
Semua orang yang ada di ruangan meeting, tadinya fokus menatap ke arah dua pria yang saat ini berniat untuk menghitung suara terbanyak mengenai pemimpin baru di Perusahaan Prameswari.
Bahkan suara dari salah satu orang yang akan memulai penghitungan suara terganggu dan tidak melanjutkannya karena Christian yang tiba-tiba berpamitan.
Hal itu membuat Laura yang tadinya fokus, beralih menatap ke arah Christian. 'Sebenarnya apa yang dilakukan si berengsek itu? Apa dia hanya sedang berakting saja karena ingin kabur dariku?'
Laura yang sebenarnya ingin melihat Christian tetap berada di ruangan meeting sampai selesai dan menunjukkan kekuatannya yang memiliki kekuasaan di perusahaan, tapi semua gagal karena kini pria dengan bahu lebar itu baru saja menghilang di balik pintu keluar.
Ia refleks berbisik di dekat daun telinga Mario dan mengungkapkan apa yang diinginkan saat ini. "Suruh orang untuk membututi bajingan itu. Aku harus tahu ke mana pria itu pergi agar bisa menyerangnya jika mengetahui kelemahannya."
Mario yang saat ini merasa curiga jika Laura ingin mengetahui kemana perginya Christian karena merasa cemburu jika pria itu memilih meninggalkan meeting hanya gara-gara diperintah oleh sang istri.
Namun, seperti biasa, ia hanya bisa memendam di dalam hati dan menganggukkan kepala. "Baiklah."
Kemudian langsung mengambil ponsel dan mengirimkan pesan pada salah satu pengawal yang saat ini berjaga di area depan perusahaan untuk segera mengikuti Christian. Ia bahkan mengirimkan foto pria itu agar pengawal tidak salah orang.
'Semoga kamu tidak tergoda lagi oleh bajingan itu, Laura. Jika selama ini aku selalu melihat kebencian di matamu sebelum bertemu dengan pria itu, tapi kenapa aku merasa ragu begitu melihat kalian saling berhadapan dan juga sama-sama memandang. Semoga ini hanyalah kekhawatiran yang tidak beralasan.'
Kemudian Mario menyuruh orang yang menghitung suara tersebut melanjutkannya.
Sementara Laura saat ini yang tidak fokus pada penghitungan suara, masih bertanya-tanya di dalam hati mengenai kepergian Christian yang tiba-tiba dengan wajah seperti dipenuhi oleh kekhawatiran.
'Apakah dia disuruh pulang oleh istrinya? Memangnya dia melapor jika bertemu denganku? Sebenarnya apa yang terjadi? Aku harus mengetahui apa yang membuat si berengsek itu buru-buru pergi!' Saat Laura sibuk dengan pemikirannya yang masih berkutat dengan Christian, seketika sirna begitu mendengar suara tepukan tangan dari semua orang.
Kemudian menoleh ke arah pria yang saat ini menunjukkan hasil voting dan seketika membuat sudut bibirnya terangkat ke atas.
"Jadi, hasil suara hari ini adalah, Tuan Andika Syaputra mendapatkan 20 suara, sedangkan Nona Anastasya 30 suara," ucap pria yang saat ini sudah menunjukkan hasilnya di layar.
Kini, Mario seketika bangkit berdiri dan meminta Laura melakukan hal yang sama sepertinya. Sebelum ia menyuruh Laura untuk memberikan apresiasi tas kepercayaan yang diberikan oleh para petinggi perusahaan, ia mengawali terlebih dahulu.
Tanpa memperdulikan raut wajah penuh amarah dari ayah dan anak yang berada di sebelah kirinya.
"Sebelum CEO baru kita memberikan sambutannya, saya terlebih dahulu mengucapkan terima kasih atas kepercayaan orang-orang di sini yang mempercayai nona Anastasya untuk menjadi pemimpin selanjutnya." Ia sekilas menatap ke arah Laura sebelum melanjutkan apa yang ingin diutarakan.
