
Suasana pagi hari di rumah sederhana lantai dua, kini terlihat sangat sunyi karena sama sekali tidak ada para pelayan yang sibuk menjalankan pekerjaan masing-masing dari rumah itu.
Rumah baru yang dihuni Christian memang belum memperkerjakan pelayan. Christian sengaja ingin berduaan dengan Laura sebagai pengantin baru dan tidak ingin ada orang yang mengganggu momen-momen romantis mereka bersama.
Jika di rumahnya yang ditempati bersama dengan Ana, ada banyak pelayan yang bekerja. Namun, di rumah baru bersama dengan Laura tidak ada satu pun pelayan yang akan melayani sang majikan.
Christian ingin berduaan dengan Laura sampai seminggu ke depan dan akan mengerjakan pekerjaan rumah sendiri serta menjadikan sang istri menjadi ratu.
Ketika pertama kali menikmati malam pertama dengan Laura, ia ingin membuat sang istri mengeksplore diri ketika bercinta dengannya tanpa harus menahan diri ketika menjerit, merintih dan mendesah saat menikmati sensasi kenikmatan yang diciptakannya.
Seperti yang diharapkannya, ia benar-benar merasa senang ketika berhasil membuat Laura semalam tidak berhenti menjerit ketika membuat sang istri merasakan *******.
Christian bangun pagi-pagi sekali dan langsung turun untuk menyiapkan sarapan. Ia yang tadinya terbangun dan melihat wajah damai Laura yang tidur di sebelahnya, tidak berkedip menatap wanita yang membuatnya berjanji untuk tidak akan pernah melepaskannya.
Ia berjanji untuk tetap merantainya dengan cintanya dan tidak akan pernah melepaskan. Melakukan apapun demi bisa membuat Laura tetap bersamanya saat mengetahui jika ia adalah seorang pria beristri.
Pagi ini ia ingin mengawali hari dengan sesuatu yang manis, yaitu menyiapkan sarapan karena tidak ingin kelaparan.
Kini, Christian sudah berada di dapur dan mengusap perutnya yang kelaparan. "Aku terlalu banyak memforsir tenaga semalam. Hingga pagi-pagi sekali sudah kelaparan. Pasti Laura juga. Gara-gara fokus bercinta, aku dan dia sampai lupa bahwa semalam belum makan."
Ia kini membuka mesin pendingin dan menatap sejenak bahan-bahan yang akan digunakan untuk memasak sarapan. Kemudian otaknya langsung bergerak untuk memutuskan akan memasak sebagai menu sarapan bersama dengan sang istri.
Christian membuat menu sarapan yang populer di seluruh Amerika Serikat. Itu adalah menu favorit di keluarganya yang selalu dibuat khusus oleh sang ibu dulu dan sangat merindukan momen-momen itu.
Berharap Laura nanti menyukai masakannya dan ia bisa mengulang masa-masa ketika makan di meja makan. Kini, Christian sudah mulai sibuk di depan kompor dan ia terlihat fokus untuk memasak.
Berharap saat sang istri bangun, ia sudah menyelesaikan pekerjaannya yang ingin memasak sarapan.
Sementara itu di dalam ruangan khusus yang menjadi saksi bisu percintaan panas pasangan suami istri tersebut, kini terlihat sebuah pergerakan dari seorang wanita yang sudah miring ke kanan dan merasakan ada sesuatu yang kurang.
Sosok wanita yang tak lain adalah Laura masih memejamkan kedua matanya, tetapi tangannya meraba area sekitarnya dan tidak menemukan sesuatu yang dicarinya, sehingga ia seketika membuka kelopak mata.
"Suamiku ke mana? Jam berapa ini?"
Kini, ia turun dari ranjang dan meraih kemeja yang teronggok di lantai karena buru-buru, sehingga hanya memakai asal.
Satu-satunya hal yang ingin segera dicari tahu olehnya adalah keberadaan sang suami. "Kenapa suamiku tidak membangunkanku? Aku malah terlihat seperti seorang wanita pemalas karena suami sudah bangun, tapi aku masih tidur."
