayan menemani putranya yang sangat bersemangat untuk berjalan. Kemudian masuk ke dalam ruangan santai dan menelpon asisten pribadi suami.


Apalagi sudah tidak lagi bekerja di perusahaan.


Ana yang tidak ingin bertele-tele, kini mengungkapkan semuanya. "Lebih baik kau ceritakan semuanya padaku! Bagaimana suamiku mengalami kerugian saat bekerja sama dengan perusahaan lain?"

__ADS_1


Vicky saat ini merasa bingung harus menjelaskan dari mana karena pada awalnya dulu ia sudah menasihati bosnya agar tidak terbujuk berinvestasi, tapi tetap saja tidak diperdulikan.


"Lebih baik Anda bicara dengan tuan Christian karena ini bukan ranah saya untuk membahas tentang kesalahan bos. Intinya tuan Christian memakai uang perusahaan untuk berinvestasi. Pasti Anda tahu resiko dari apa yang dilakukan oleh tuan Christian, bukan?"


Vicky saat ini tidak ingin bilang jika perusahaan terancam bangkrut karena tahu jika Ana pasti sudah mengetahui hal itu.


Berbeda dengan respon Ana yang tengah membulatkan kedua matanya begitu memahami semuanya. "Baiklah. Sudah cukup jawabanmu, Vicky. Sekarang aku mengerti."


Di saat Ana mematikan sambungan telpon, ia mendengar suara bariton dari sang suami yang baru saja masuk ke dalam ruangan dan menatapnya tajam.


"Kenapa harus menghubungi Vicky? Bukankah kamu bisa tanya secara langsung padamu?" Christian yang tadinya merasa sangat aneh karena sang istri tidak ada, langsung mencari ke bawah.


Hingga ia mendengar pembicaraan dari Ana dan membuatnya merasa seperti seorang suami yang tidak dihargai dan diremehkan.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2