"Pilihan kalian tidak salah karena sudah dibuktikan dengan kinerja yang luar biasa dan dipastikan akan bisa mengangkat kembali nama perusahaan Prameswari seperti dulu. Sepertinya hanya ini dan sekarang nona Anastasya akan memberikan sambutannya."
__ADS_1
Mario kemudian memberikan kode pada Laura untuk memberikan sebuah sambutan secara langsung, meski dengan berbicara dengan bahasa asing.
Laura yang sebelumnya menoleh ke arah sosok paman dan sepupunya yang dengan mudah dikalahkannya, kini tersenyum simpul penuh kemenangan. "Maaf karena merebut posisi Anda, Tuan Andika Syaputra."
Sementara itu, Andika Syaputra dan sang ayah yang dari tadi hanya diam sambil mengepalkan tangan yang berada di bawah meja, sama-sama tengah mencari sebuah solusi dari permasalahan hari ini.
Namun, masih belum menemukan dan hanya diam tanpa mengungkapkan sepatah kata pun meski dalam hati ingin segera menghabisi wanita yang dianggap sangat berani melawan. Padahal hanyalah seorang wanita yang lemah.
'Tunggu saja pembalasanku, Anastasya! Aku tidak akan tinggal diam karena kau akan menyesal saat berani melawanku,' sarkas Andika Syaputra di dalam hati.
Berbeda dengan yang dipikirkan oleh Rendi Syaputra saat ini karena hal yang terpikirkan hanyalah ingin segera menyingkirkan wanita itu dari muka bumi ini. 'Sepertinya hanya kematian yang bisa menghentikan wanita ****** ini.'
Ia pun kini berpikir untuk menyuruh salah satu pengawal kepercayaannya yang kini tengah berjaga di luar.
Sementara itu, Laura yang kini sudah bangkit berdiri dari kursinya, kini menatap ke arah semua orang. "Baiklah. Sebenarnya saya benar-benar merasa sangat tersanjung atas kepercayaan kalian semua yang ada di ruangan ini."
"Saya selama ini adalah orang yang selalu menjunjung tinggi kepercayaan dan sangat menjaga itu agar selamanya menjadi orang yang bisa dipercaya. Jadi, sebuah dasar dari kepercayaan itu adalah merupakan sebuah cambuk yang digunakan untuk meraup pundi-pundi keuntungan bagi perusahaan."
Laura kini mengakhiri sambutannya dengan menatap ke arah paman dan sepupunya yang masih duduk di tempat dengan wajah memerah karena dikuasai oleh amarah. "Mungkin cuma itu karena tidak pernah suka menebar janji yang seringnya tidak ditepati oleh beberapa orang."
Bahkan saat ini Andika Syaputra sudah mengarahkan tatapan tajam pada sosok wanita yang ingin sekali ditariknya rambut berwarna pirang itu. "Apa kau selama ini tidak diajarkan sopan santun dalam bertutur kata, Nona Anastasya?"
"Apa orang tuamu tidak pernah tahu cara mengajarkan anaknya untuk tidak menyindir-nyindir dan berbicara lebih sopan?" Andika memang tidak pintar berbicara Inggris, tapi ia sedikit banyak paham beberapa kalimat yang tadi diungkapkan oleh wanita perebut tahtanya di perusahaan.
'Sayangnya dia wanita yang tidak mungkin kutonjok wajahnya karena semua orang hanya akan menganggapku adalah seorang pengecut dan pecundang jika melakukannya,' sarkas Andika yang kini mengepalkan tangan karena melihat respon wanita di hadapannya tidak terduga.
Laura yang tadinya terbakar amarah kala nama orang tua dikaitkan dengan perbuatannya. Ia bahkan kini berpikir jika terpancing amarah hanya akan menunjukkan sisi kelemahannya dan makin diserang oleh musuh.
Ia akhirnya menyembunyikan amarahnya dengan tersenyum lebar sampai menampilkan giginya yang rapi. "Terima kasih atas pujiannya, Tuan Andika Syaputra. Suatu saat nanti saya akan memperkenalkan pada orang tua saya agar bisa menilai sendiri bagaimana cara mendidik."