Laura menepuk jidat karena merasa tidak enak pada sang suami yang sudah tidak ada di kamar. "Kira-kira apa yang tengah dilakukan suamiku?"
Kemudian ia berjalan keluar dari ruangan kamar dan menuruni anak tangga. Namun, ia mengerutkan keningnya kala mendengar suara sesuatu di area belakang
Laura yang merasa sangat penasaran dengan apa yang dilakukan sang suami dan saat berjalan ke dapur, mencium aroma wangi makanan.
Ia merasa yakin jika sang suami tengah memasak, sehingga terus berjalan ke ruangan dapur untuk memeriksa pria yang semalam membuatnya merasakan sensasi berputar lepas kendali hingga tubuh remuk redam, memasak apa di dapur.
Hingga saat ia melihat siluet belakang punggung lebar sang suami, membuatnya refleks tersenyum simpul dan diam-diam mendaratkan tubuhnya di kursi.
__ADS_1
Ia tadi merasakan nyeri pada bagian intinya dan saat duduk, juga merasakan hal sama dan berniat untuk protes pada pria itu.
'Lihatlah suamiku yang sangat seksi itu. Aku benar-benar sangat beruntung memiliki seorang suami yang sangat mencintaiku. Aku akan berusaha menjadi seorang istri yang berbakti dan melayani sebaik mungkin.'
Saat ia sibuk bergumam sendiri di dalam hati sambil tidak berkedip menatap siluet belakang sang suami yang sedang fokus memasak, beberapa saat kemudian ber-sitatap dengan iris tajam itu.
Ia tersenyum sambil melambaikan tangan. "Pagi, Sayang. Kenapa tidak membangunkan aku? Aku jadi merasa menjadi seorang istri tidak berguna saja saat melihatmu memasak, tapi aku tidak tahu apakah di masa lalu pernah memasak," ucap Laura yang kini beralih menatap ke arah sesuatu di tangan sang suami.
"Kamu memasak apa, Sayang?"
Christian sangat terkejut karena sama sekali tidak mendengar suara dari wanita yang terlihat seperti sangat menyesal itu. Ia hanya tersenyum simpul dan tidak ingin membuat sang istri merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, Sayang. Aku tidak tega membangunkanmu karena terlihat damai saat tertidur pulas. Lagipula kamu pasti kecapekan karena semalam melayaniku. Aku membuat sarapan seadanya. Semoga suka. Sebentar."
Kemudian Christian kini mengambil piring dan memasukkan menu sarapan di atasnya.
Laura yang kini patuh pada perintah sang suami, tidak berkedip menatap pria yang terlihat menghidangkan makanan. 'Aku ingin makan disuapi seperti saat berada di rumah sakit. Apa suamiku tidak keberatan melakukannya?'
'Aku rasanya sudah terbiasa makan disuapi suami, tapi apa ia tidak merasa ilfil padaku jika aku memintanya?' Laura masih merasa ragu untuk mengungkapkannya pada pria yang terlihat fokus menghidangkan makanan.
Hingga beberapa saat kemudian, Christian mengarahkan piring berisi makanan yang dimasaknya. "Cobalah, Sayang. Aku memasaknya khusus untukmu dengan bumbu-bumbu cinta."
Laura hanya tertawa kecil karena merasa sikap pria yang masih berdiri di hadapannya tersebut sangatlah lebay. Hingga ia pun menggelengkan kepala.
Christian memicingkan mata melihat Laura menggelengkan kepala. "Kenapa? Kamu tidak mau makan masakanku karena berpikir tidak enak ya?"
Kembali Laura menggelengkan kepala dan tidak ingin ada kesalahpahaman. "Aku ingin disuapi karena terbiasa makan dari tanganmu ketika berada di rumah sakit."
"Baiklah. Aku akan menyuapimu setiap hari." Christian kini mengambil satu sendok makanan dan menyuapkan ke dalam mulut yang sudah terbuka itu.
Laura kini sudah mengunyah makanan yang seperti roti dengan disiram saus di atasnya melumer di dalam mulut. Wajahnya seketika berbinar karena merasa jika itu sangat lezat.