Kemudian ia melanjutkan umpatannya di dalam hati. 'Justru kau lah yang tidak diajari sopan santun oleh orang tuamu yang iblis itu, bajingan! Lihat saja nanti, hukum tabur tuai yang berjalan dan tidak akan pernah salah sasaran akan kalian semua rasakan.'
Saat ia sibuk mengumpat dalam hati, merasakan sentuhan dari tangan dengan buku-buku kuat Mario yang memberikan sebuah kode agar tidak terpancing emosi dan menunjukkan sikap elegan.
Mario tadinya khawatir jika Laura akan menunjukkan sikap arogannya dengan melempar apapun yang ada di atas meja, jadi buru-buru memegang pundak agar tidak terpancing emosi.
__ADS_1
Begitu melihat Laura mengangukkan kepala, ia kembali menatap ke arah orang-orang yang hadir. "Jadi, mulai hari ini, posisi CEO sudah dipegang oleh Nona Anastasya yang akan bekerja di perusahaan besok."
"Sementara untuk Tuan Andika adalah wakil presiden direktur dan akan tetap melaporkan apapun yang terjadi di perusahaan ini pada Nona Anastasya. Tolong berikan applaus untuk mereka, khususnya pemimpin yang baru di perusahaan Prameswari." Mario mengakhirinya dengan memberikan contoh, yaitu bertepuk tangan.
Hingga semua orang yang ada di ruangan itu ikut memberikan applaus untuk mengucapkan selamat atas kemenangan hari ini.
"Selamat, Nona Anastasya." Suara dari semua orang mulai menghiasi ruangan meeting.
Hingga saat ia membiarkan semua orang bertepuk tangan, bukti notifikasi di ponselnya mengalihkan perhatian.
Kemudian ia langsung membuka pesan dan membaca pesan dari pengawal yang tadi disuruh untuk mengikuti Christian.
Saya sudah mengikuti mobil tuan Christian dan ternyata kembali ke kantor. Apa saya harus menunggu di sini atau kembali ke Perusahaan Prameswari?
Ia kini menatap ke arah Laura dan langsung memberikan ponselnya agar dibaca sendiri karena saat suasana dipenuhi oleh riuh tepuk tangan, tidak mungkin berbisik di telinga wanita yang tengah tersenyum pada semua orang untuk menanggapi.
Laura yang kini membaca sebuah pesan dari pengawal, seketika berpikir jika Christian tadi tidak berbohong saat terlihat panik ketika berpamitan ada masalah urgent di perusahaan.
'Jadi, dia benar-benar kembali ke perusahaan? Memangnya apa yang terjadi? Apa ada masalah besar yang dialami perusahaannya?' Laura kini berpikir ingin mencari tahu keadaan perusahaan Christian dan berniat untuk mengakuisisi jika benar-benar sedang bermasalah.
Kini, ia mengirimkan balasan untuk pengawal agar melanjutkan penyelidikan.
Tetap di sana sampai pria itu keluar dan cari tahu semua informasi mengenai perusahaan Christian. Kalau bisa, suap siapapun yang bisa membocorkan informasi mengenai perusahaan itu.
Setelah membaca ulang pesannya tidak ada yang salah, kini Laura langsung memencet tombol kirim dan mengembalikan pada Mario.
Ia tidak perlu bercerita karena balasannya sudah mewakili semuanya. 'Aku juga akan merebut semua yang kau miliki hingga suatu saat kau menangis darah di kakiku, Christian!'
Laura yang kini makin bersemangat untuk membuat perusahaan Christian bangkrut dan diakuisisi, berpikir keras untuk mencari sebuah ide agar memudahkan rencananya.
Hingga ia kini seketika mempunyai sebuah ide dan membuatnya yakin bisa dengan mudah menghancurkan perusahaan Christian. Bahkan kini sudah tersenyum simpul saat merasa idenya akan membuatnya makin dekat menghancurkan perusahaan Christian.
'Tunggu kehancuranmu, Christian. Suatu saat nanti, kau akan menyadari bahwa wanita yang kau anggap lemah ini telah berubah menjadi iblis tanpa hati yang hanya ingin menghancurkanmu.'
To be continued...
__ADS_1