"Wah ... ini enak sekali, Sayang." Refleks Laura merebut sendok dari tangan sang suami dan langsung mengambil makanan, lalu menyuapkan ke dalam mulut. "Aku ingin segera menghabiskannya."
"Dasar!" Christian selalu merasa gemas dengan sikap lucu Laura ketika menunjukkan wajah polosnya. Bahkan ia sudah mencubit gemas pipi putih sang istri yang tengah mengunyah makanan.
"Habiskan makanannya. Aku memasak banyak untukmu. Syukurlah kamu suka dengan masakanku. Saat aku belum bekerja, akan memasak untukmu, tapi saat sudah kembali bekerja, pelayan yang akan memasak. Jadi, kamu tidak perlu melakukan apa-apa."
Christian berniat untuk mengungkapkan sesuatu yang direncanakannya agar Laura mengerti jika nanti ia meninggalkan selama beberapa hari ketika bersama dengan Ana Maria.
"Bekerja? Kebetulan aku pun ingin tahu, kamu bekerja di mana, Sayang? Apakah kamu bekerja di salah satu perusahaan? Lalu, posisimu sebagai apa?" Laura yang merasa sangat penasaran dan tertarik dengan apa yang dikatakan oleh sang suami, kini menghentikan ritual sarapan.
Di sisi lain, Christian merasa khawatir jika Laura nanti tidak bisa menerimanya, sehingga ragu-ragu untuk memulai pembicaraan. Namun, cepat atau lambat ia harus menceritakannya dan berpikir hari ini adalah saat paling tepat.
"Jadi, aku bekerja di salah satu perusahaan yang ada di Jakarta dan Bandung sebagai seorang wakil presiden direktur. Sementara pemiliknya kini ada di Jakarta. Namun, aku seringkali ditugaskan untuk mengecek anak cabang yang ada di New York."
"Jadi, sewaktu-waktu jika aku ke New York, kamu tidak akan sendirian saat ada pelayan di sini." Christian kini melihat raut wajah yang tadinya berbinar saat menikmati makanan, kini berubah muram.
__ADS_1
Tentu saja ia sudah menduga akan hal ini dan membuatnya tidak tega melihatnya. "Sayang, aku biasa pergi hanya beberapa hari saja. Setelah semuanya selesai, akan cepat pulang. Jadi, kamu tidak perlu khawatir."
"Aku tahu itu, tapi belum apa-apa saja sudah membuatku merasa sangat kesepian. Aku sudah terbiasa bersamamu saat membuka mata. Bagaimana aku bisa menjalani hari tanpamu?" Laura seketika merasa sesak dan bola matanya berkaca-kaca.
Ia bahkan sudah membayangkan jika nanti akan terbangun sendirian tanpa melihat sosok pria yang selama ini selalu mengucapkan selamat pagi padanya dan tersenyum sangat manis.
"Maafkan aku karena malah bersikap berlebihan seperti ini, seolah kamu pergi selamanya dariku saja. Padahal sebagai seorang istri yang baik, aku harus mendukungmu sepenuhnya saat mencari nafkah. Apalagi biaya rumah sakit yang tidak sedikit, pasti menguras banyak simpananmu."
Laura kini berusaha untuk menormalkan perasaannya karena tidak ingin membebani perasaan seorang pria bak Dewa penolong dalam hidupnya tersebut.
Bahkan ia mengusap kasar wajahnya yang dihiasi bulir kesedihan. Hingga ia merasa sangat terharu mendapatkan perlakuan sangat lembut dari pria yang langsung memeluknya sangat erat.
"Maafkan aku, Sayang karena tuntutan pekerjaan, membuatku tidak bisa selalu bersamamu, tapi ini juga aku lakukan demi kamu. Aku ingin memberikan semua yang terbaik untukmu." Christian mengusap lembut lengan di balik kemeja miliknya.
Ia merasa menjadi seorang penipu di dekat Laura karena setelah wanita itu mengalami amnesia, memulai hubungan dengan sebuah kebohongan.
'Laura, maafkan aku karena menipumu. Suatu saat nanti aku berharap kamu mau memaafkanku, Sayang. Aku memang egois, tapi melakukan ini karena tidak ingin membuatmu terluka menjadi istri siriku.'
Christian benar-benar tidak tega melihat Laura yang masih bersimbah air mata. Meskipun tidak menangis tersedu-sedu dengan tubuh bergetar, tetap saja ia tidak tega melihat seorang wanita meneteskan air mata.
"Menangislah dengan meluapkan semua yang kamu rasakan dan jangan menahannya, Sayang. Karena aku tahu jika menahan tangis sangat menyakitkan bagi seorang wanita." Saat baru menutup mulut, ia merasa tertampar begitu dibalas oleh Laura dengan tatapan mengintimidasi penuh kecurigaan.
Laura seketika menarik diri dari pelukan sang suami karena tiba-tiba dipenuhi pikiran negatif. "Tunggu! Tahu dari mana jika seorang wanita yang menahan tangis itu menyakitkan?"
Christian menelan saliva dengan kasar karena seperti terjebak dalam kebodohannya sendiri. 'Mati aku salah ngomong! Aku selama ini tahu itu karena Ana selalu mengatakannya padaku. Tidak mungkin aku mengatakan tahu dari Ana.'
Refleks Christian langsung mengambil ponsel miliknya di saku celana dan menghubungi wanita yang telah melahirkannya untuk menyelamatkan dari kecurigaan Laura.
Apalagi ia tahu jika sang ibu sangat senang ia menikah lagi demi bisa mendapatkan keturunan. Jadi, berniat untuk mencari perlindungan dari sang ibu dengan menelponnya.
"Sebentar, Sayang. Aku menelpon wanita yang memberitahuku tentang itu. Nanti kamu berbicara sendiri dengannya untuk memastikannya." Christian masih menunggu sang ibu menjawab.
Sementara itu, Laura kini mengerutkan kening karena tengah memutar otak untuk mencari jawaban. Hingga ia seketika bisa menebak apa yang dikatakan oleh sang suami begitu mendengar suara bariton pria di sebelahnya.
"Halo, Ma. Istriku ingin bertanya pada Mama." Christian kini langsung memberikan ponsel miliknya kepada Laura.
Di sisi lain, Laura yang saat ini tengah merasa bingung harus bagaimana, refleks menggelengkan kepala sambil berbisik. "Tidak! Aku belum siap bicara dengan mertua. Jangan mengerjaiku."
Christian yang saat ini tersenyum menyeringai, kini hanya menggelengkan kepala karena ingin Laura berbicara dengan sang ibu. "Tidak bisa, Sayang. Kamu tetap harus berbicara dengan Mama."
Kemudian ia menekan loudspeaker agar Laura bisa mendengar suara sang ibu dari seberang telpon.
"Halo, Menantu. Bagaimana keadaanmu, Sayang. Kamu sudah baikan, bukan? Maafkan Mama dan papa yang belum bisa menjengukmu karena sedang berada di luar negeri. Setelah kami kembali, pasti akan datang. Memangnya apa yang ingin kamu tanyakan pada Mama?" tanya wanita paruh baya di seberang telpon yang ingin sekali mendengar suara dari sang menantu.
Laura yang dari tadi mencubit pinggang sang suami karena tidak mau menuruti keinginannya. Ia benar-benar sangat gugup karena ini adalah pertama kali berbicara dengan mertua yang sama sekali tidak diingatnya karena amnesia yang diderita.
"Halo, Ma. Aku sekarang baik-baik saja, Ma karena ada suami yang menjagaku dengan baik. Mama tidak perlu memikirkan hal itu, yang penting pekerjaan di sana berjalan lancar. Lupakan saja perkataan suamiku tadi karena hanya bercanda." Laura benar-benar sangat kesal ketika melihat sang suami malah tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
'Suamiku menyebalkan sekali. Membuat aku malu di depan mertua saja,' gumam Laura dengan raut wajah masam sambil kembali mencubit pinggang kokoh pria itu.
To be continued...